www.imay manis saja.com
IMPAL
Sejak pesawat mendarat di bandara Polonia, Medan, aku sudah semakin gusar. Bayangan kampung halaman semakin jelas. Tentu saja bayangan itu agak stagnan, karena setelah puluhan tahun pergi, baru ini kesempatanku pulang. Maka tak heran kalau rasa rindu dan sebagainya bercampur-baur menjadi kegelisahan.
Aku tak ingin berkomentar tentang Polonia, sebab aku tidak begitu mengenalnya. Dulu, ketika berangkat ke tanah Jawa, aku tidak lewat jalur ini, tapi menggunakan kapal laut, lewat pelabuhan Belawan. Itu sebabnya aku biasa-biasa saja. Tak ada kenangan apapun di bandara ini.
Melintasi Padangbulan, kenanganku mulai bermunculan. Suasananya mulai akrab. Aku bisa leluasa, karena sejak dari Jakarta aku sudah memesan mobil sewaan, sebuah kijang yang paling pas untuk perjalanan dari Medan menuju Sidikalang, ibukota Kabupaten Dairi.
¨Abang tidur saja kalau ngantuk. Nanti kalau sudah di Kabanjahe atau Merek, saya bangunkan, ¨kata supir yang begitu cepat mengakrabkan diri.
¨ kayaknya lebih baik nggak tidur. Aku mau menikmati perjalanan ini. Mau lihat-lihat perkembangan macam-macam,” jawabku.
Supir bernama Udin itu manggut-manggut. ”Apalah perkembangan di kampung kita ini, Bang, tak ada. Sama saja seperti dulu,” jawab Udin.
Aku tersenyum.
Aku beruntung dapat flight pagi dari Jakarta, sehingga perjalanan menuju Sidikalang bisa siang hari. Medan - Sidikalang jaraknya 153 kilometer, melewati tanah Karo yang terkenal sebagai kota sayur mayur dan buah-buahan, atau lembah-lembah yang masih dipenuhi pepohonan tua dan sudah meraksasa. Ditingkahi pula oleh desir angin yang begitu sejuk.
Ah! Sungguh, semua ini seperti kembali ke masa lalu.
Ketika melewati Berastagi, aku menyempatkan mampir di sebuah warung penjual kue wajik. Kue kesukaanku yang dulu setiap ayahku ke Medan, pasti membelinya untukku dan adik-adikku. Warungnya biasa saja, tapi bagi penggemar, ini pilihan yang sangat bagus. Selalu tersedia kue wajik yang warnanya coklat kehitam-hitaman. Rasanya, luar biasa.
Kami tidak mampir makan. Kabanjahe kami sisir dari pinggir, jadi tidak masuk kota. Saya bilang kepada Udin, supaya cepat-cepat sampai di kota Merek. Kangen menikmati jagung bakar yang dijajakan penjual dengan mendatangi jendela-jendela mobil yang biasa berhenti atau melambat di sana.
” Semakin sempurna rasanya ketika jagung bakar aku gigiti, mobil melaju meninggalkan Merek, dan di sisi kiri, mulai kunikmati pemandangan yang tak ada taranya. Danau Toba, nun jauh di sana, biru berselimut kabut tipis. Dari dulu selalu kukatakan kepada siapa saja, memandang danau Toba yang paling indah adalah dari sisi jalan menuju Sidikalang lewat Merek ini.
Itu yang terakhir aku ingat, sebab kemudian, aku dibangunkan Udin. Ternyata aku tak mampu juga menahan rasa kantuk. ”Bang, sudah sampai Sidikalang. Kita ke mana nih? ” Tanya Udin.
” ya.. ya. Terus sedikit lagi. Ini baru Batangberuh. Nanti kita belok kiri ke Barisan Nauli,” jawabku sambil mengucek-ucek mata.
Dan, ketika mobil belok kiri, melaju sedikit lagi, hingga tiba di depan rumahku, aku menarik nafas panjang. Tak ada yang berubah. Suasananya, hampir sama seperti dulu. Barangkali yang drastis berubah adalah lelaki yang duduk bersandar di tiang teras rumah itu. Ah, aku ingin buru-buru lompat dari mobil dan memeluknya. Dia ayahku. Tak seperti dulu. Keriput di kening, pipinya yang menurun, rambutnya yang memutih”Ah”kenapa hanya dia yang berubah?
Ayahku seperti tidak percaya bahwa yang berdiri di depannya ini adalah anak pertamanya. ”Kau”hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Sungguh, aku berharap ayahku berdua di situ, dengan ibuku yang sangat kurindukan. Tapi, sepuluh tahun lalu aku dikabari ibuku telah pergi selamanya. Aku pun tak sempat pulang.
Ayah memelukku dan menitikkan airmata. Kami berjalan ke ruang tamu. Udin mengurusi barang bawaanku, dan membawanya masuk.
”Kamu ini kayak siluman. Hilang, dan muncul tanpa bisa diduga,” komentar ayahku.
Aku tak menjawab. Cuma mengangguk-angguk sambil mengurut-urut tangan ayahku, yang juga sudah keriput.
”Ayah malas menghitung berapa lama kau pergi. Lebih baik ayah tanya, apa yang sudah kau dapat dalam perjalanan panjangmu?” komentar ayah, ketika kami sudah santai, dan menikmati kopi Sidikalang yang amat sangat terkenal itu.
”Setidaknya, aku masih hidup, ayah. Artinya, aku bisa mempertahankan hidup.”
”Sudah kaya kamu?”
”Amin” jawabku, ”Kaya itu tak ada batasan. Apa yang saya dapat dan saya punya sekarang sudah menjadi kekayaan yang harus disyukuri. Bukankah itu nasihat ayah sejak dulu? Selalu mengajarkan bagaimana mensyukuri apa yang diberikan Tuhan?”
Ayah tersenyum.
Saat malam menyelimuti Sidikalang yang dingin, aku, ayah, adik-adikku, dan beberapa kerabat yang bekumpul karena tahu aku pulang ngobrol di atas tikar yang digelar di ruang tamu. Aku tahu, ini pasti kurang enak buatku. Ada satu hal yang pasti menjadi isu serius, dan akan membuatku terpojok, tapi risiko itu memang harus aku tanggung.
Ayah yang memulainya. ”Kami selalu berharap kabar gembira dari kamu. Kamu tahu ayah ini sudah tua, sakit-sakitan. Sudah lama ingin menggendong cucu dari anak pertama ayah.”
Bah!
”Ingin tahu juga, apa yang membuatmu tidak memikirkan itu? Tidak memikirkan untuk berumah tangga.”
Aku tetap diam. Sebenarnya, kalau bisa jujur, pertanyaan inilah yang membuatku takut pulang, bahkan pada saat ibuku meninggal, inilah salah satu yang membuatku ketakutan.
”Kalau kamu tidak punya calon, sebetulnya kita sudah siapkan. Seperti kamu tahu, adat di suku Pakpak, seorang anak lelaki punya kewajiban menikahi anak pamannya. Kita menyebutnya menikahi impal (pariban)nya. Anak puhun (paman) kamu sudah kami dekati sejak dulu, dan dia tidak menolak. Puhun kamu juga pasti setuju, bahkan senang, ada anaknya dinikati oleh bebere (keponakan dari saudara perempuannya)nya.''
Bayanganku langsung ke Siti Hadijah, anak ketiga pamanku yang ada di Salak, sebuah kota yang bisa ditempuh sekitar setengah jam dari Sidikalang. Itu kampung halaman kami. Tapi terus terang, seperti apa Siti Khadijah, aku tidak punya memori.
”Ceritalah. Mungkin kami bisa membantu. Atau kau sebetulnya sudah punya calon? Nggak harus orang Pakpak. Yang penting, akhirilah masa lajangmu ini? Apalagi yang kau cari?” kali ini silih (abang ipar) anak paman yang lain yang bicara.
Aku menghela nafas. ” Beginilah. Berikan aku waktu semalam ini untuk berpikir. Besok, paling nggak sore, aku sudah punya jawaban,”akhirnya mulutku bisa bicara sesukanya.
Malam itu kami lewati hingga sangat larut. Pas di Sidikalang lagi musim durian, jadi kami pesta buah yang sangat kusukai itu. Kusebut pesta, karena hanya dengan seratus ribu rupiah, jumlah durian yang terbeli berlimpah. Masih ada yang harganya 500 perak.
Pagi sekali keesokan harinya, aku ingin menikmati semuanya sendirian. Si Udin yang sudah siap bertugas kuajak jalan. ” Di sini ada namanya Puncak. Kita nongkrong di sana, Din,” kataku.
Tak seorang pun yang berani menawarkan diri menemani. Jadi aku benar-benar melenggang berduaan dengan Udin. Mobil melaju dari Barisan Nauli menuju simpang Salak, berbelok ke kanan menuju Sidiangkat, dan tak jauh kami tiba di Puncak. Sungguh mencengangkan. Puncak ini adalah hutan, tapi kemudian disulap menjadi tempat nongkrong. Ada beberapa warung-warung kecil. Kalau kita lagi bernasib baik, dari Puncak ini akan kelihatan birunya laut Singkil, Aceh Selatan.
Bayangkan, di antara hutan rimba raya, di ujung paling jauh, ada bentangan laut biru. Hutan yang berlapis-lapis itu, sebetulnya sudah agak mengenaskan, sebab sebenarnya pembantaian konon sudah berlangsung agak lama. Sudah bukan cerita baru kalau truk-truk pengangkut kayu bolak-balik di jalan raya sisi hutan ini membawa bongkah-bongkah kayu tebangan mereka. Entahlah, itu legal atau illegal.
Tak lama menikmati pemandangan alam yang luar biasa dan tiada duanya ini, pikiranku kembali ke persoalan yang tengah menggelayutiku. Siti Khadijah, ah! nama itu mulai menggangguku. Tapi yang lebih menggangguku sesungguhnya, kenapa persoalan menikah dan tidak menikahku menjadi masalah besar?
Bukan aku tak berusaha, tapi mungkin juga salahku yang terlalu memilih-milih. Beberapa kali ada nama yang mampir di hatiku, sama sekali tidak memenuhi syarat, dan aku sendiri tidak bisa menerjemahkan syarat itu secara konkret.
Aku sendiri tidak punya bayangan konkret dengan Siti Khadijah. Aku meninggalkannya ketika masih berusia 5 tahun. Masih bocah. Beda usia kami lebih 10 tahun. Ah ! Lagi-lagi aku menarik nafas. Puncak mulai agak ramai. Apalagi ini hari Sabtu, akhir pekan. Orang-orang berpasang-pasangan berdatangan. Rupanya tempat ini lebih banyak digunakan orang untuk santai berdua-duaan dengan pacar, atau sebagian rombongan anak-anak muda mengendarai sepeda motor.
”Bang”seseorang menyapaku. Sopan sekali. Sampai-sampai aku takut gede rasa, jangan-jangan bukan aku yang disapa, makanya aku menoleh kiri-kanan. ”Bang Marke, kan?”
Begitu dia menyebut namaku, baru yakin, akulah yang disapa orang ini. Ah! Ada bidadari yang muncul di tengah hutan seperti ini?
”Nggak ingat aku ya?”
Aku mengernyitkan dahi. Sumpah, aku tak ingat. Sama sekali. Tapi aku harus pura-pura mencoba mengingat. Setidaknya sikap itu bisa membuat bidadari ini tersenyum.
”Aku Rosa, Bang,”dia menyebut namanya.
”Bertepatan lagi main-main ke sini.”
” Ooo! sama. Kamu sendirian?”
”Ya. Naik kereta sendirian. Kan dekat,” dia menjelaskan. Entahlah dekat dari mana. Aku nggak sempat lagi menanyakan itu.
Kami langsung akrab. Duduk berduaan. Apalagi Udin yang sedari tadi di sebelahku sepertinya pengertian betul, langsung bergeser agak menjauh.
Banyak cerita Rosa ini, tapi sumpah, aku hanya menikmati kecantikan dan sopan santun yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Matanya, rambutnya, bibirnya, betisnya, ah!, Kok ada wanita seperti ini di kampung halamanku? pikirku terus-menerus.
Entah kenapa, aku jadi sangat terbuka kepadanya. Lebih dari sejam kami ngobrol ngalor ngidul, aku akhirnya harus keceplosan tentang pribadiku. ”Ya. Aku baru pulang. Semalam sudah ditodong keluarga, karena aku belum menikah sampai sekarang,”tuturku.
”O ya? Lalu?”
”Aku memang belum punya calon, dan akhirnya keluarga bersepakat menjodohkanku dengan impalku.”
”Abang mau?”
”Inilah yang aku pikirkan sekarang. Bukan soal mau tidak mau. Tapi aku sendiri belum pernah ketemu lagi dengan impalku itu. Entah seperti apa dia sekarang. Ini kan masalah besar. Bayangkan, kalau bertemu terus kemudian kita berdua merasa nggak cocok.”
Rosa tersenyum.
”Sebagai perempuan, apa yang kau bayangkan atas peristiwa yang menimpaku ini?” pancingku.
”Aku nggak bisa komentar. Tapi setidaknya, dari omongan abang sebetulnya abang ini begitu menghargai perasaan impal abang. Itu sudah luar biasa.”
”Maksudmu?”
”Abang tidak mau dia terluka, kalau pas ketemu tiba-tiba abang berubah pikiran.”
Aku menghela nafas lagi. Banyak hal yang menguntungkan sebetulnya, apabila aku memenuhi permintaan keluarga ini. Setidaknya almarhumah ibuku merasa bahagia di surga karena melihat aku memenuhi keinginannya yang sesungguhnya terpendam. Sejak kecil dulu, ibuku juga sering mengatakan, nanti kalau kamu sudah harus menikah, baiknya menikahlah dengan impalmu.
”Memangnya abang nggak punya pacar di Jakarta sana? Kan banyak yang cantik-cantik, Bang?”
”Entahlah. Selalu saja gagal kalau aku sudah mulai,” aku jujur. Dalam hati, kalau ketemu seperti Rosa ini, mungkin sudah lama aku punya pendamping.
Entah bagaimana awalnya, aku tiba-tiba berani menanyakan kepada Rosa, ”Kamu punya pacar?”
Dia menggeleng.
”Seandainya aku berani-beranian melamarmu?” entahlah, aku serius apa becanda. Rosa ketawa. Tapi ketika kudesak, dia hanya menunduk, dan di bibirnya masih tersisa senyuman.
Siang sudah berlalu. Puncak makin ramai. Aku seperti menemukan jawaban, dan akhirnya aku pamit pulang.
”O ya. Aku boleh minta nomor handphone?”
Rosa menggeleng lagi.
”Atau alamat rumahmu? Nanti malam aku boleh berkunjung?” aku menyerang.
Rosa mengangguk. Dia menuliskannya di balik kartu nama yang kusodorkan.
Kami berpisah.
Di rumah, semakin ramai keluargaku. Maklum, ayah begitu bangga mengumumkan, bahwa aku pulang. Yang mengagetkanku, ada puhun di sana. Ah, jangan-jangan Siti Khadijah juga ada. Mataku jelalatan ke sana-ke mari. Tidak ada.
Aku menyapa puhun dan mencium tangannya. Kami kemudian duduk sambil siap-siap makan pelleng (nasi kuning agak lembek, makanan khas orang Pakpak yang lauknya ayam berkuah kuning, ditimpali cabe merah yang pedas).
Aku begitu melahap makanan itu. Terakhir aku memakannya ketika berangkat ke Jakarta. Itu khas orang Pakpak, di setiap ada acara memberangkatkan anak ke rantau misalnya, selalu disuguhi makanan khas ini.
”Bapakmu sudah cerita kepada saya. Sekarang tergantung kamu, apakah setuju mempersunting Siti Khadijah?”puhun langsung ke pokok masalah.
Aku terdiam. Kubakar kretek untuk menghilangkan rasa galauku. Terus terang, wajah Rosa mulai menghantui pikiranku.
”Maaf puhun, dan semua,” akhirnya aku berani bicara. ” Kalau ada calon kira-kira jadi masalah tidak?”
Semua terbelalak. ”Tadi saya ketemu orang, dan langsung membuat saya gemetar. Saya sudah tanya, orang itu belum punya pasangan, bahkan mengakunya tidak punya pacar. Saya mau jajaki dulu,”aku lebih berani lagi.
Tak ada jawaban.
”Ini hanya saran saja,” kataku lagi.
Puhun menarik nafas. Sepertinya semua yang ada di ruangan saling menjaga perasaan. Aku mengerti itu, tapi kukira, mending di depan kita bicara pahit.
”Beginilah. Saya sudah bicara tadi pagi sama Siti Khadijah. Dia juga berpendapat sama dengan kamu. Dia tidak mau kamu kecewa, dan sebaliknya.
Jadi, bagusnya, kamu ketemu dulu sore ini. Kalian bicaralah. Kalau ternyata tidak cocok, itu masalah lain.”
Bijaksana sekali puhunku ini, dan aku langsung menyetujuinya. Toh, Siti Khadijah itu adalah anggota keluargaku, dan layak pulalah dia bertemu denganku.
”Lako mo, Murni, alengngi si Siti i asramana (bhs Pakpak, artinya, Pergi sana Murni, jemput Siti di asramanya).”
O ya, aku lupa memberitahukan, Siti Khadijah sekolah perawat dan tinggalnya di asrama.
Murni, adik di bawahku persis langsung bergegas. Kami kemudian ngobrol lagi tentang apa saja. Dan, hanya selang sepuluh menit, Murni sudah datang berdua naik motor.
Astaga! Siti Khadijah ini apanya Rosa? Aku terdiam. Sungguh, yang datang bersama Murni adalah Rosa yang tadi bertemu aku di Puncak. Astaga lagi, dia biasa-biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa.
”Hallo, Bang!” sapanya. Aku menyambut tangannya yang tadi sudah kusalami. Aku tidak bersuara. ”Kami akhirnya duduk bersebelahan. Kulirik ke luar pintu, Udin pun seperti orang bingung melihat adegan ini.
”Kalian sudah ketemu. Dua-duanya sudah tahu ceritanya. Lalu bagaimana?”tanya ayahku.
” Boleh kami jalan berdua sebentar saja?” tawarku.
Semua setuju. Saya menggamit tangan Siti Khadijah dan mengajaknya ke mobil.
” Mau ke mana, Bang?” tanyanya pelan.
Aku diam saja. Di mobil aku meledak tertawa. ”Ini ada apa?” tanyaku.
Sikap persis seperti Rosa yang kutemui di Puncak tadi. ”Maaf , Bang. Tadi aku sengaja seperti itu untuk tahu juga bagaimana sebenarnya abang. Begitu dikasih tahu ayah, aku tanya, abang di mana? Mereka kasih tahu lagi pergi, kayaknya ke Puncak. Makanya kususuli.”
” Ah! Jadi sekarang aku panggil Siti apa Rosa?”
Dia sudah berani mencubit tangannku.
” Belok kiri, Din! ”seruku, ketika di Batangberruh ada jalan kecil di depan surau tua.
”Ngapain ke sini?” tanya Siti.
Aku tidak menjawab.
Barisan batu nisan mulai bermunculan, berjejer di pemakanan umum ujung surau itu. ”Aku belum ziarah ke makan ibu.” kataku.
Aku tidak tahu persis posisi makam ibuku, tapi Siti tahu.
Di depan pusara itu, ingin rasanya menahan tangis, tapi aku tidak mampu. Aku menundukkan kepala. Agak lama, dan tak ada suara yang keluar dari mulutku.
Ketika Siti mendekat dan memeluk pundakku, aku merasa seperti mimpi. Aku memandang wajahnya. Matanya juga berkaca-kaca.
”Boleh aku bicara jujur di depan pusara ibuku?” desisku. Siti mengangguk dan semakin mempererat dekapannya.
” Ibu, maafkan anakmu. Hari ini aku datang bersimpuh di pusaramu, mudah-mudahan kau melihatnya, ibu. Aku tidak datang sendirian, tapi ditemani calon menantumu.”
Setelah itu aku diam termangu.
Siti makin erat mendekapku.