Kamis, 25 Agustus 2011

peleng

www.imay manis saja.com


"PELLENG" mmm..Uenak

Pelleng salah satu jenis masakan khas yang hanya dikenal di kalangan masyarakat Pakpak. Pelleng disajikan bila mana ada hajatan atau peristiwa-peristiwa dalam keluarga atau desa. Misalnya dalam tahapan produksi pertanian, hendak meminang, merantau, menjelang ujian, saat lulus, upacara menanda tahun, dan sebagainya. Pokoknya yang berhubungan dengan merkottas tidak lepas dari sajian pelleng. Tujuannya tergantung jenis peristiwa atau upacara. Bila hendak membuka ladang agar terhindar dari bahaya. Bila hendak merantau agar berhasil diperantauan. Bila hendak meminang agar pinangan diterima. Bila selesai panen, lulus ujian, diterima kerja sebagai ucapan syukur pada penguasa dan sebagainya. Pelleng bagi masyarakat Pakpak ada dua jenis, yaitu pelleng khas Simsim, Kelasen dan Boang serta pelleng khas Kepas dan Pegagan. Fungsi dan maknanya sama, yang membedakan hanya pengolahannya. Berikut akan dijelaskan bahan dan pengolahan pelleng khasn pertama.
Bahan-bahan:
1. Beras secukupnya.
2. Ayam jantan 1 ekor
3. Cabe merah
4. Asam cikala
5. Santan kelapa secukupnya
6. Arbuk
7. Bawang gandera,
8. Daun Salam
9. Serei dan bumbu lainnya
10. Garam secukupnya
Pengolahan: Beras dimasak layaknya menanak nasi tapi dikondisikan lebih lunak, selanjutnya dicampur dengan cara diaduk atau ditumbuk dengan kuah yang telah dimasak sebelumnya yang disebut lae asem. Kuah (lae asem) dibuat dari asam cikala, bumbu dan santan kelapa. Secara terpisah ayam digule tanpa mencincang tapi harus mersendihi sebagai lauknya. Arbuk dibuat dari beras yang digonseng selanjutnya ditumbuk, diayak dan dimasak dengan kuah ayam gule hingga kental. Tek-tek adalah bagian-bagian tertentu dari ayam yang dicincang untuk dijadikan lauk bersama arbuk di atas pelleng yang disajikan. Penyajiannya dengan cara menyendok pelleng keatas piring lalu dibentuk sedemikian rupa, lalu diatasnya ditaruh tek-tek bersama arbuk ditambah lalap cabe merah di atasnya. Kadang-kadang ditambah dengan lalap petai atau jengkol.
Posted By : Samudera Berutu
Dikutip dari Majalah/Buletin Rintis Prana Edisi-VII Thn ke-II (April-Mei) 2000

hendra ber cerita

www.imay manis saja.com


KISAH KUTA NANGKA

Desa Kuta Nangka yang berada di kecamatan Tanah Pinem, kabupaten Dairi, merupakan salah satu desa yang didirikan oleh suku pakpak/dairi. Desa ini didirikan oleh marga Ujung yang konon katanya berasal dari daerah Kalang Simbara yang berada tidak jauh dari kota sidikalang (terletak di kota sidikalang). Awal kedatangan marga Ujung ke daerah ini, pada mulanya adalah untuk mencari saudara mereka yang dulunya pernah merantau, dan sampai saat itu belum kembali ke kampung halaman mereka. Namun sesampainya di daerah Tanah Pinem, marga Ujung yang sedang mencari saudaranya yang hilang, mengetahui bahwa saudara meraka yang pernah merantau ke daerah ini, telah lama meninggal karena dibunuh oleh warga masyarakat setempat. Mengetahui saudaranya telah dibunuh, maka marahlah Marga Ujung kepada masyarakat yang berada di desa itu (sekarang Desa Kutagamber yang konon menurut cerita penghulunya adalah bermarga Pinem). Mengingat marga Ujung mempunyai ilmu kanuragan yang tinggi, membuat warga masyarakat desa Kutagamber meminta berdamai saja, tanpa harus terjadi pertumpahan darah, dan tanda damai yang mereka sepakati, maka marga ujung diberikan sebidang tanah di daerah tinggi desa Kuta gamber yang sekarang bernama kutanangka. Selain memberikan sebidang tanah, maka mereka juga mengikat sebuah perjanjian persaudaraan dan dengan ikatan persaudaran tersebut, maka anak keturunan mereka tidak boleh saling kawin mengawini secara turun temurun, karena Oleh sebab itulah sampai saat ini marga Ujung masih tetap tinggal di desa Kutanangka, dan mereka telah beranak cucu, dan menyebar ke daerah-daerah lain di kecamatan Taneh Pinem, seperti desa lau tawar, rante besi, dan juga ada yang sampai ke Kabupaten Karo. Namun sangat ironis ketika saat sekarang ini, cucu-cucu dari keturunan marga Ujung yang tinggal di desa Kutanangka, tidak dapat lagi berbahasa Pak-Pak, namun hanya bisa berbahasa Karo. (kiriman dari "Alexander Firdaust" Penulis: Cucu Dari Nenek Beru Ujung Wasalam

karyaku sejarahku.com

www.imay manis saja.com


LEGENDA SIMBUYAK-MBUYAK

Pada masa dahulu, di tanah Dairi ada sebuah negeri Urang Julu namanya. Di negeri itulah hidup sebuah keluarga terdiri dari sembilan orang yaitu ibu, bapak dan tujuh orang anaknya. Negeri itu besar dan penduduknya banyak. Nama anak-anaknya itu mulai dari yang paling tua berturut-turut adalah Simbuyak-mbuyak, Turuten, Pinayungen, Maharaja, Tinambunen, Tumangger dan Anak Ampun. Adapun si sulung cacat tubuhnya sejak lahir, yaitu tulang belakangnya sangat lemah. Karena itu dia tak bisa berdiri apalagi berjalan seperti saudara-saudaranya yang lain. Melihat keadaan si sulung yang demikian, orang tua itu dengan bijaksana menasehati anak-anaknya; " Manusia memang menginginkan yang sempurna dan yang baik, tapi Tuhan yang menciptakan kita lebih berkuasa dan lebih menentukan. Jika dikehendakinya dikuranginya kesempurnaan kita, dan jadilah kita seperti abangmu itu. Tetapi walau bagaimana dia adalah yang tertua diantara kalian. Dan dia juga adalah ciptaan Tuhan. Karena itu kalian harus tetap hormat sebagaimana layaknya adik-adik kepada abangnya. Dan jika itu kalian tidak lakukan , maka kalian akan berdosa menurut pandangan Tuhan Yang Maha Pencipta, karena telah membeda-bedakan ciptaan-Nya. Dan semua nasehat itu dilaksanakan dengan baik oleh keenam anaknya itu. Demikianlah ketujuh bersaudara itu hidup rukun dan damai, saling hormat-menghormati satu sama lain. Lama kelamaan meningkat dewasalah anak-anak itu dan sebagaimana biasanya di Tanah dairi, maka pemuda-pemuda yang sudah meningkat dewasa haruslah meninggalkan kampung halaman, merantau ketempat-tempat sekitar, mencari nafkah untuk hidup. Bermacam-macam pekerjaan yang dapat dilakukan pemuda-pemuda pada waktu itu, dan bahkan juga sampai sekarang ini. Umpamanya mereka mencari kemenya, mengambil mayang ataupun mengumpulkan kapur barur di hutan. Ketika itu kapur barus sangat bagus harnya, harganya berimbang dengan harga emas. Hanya emas yang ada waktu itu adalah yang rendah mutunya, yakni 8 karat saja. Demikianlah adik Simbuyakmbuyak telah bertekat hendak pergi merantau mencari kapur barus. Ketika hal itu diberitahukan mereka kepada abangnya itu, maka siabang ini pun menyatakan keinginannya, agar diajak turut bersama-sama. " Kalian ikutkanlah aku dalam rombongan. Setidak-tidaknya aku akan dapat menjaga gubuk kalian pada waktu kalian pergi ke hutan". Begitulah kata Simbuyak-mbuyak kepada adik-adiknya. Akhirnya mereka pun setuju, begitu pula kedua orang tua mereka. Maka berangkatlah ketujuh bersaudara itu. Perjalanan mereka amat sulit, karena melalui hutan dan lembah serta gunung-gunung. Apalagi dalam perjalan itu mereka harus menggendong abangnya secara berganti-ganti. Dan ditempat-tempat tertentu seperti pendakian dan penurunan, Simbuyak-mbuyak mereka tandu bersama-sama. Lama kelamaan sampai jugalah mereka ke hutan yang banyak menghasilkan kapur barus. Mereka memilih lereng gunung Sijagar, tempat membuat gubuk untuk ditinggali selama mencari kapur barus itu. Tempat yang mereka pilih itu tepat dipertengahan lereng gunung itu , sesuai dengan permintaan abang mereka Simbuyak-mbuyak. Caranya mereka menentukan tempat itu ialah dengan jalan mengukur jarak dari kaki sampai ke puncak Gunung. Tepat dipertengahan jarak itu, di lereng gunung Sijagar mereka bangun gubuk. Kayu-kayu yang selama ini dipakai untuk pemikul Simbuyak- mbuyak mereka tanamkan dimuka gubuk. Tak lama kemudian tumbuhlah disana pohon-pohon yang rimbun. Sampai sekarang ini jenis kayu yang berasal dari tanaman Simbuyak-mbuyak dan adik-adiknya itu masih ada disana, begitu juga bekas tempat perumahan mereka. Dari Gunung Sijagar kalau dilayangkan pandang, maka akan jelas terlihat daerah Manduamas dan Boang terbentang luas. Dan jika pandang diarahkan ke tempat yang lebin jauh , mata kita akan tertumbuk denga laut lepas Samudera Indonesia. Di kedua lereng gunung Sijagar mengalir dua buah anak sungai . Keduanya bersatu menjadi sebuah sungai yang lebih luas di dataran rendah, dinamakan sungai Sijagar. Sungai ini kemudian bermuara ke laut. Air sungai Sijagar sangat jernih dan bening, dan rasanya sejuk serta segar. Adapun kebiasaan orang mencari kapur barus ialah sepakat, seia sekata . Adalah pantangan bagi mereka untuk bertengkar dan bersengketa bagi mereka sesama pencari kapur barus. " Hanyalah orang seia sekata saja yang mungkin berhasil dalam usaha mereka ", demikian petua yang harus dipegang teguh oleh para pencari kapur barus itu. Keenam adik Simbuyak-mbuyak mulailah mencari kapur barus ke dalam hutan. Simbuyak-mbuyak sendiri tinggal di gubuk. Sebagai pengisi waktu dia bekerja memintal tali. Ternyata hasil yang diperoleh adik-adiknya itu tidak sebanyak yang diharapkan. Beberapa lama mereka bekerja keras mengumpulkan kapur barus hasilnya tetap mengecewakan mereka. Ada satu hal lagi yang menambah kekecewaan Simbuyak-mbuyak, yakni hasi yang sedikit itu sering-sering habis dimakan abangnya itu. Dengan demikian hanya sedikit saja kapur barus yang dapoat mereka kumpulkan di gubuk mereka. Pada mulanya mereka masih dapat bersabar melihat tingkah laku abangnya. Tetapi lama kelamaan habis juga kesabaran mereka. Pada suatu kali berkata Si Turuten : " Keadaan kita memang tidak adil. Kita semua bekerja keras, tetapi abang kita yang enak-enak saja memakani hasil-hasil yang berdikit-dikit kita kumpilkan. Jika begini terus-terusan, akan sia-sia sajalah jerih payah kita." Apa yang dikatakan Si Turuten dapat dibenarkan oleh yang lain, namun demikian Tinambunen dan Tumangger tetap berusaha menyabarkan . " Kita jangan sampai berselisih", kata yang berdua itu kepada yang lainnya. Kemudian ditunjukkannya jalan, " Jika kesepakatan sudah tidak dapat diteruskan, daripada berselisih ditengah hutan ini, lebih baik pulang saja kerumah orang tua". Akhirnya mereka setuju untguk meneruskan usaha-usaha mencari kapur barus itu. Simbuyak-mbuyak sendiri mengetahui ada rasa tidak senang pada beberapa orang adiknya. Tetapi dia selalu saja berbuat seolah-olah tidak tahu. Dan jika ditanya adiknya apa guna tali yang dipintalnya itu, dia tidak mau menjelaskan, kecuali berkata : " Tunggulah, pada suatu saat nanti, tentu tali ini akan berguna untuk kita semua". Rupanya Simbuyak-mbuyak bukan manusia biasa. Malam hari ketika semua adiknya sudah tidur lelap, maka pergilah dia ke luar menjelajahi hutan. Dia dapat mengetahui mana-mana diantara pohon itu yang berisi kapur barus dan yang tidak. Bahkan dapat juga diketahui sampai bnerapa banyak kapur barus yang ada di dalam pohon . Namun hal itu tidak pernah diceritakannya kepada adik-adiknya. Dipihak adik-adiknya rasa tidak puaspun terus berkembang. Karena tidak ada lagi jalan lain, maka pada suatu kali di desaknyalah abangnya itu agar mengizinkan mereka pulang , dengan alasan untuk mengambil uang belanja ke kampung. " Paling lama kami akan pergi selama lima malam, dan sesudah itu kami akan berada kembali disini", demikian kata mereka. Simbuyak menjawab " Jika memang demikian cara yang baik dan yang kita sepakati , maka saya dapat menerimanya". Pergilah kalian pulang, dan biarkan saya tinggal sendiri di gubuk ini", katanya. Hanya permintaannya , kalau durian istimewa milik mereka dikampung sudah berbuah ranum, agar dia dijepu ke Sijagar. Pada waktu itulah dia akan turut pulang guna berpesta dikampung memakan durian dan memotong ternak peliharaan mereka. Jarak antara Sijagar dengan kampung Urang Julu, kira-kira dua hari perjalanan, Karena itu timbul rasa kasihan dihati Tirambunen dan Tumangger terhadap abangnya yang cacat itu hendak ditinggalkan sendirian di dalam hutan. Yang berdua ini meminta supaya diperbolehkan tinggal untuk menemani Simbuyak-mbuyak. Hal itu tidak disetujui oleh Turuten, juga oleh Simbuyak-mbuyak. Tinambunen dan Tumangger mendesak lagi, agar sebaiknya abangnya yang paling tua itu dibawa saja pulang. " Kami berdualah yang menggendongnya selama dalam perjalanan", kata yang berdua itu. Usul inipun tidak disetujui oleh yang lain. Begitu pula Simbuyak-mbuyak nampaknya lebih suka ditinggalkan dari pada dibawa pulang ke kampung. " Adikku yang aku sayangi", katanya. " Kalian pulanglah bersama-sama. Itulah tandanya seia sekata. Mengenai diriku janganlah kalian susahkan benar. Tinggalkanlah kapur barus yang ada itu untuk bekalku. Jika kalian sampai bertengkar karena keadaanku, itu tidak baik. Tuhan telah menjadikanku dalam keadaan begini. Dan jika karena itu kalian bertengkar itu artinya kita menyesali Maha Pencipta. Tuhan akan marah, dan orang tua kitapun akan marah terhadap tingkah laku kita itu". Begitulah kata Simbuyak-mbuyak kepada adik-adiknya. Pulanglah keenam adik Simbuyak-mbuyak . Kedatangan mereka di Urang Julu disambut kedua orang tuanya dengan pertanyaan, mengapa sampai Simbuyak-mbuyak ditinggalkan sendirian ditengah hutan. Mereka menceritakan pengalaman selama mencari kapur barus dan mempersalahkan perbuatan abangnya. Mereka minta pula, agar sebelum berangkat kembali mencari kapur barus, diadakan dulu pesta makan durian istimewa , dan memotong hewan ternak. Tinambunen dan Tumangger mengingatkan akan pesan abang mereka , agar dijemput ke Sijagar, bila pesta akan diadakan. Maka berangkatlah keduanya. Tanpa menunggu datangnya Simbuyak-mbuyak, Turuten terus saja mengambil galah dan menjolok buah durian istimewa. Durian jatuh dan ternyata masih belum ranum seperti yang dipesankan oleh Simbuyak-mbuyak dulu. Keistimewaan durian yang sebatang itu ialah buahnya hanya satu, tapi bukan main besar dan enak rasanya. Jika buah itu dibelah, maka besar belahannya itu sampai dua hasta. Sesudah buah durian itu jatuh, maka disembelihlah hewan ternak yang paling gemuk, dan berpestalah keempat bersaudara itu dengan tidak disertai oleh saudara mereka yang tiga orang lagi. Di Sijagar, begitu adik-adiknya berangkat, Simbuyak-mbuyak segera menjelmakan dirinya sebagai seorang pemuda yang gagah dan tampan. Ketika pada suatu kali ia pergi mandi ke sungai, didapati beberapa kulit durian hanyut terapung-apung. Dan dengan ilmunya dapat ditangkapnya suara ternak yang disembelih di kampungnya. Sekarang tahulah ia, bahwa adik-adiknya sudah melangsungkan pesta di Urang Julu. Selesai mandi pulanglah Simbuyak-mbuyak ke gubuknya. Mulailah dia bekerja merentangkan tali yang selama ini dipintalnya. Tali itu dihubungkannya dengan semua pohon yang sudah terisi dengan kapur barus di hutan itu. Ada sebatang pohon yang penuh dengan kapur sejak dari akar sampai ke pucuknya. Pohon itu amat besar dan tinggi. Pohon itulah didoakan Simbuyak-mbuyak agar tumbang, dan doanya dikabulkan oleh yang Maha Kuasa. Setelah pohon besar itu jatuh ke tanah, dipotongnyalah sepanjang tujuh depa, tujuh hasta, tujuh jengkal dan tujuh jari. Mendoalah dia kembali, maka terbelah dua kayu itu. Dan kayu itupun bersatu kembal Tinambunen dan Tumangger pun sampailah ke gubuk tempat Simbuyak-mbuyak ditinggalkannya beberapa hari yang lalu. Keduanya tak menampak abangnya di gubuk itu. Yang ada hanyalah tali terentang secara bersimpang siur dari gubuk itu kedalam hutan. Dan didapatinya pula sebatang pohon terletak dihalaman gubuk pondok dan penuh dengan kapur barus. Potongan pohon itu sangat bagus ujung pangkalnya, karena memang disengaja membuatnya demikian. Didekatinya kayu itu, tampak abangnya terbaring didalam belahannya. Mereka berdua membujuk abangnya itu, tetapi tak berhasil. Dari dalam belahan kayu itu terdengar suara Simbuyak-mbuyak menyampaikan pesannya untuk kedua orang tuanya dan handai tolan lainnya. " Sampaikan salamku dan permohonan maafku kepada mereka semua karena aku harus berangkat", katanya. Kepada adiknya berdua itu diberitahukannya, bahwa semua kayu yang kena rentangan tali-temali dari gubuk itu, adalah kayu yang banyak berisi kapur barus. "Itulah kalian ambil sebagai pengganti kapur barus yang habis kumakani selama ini" tambahnya. Diapun mengisahkan rencananya semula, bahwa pesta memakan durian dan menyembelih hewan ternak yang gemuk diadakan untuk menyampaikan doa kepada Tuhan. "Pintaku, agar diriku menjelma menjadi seorang pemuda biasa yang sehat tiada cacat seperti ini", kata Simbuyak-mbuyak. Dikatakannya : "keadaan sudah terlanjur begini, dan terimalah kenyataan ini dengan ikhlas tanpa penyesalan". Kepada adiknya berdua, Tinambunen dan Tumangger diingatkannya, bahwa mereka akan mendapat keturunan yang baik-baik, berbudi dan pandai di kemudian hari. "Itulah karurnia Tuhan Yang Maha Kuasa kepada kalian berdua", kata abangnya. "Akhirnya semacam pertanda di masa yang akan datang, jika kelak kalian melihat banyak burung pamal di tepi laut yang jumlahnya sampai ribuan ekor, jangan heran, itulah kirimanku, sebagai ganti sekapur sirih menjelang ayah bunda serta handai tolan. Burung itu akan sangat jinak, dan akan dimasukinya rumah kalian. Tangkaplah, kemudian sembelih, dan makanlah beramai-ramai kirimanku itu", kata Simbuyak-mbuyak. Pertanda lain yang diberitahukannya adalah : "jika angin bertiup kencang disertai hujan lebat turun dari langit akan ada burung inggal-inggal berterbangan di angkasa. Perhatikanlah ekor burung itu. Kalau ekornya diayunkannya arah ke bawah, itu tandanya telah tiba musim manungal dan menanam padi. Tetapi mungkin juga ekornya digerakkannya arah ke samping, menjadi tanda telah berakhirnya musim manungal. Jangan abaikan tanda-tanda itu karena bila dilanggar tanaman tidak akan menjadi". Sesudah mengucapkan pesan-pesannya itu, minta dirilah Simbuyak-mbuyak kepada kedua adiknya. Begitu suara dari dalam belahan kayu tadi berhenti, maka meluncurlah potongan kayu itu dengan sangat kencangnya. Luncurannya itu seperti perahu yang berlayar dengan lajunya di tengah samudera. Searah dengan tujuan gerak kayu itu, di angkasa terlihat pula serombongan besar burung terbang berkawan-kawan. Kayu tadi meluncur terus dengan suara gemuruh, dan akhirnya mencebur ke dalam laut. Tinambunen dan Tumangger yang sejak tadi terheran saja melihat peristiwa itu, sekarang baru menyadari dirinya. Keduanyapun menangis dengan sejadi-jadinya, karena sangat sedih ditinggalkannya itu. Di kemudian hari ternyata, bahwa pohon-pohon yang dikenai oleh tali-tali Simbuyak-mbuyak memang banyak mengandung kapur barus. Keenam orang adiknya memperoleh hasil yang banyak pula karena itu. Mereka kemudian menjadi kaya. Tentang Simbuyak-mbuyak tak diketahui lagi keadaannya sesudah itu. Hanya saja pernah terjadi para penangkap ikan mendapat perolehan yang banyak di sebuah tempat tak jauh dari pantai. Yang mereka ketahui hanya bahwa ikan yang banyak itu berkumpul di sekitar potongan kayu yang hanyut terapung-apung. Orang menduga mungkin kayu itulah yang dulunya yang dipakai Simbuyak-mbuyak meluncur dari dari lereng gunung Sijagar dan kemudian mencebur ke dalam laut. Dan ketika kayu itu dipukul orang dengan maksud bermain-main, terdengar suara dari dalam. Suara itu meminta agar dia dikeluarkan dari kayu itu. Ketika ditanyakan asal usulnya dia menyatakan tak tahu akan hal itu.

cerpen ku

www.imay manis saja.com

 

DANAU SICIKECIKE, KUTA MARGA PAKPAK DAIRI

Sumber: Tarombo Marga Udjung Kalang Simbara Penulis: R.U.S. Udjung (+) Disadur oleh: Fredy W Udjung Kabupaten Dairi sekarang adalah sebagian dari tanah Pakpak. Tanah Pakpak terdiri dari 5 daerah: 1. Pakpak Pegagan 2. Pakpak Keppas 3. Pakpak Simsim 4. Pakpak Kelasen 5. Pakpak Boang Di daerah Pakpak Keppas, khususnya di sub daerah Si Tellu Nempu, Kecamatan Sidikalang, tepatnya beberapa kilometer dari kuta Sitinjo tempat persimpangan (simpang tiga) jalan Sidikalang ke Medan dan ke Dolok Sanggul, sekitar kuta Bangun, nampak di kejauhan suatu bukit. Di atas bukit itu ada danau yang disebut danau Sicikecike. Danau ini dulunya adalah sebuah kuta yang bernama kuta Sicikecike, nama yang kemudian menjadi sebutan danau yang dimaksud. Apa sebabnya kuta itu dahulu disebut nama Sicikecike? Apa kekhususannya? Pada zaman itu banyak nama satu kuta disesuaikan dengan keadaan sekitar, sungai, gunung dan lain sebagainya. Cike adalah nama sejenis tanaman yang banyak dipakai menjadi bahan baku menganyam tikar (Tendellen) yang kualitasnya agak kasar. Cike ini tumbuh di tanah yang berair, pinggir sungai atau rawa-rawa. Oleh karena disekitar banyak tumbuh tanaman Cike, maka kuta itu disebut Sicikecike. Kuta Sicikecike terdiri dari 5-6 rumah sesuai dengan kebiasaan di kuta Pakpak, “uga satu bale”, dibangun menurut arsitektur Pakpak, beratap ijuk aren, tiang kayu bundar besar, dinding dan lantai terbuat dari papan tebal kira-kira 2 inci, berkolong antara 1,5 sampai 2 meter dan tanpa menggunakan paku besi, karena memang pada waktu itu belum ada. Rumah-rumah ini biasanya dihuni 6 sampai 8 keluarga. Maka kuta Sicikecike pada zaman itu bisa dikatakan lumayan besar dan ramai. Di kuta Sicikecike ini dipimpin oleh seorang raja bernama “Raja Naga Jambe” yang memiliki 2 orang istri, berru Saraan yang kemudian melahirkan 3 orang anak: Raja Udjung, Raja Angkat serta Raja Bintang, dan dari berru Padang melahirkan 4 orang anak: Raja Capah, Raja Gajah Manik, Raja Kudadiri dan Raja Sinamo. Keluarga ini serta penghuni lainnya hidup damai dan rukun, berkecukupan sandang dan pangan karena memang di tanah sekitarnya luas dan subur, menghasilkan panen yang melimpah, dalam istilah Toba “Gabe Naniula, Sinur na Pinahan”. Kenapa kuta yang begitu menyenangkan bisa tiba-tiba menjadi danau? Suatu hari Raja Naga Jambe hendak menanam padi, dan menurut kebiasaan, semua penduduk kuta Sicikecike meninggalkan kuta pergi ke ladang Raja Naga Jambe. Hanya satu orang yang ditinggal karena sakit-sakitan, sudah uzur dan tidak mampu membantu lagi, yaitu beru Saraan, isteri pertama Raja Naga Jambe. Menurut kebiasaan, makanan para peserta dimasak di juma. Makanan untuk orang yang ditinggal di kuta, yakni untuk berru Saraan, di antarkan dari ladang. Tentunya beliau berharap ketika makan siang ada yang mengantarkan makanannya. Nyatanya tidak. Semula sabar menunggu, tetapi sesudah “goling ari” belum juga ada yang mengantar makanannya, sedang beliau sudah merasa sangat lapar. Dia mulai gelisah, tidak sabar, merasa sedih tidak diperdulikan. Air matanya meleleh satu per satu. Diusapnya kucing yang berada dipangkuannya, sambil dengan tangisnya mengadukan nasibnya kepada Tuhan. Tiba-tiba saja, langit yang tadinya cerah berganti turun hujan yang lebat bersama taufan sambung menyambung. Dan ketika itulah kuta Sicikecike dengan segala yang berada di atasnya, rumah dan segala isinya serta nenek tua, berru Saraan dengan kucingnya seolah-olah ditelan bumi, kemudian beralih menjadi danau. Itulah danau Sicikecike. Keanehan danau ini, menurut cerita, airnya senantiasa sampai kepinggir atas danau, tidak pernah melimpah bagaimanapun lamanya dan derasnya hujan dan juga tidak pernah surut walaupun saat musim kemarau. Mereka yang pernah mengunjungi danau itu menyatakan pada hari-hari cerah dapat dilihat bahan-bahan kayu bekas tiang, lantai dan dinding rumah. Bagaimana nasib penduduk kuta Sicikecike itu sesudahnya? Sesudah meratapi nasib malang karena tidak mempunya apa-apa lagi, mereka berpencar mencari tempat hidup baru. Demikian pula dengan keluarga Raja Naga Jambe, beserta ketujuh anaknya. Keturunan dari istri pertama pindah bersama Raja Naga Jambe ke daerah kota Sidikalang, tepatnya di persimpangan jalan Pasar Lama ke Kuta Kalang Simbara. Dari kuta itulah kemudian pindah membangun kutanya sendiri. Udjung pindah ke kuta Kalang Batangberuh, Kalangjehe dan Kalangsimbara, Angkat ke kuta Sidiangkat, Bintang ke kuta Tambun dan kuta Bintang. Kuta yang lama yang tua-tua pernah memberi julukan “Kuta Sitellu Nempu” karena dihuni oleh ketiga kakak beradik, tentunya tidak utuh ditinggalkan dan sisa bangunannya lenyap dimakan waktu. Anak-anak dari berru Padang pindah ke tempat berlainan: Capah ke sekitar kuta Bangun, Kudadiri disekitar kuta Sitinjo sekarang, Gajahmanik pindah ke kuta Binara (sekarang Sunge Raya), sebagian marga Capah pindah dari kuta Bangun ke kuta Lae Meang dan sebagian marga Kudadiri pandah dari kuta Sitinjo ke kuta Keneppen (sekarang Kuta Imbaru). Lain dengan Sinamo. Kalau keenam saudaranya tetap bermukim di daerah Pakpak Keppas, Sinamo pinadh ke sekitar Tinada-Parongil di daerah Pakpak Simsim Sekalipun ketujuh marga ini berlainan tempat tinggalnya, mereka tetap mengakui kuta Sicikecike sebagai asal mereka. Hal itu dibuktikan dengan cara bersama-sama melakukan ziarah. Apa yang diutarakan penulis mengenai kuta Sicikecike, tenggelamnya serta beralih menjadi danau, diketahui dari turunan tua-tua. Jika ada yang kurang atau berlebihan, mohon diberitahu agar segera dapat dikoreksi.

crita ku

www.imay manis saja.com


IMPAL

Sejak pesawat mendarat di bandara Polonia, Medan, aku sudah semakin gusar. Bayangan kampung halaman semakin jelas. Tentu saja bayangan itu agak stagnan, karena setelah puluhan tahun pergi, baru ini kesempatanku pulang. Maka tak heran kalau rasa rindu dan sebagainya bercampur-baur menjadi kegelisahan.
Aku tak ingin berkomentar tentang Polonia, sebab aku tidak begitu mengenalnya. Dulu, ketika berangkat ke tanah Jawa, aku tidak lewat jalur ini, tapi menggunakan kapal laut, lewat pelabuhan Belawan. Itu sebabnya aku biasa-biasa saja. Tak ada kenangan apapun di bandara ini.
Melintasi Padangbulan, kenanganku mulai bermunculan. Suasananya mulai akrab. Aku bisa leluasa, karena sejak dari Jakarta aku sudah memesan mobil sewaan, sebuah kijang yang paling pas untuk perjalanan dari Medan menuju Sidikalang, ibukota Kabupaten Dairi.
¨Abang tidur saja kalau ngantuk. Nanti kalau sudah di Kabanjahe atau Merek, saya bangunkan, ¨kata supir yang begitu cepat mengakrabkan diri.
¨ kayaknya lebih baik nggak tidur. Aku mau menikmati perjalanan ini. Mau lihat-lihat perkembangan macam-macam,” jawabku.
Supir bernama Udin itu manggut-manggut. ”Apalah perkembangan di kampung kita ini, Bang, tak ada. Sama saja seperti dulu,” jawab Udin.
Aku tersenyum.
Aku beruntung dapat flight pagi dari Jakarta, sehingga perjalanan menuju Sidikalang bisa siang hari. Medan - Sidikalang jaraknya 153 kilometer, melewati tanah Karo yang terkenal sebagai kota sayur mayur dan buah-buahan, atau lembah-lembah yang masih dipenuhi pepohonan tua dan sudah meraksasa. Ditingkahi pula oleh desir angin yang begitu sejuk.
Ah! Sungguh, semua ini seperti kembali ke masa lalu.
Ketika melewati Berastagi, aku menyempatkan mampir di sebuah warung penjual kue wajik. Kue kesukaanku yang dulu setiap ayahku ke Medan, pasti membelinya untukku dan adik-adikku. Warungnya biasa saja, tapi bagi penggemar, ini pilihan yang sangat bagus. Selalu tersedia kue wajik yang warnanya coklat kehitam-hitaman. Rasanya, luar biasa.
Kami tidak mampir makan. Kabanjahe kami sisir dari pinggir, jadi tidak masuk kota. Saya bilang kepada Udin, supaya cepat-cepat sampai di kota Merek. Kangen menikmati jagung bakar yang dijajakan penjual dengan mendatangi jendela-jendela mobil yang biasa berhenti atau melambat di sana.
” Semakin sempurna rasanya ketika jagung bakar aku gigiti, mobil melaju meninggalkan Merek, dan di sisi kiri, mulai kunikmati pemandangan yang tak ada taranya. Danau Toba, nun jauh di sana, biru berselimut kabut tipis. Dari dulu selalu kukatakan kepada siapa saja, memandang danau Toba yang paling indah adalah dari sisi jalan menuju Sidikalang lewat Merek ini.
Itu yang terakhir aku ingat, sebab kemudian, aku dibangunkan Udin. Ternyata aku tak mampu juga menahan rasa kantuk. ”Bang, sudah sampai Sidikalang. Kita ke mana nih? ” Tanya Udin.
” ya.. ya. Terus sedikit lagi. Ini baru Batangberuh. Nanti kita belok kiri ke Barisan Nauli,” jawabku sambil mengucek-ucek mata.
Dan, ketika mobil belok kiri, melaju sedikit lagi, hingga tiba di depan rumahku, aku menarik nafas panjang. Tak ada yang berubah. Suasananya, hampir sama seperti dulu. Barangkali yang drastis berubah adalah lelaki yang duduk bersandar di tiang teras rumah itu. Ah, aku ingin buru-buru lompat dari mobil dan memeluknya. Dia ayahku. Tak seperti dulu. Keriput di kening, pipinya yang menurun, rambutnya yang memutih”Ah”kenapa hanya dia yang berubah?
Ayahku seperti tidak percaya bahwa yang berdiri di depannya ini adalah anak pertamanya. ”Kau”hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Sungguh, aku berharap ayahku berdua di situ, dengan ibuku yang sangat kurindukan. Tapi, sepuluh tahun lalu aku dikabari ibuku telah pergi selamanya. Aku pun tak sempat pulang.
Ayah memelukku dan menitikkan airmata. Kami berjalan ke ruang tamu. Udin mengurusi barang bawaanku, dan membawanya masuk.
”Kamu ini kayak siluman. Hilang, dan muncul tanpa bisa diduga,” komentar ayahku.
Aku tak menjawab. Cuma mengangguk-angguk sambil mengurut-urut tangan ayahku, yang juga sudah keriput.
”Ayah malas menghitung berapa lama kau pergi. Lebih baik ayah tanya, apa yang sudah kau dapat dalam perjalanan panjangmu?” komentar ayah, ketika kami sudah santai, dan menikmati kopi Sidikalang yang amat sangat terkenal itu.
”Setidaknya, aku masih hidup, ayah. Artinya, aku bisa mempertahankan hidup.”
”Sudah kaya kamu?”
”Amin” jawabku, ”Kaya itu tak ada batasan. Apa yang saya dapat dan saya punya sekarang sudah menjadi kekayaan yang harus disyukuri. Bukankah itu nasihat ayah sejak dulu? Selalu mengajarkan bagaimana mensyukuri apa yang diberikan Tuhan?”
Ayah tersenyum.

Saat malam menyelimuti Sidikalang yang dingin, aku, ayah, adik-adikku, dan beberapa kerabat yang bekumpul karena tahu aku pulang ngobrol di atas tikar yang digelar di ruang tamu. Aku tahu, ini pasti kurang enak buatku. Ada satu hal yang pasti menjadi isu serius, dan akan membuatku terpojok, tapi risiko itu memang harus aku tanggung.
Ayah yang memulainya. ”Kami selalu berharap kabar gembira dari kamu. Kamu tahu ayah ini sudah tua, sakit-sakitan. Sudah lama ingin menggendong cucu dari anak pertama ayah.”
Bah!
”Ingin tahu juga, apa yang membuatmu tidak memikirkan itu? Tidak memikirkan untuk berumah tangga.”
Aku tetap diam. Sebenarnya, kalau bisa jujur, pertanyaan inilah yang membuatku takut pulang, bahkan pada saat ibuku meninggal, inilah salah satu yang membuatku ketakutan.
”Kalau kamu tidak punya calon, sebetulnya kita sudah siapkan. Seperti kamu tahu, adat di suku Pakpak, seorang anak lelaki punya kewajiban menikahi anak pamannya. Kita menyebutnya menikahi impal (pariban)nya. Anak puhun (paman) kamu sudah kami dekati sejak dulu, dan dia tidak menolak. Puhun kamu juga pasti setuju, bahkan senang, ada anaknya dinikati oleh bebere (keponakan dari saudara perempuannya)nya.''
Bayanganku langsung ke Siti Hadijah, anak ketiga pamanku yang ada di Salak, sebuah kota yang bisa ditempuh sekitar setengah jam dari Sidikalang. Itu kampung halaman kami. Tapi terus terang, seperti apa Siti Khadijah, aku tidak punya memori.
”Ceritalah. Mungkin kami bisa membantu. Atau kau sebetulnya sudah punya calon? Nggak harus orang Pakpak. Yang penting, akhirilah masa lajangmu ini? Apalagi yang kau cari?” kali ini silih (abang ipar) anak paman yang lain yang bicara.
Aku menghela nafas. ” Beginilah. Berikan aku waktu semalam ini untuk berpikir. Besok, paling nggak sore, aku sudah punya jawaban,”akhirnya mulutku bisa bicara sesukanya.
Malam itu kami lewati hingga sangat larut. Pas di Sidikalang lagi musim durian, jadi kami pesta buah yang sangat kusukai itu. Kusebut pesta, karena hanya dengan seratus ribu rupiah, jumlah durian yang terbeli berlimpah. Masih ada yang harganya 500 perak.

Pagi sekali keesokan harinya, aku ingin menikmati semuanya sendirian. Si Udin yang sudah siap bertugas kuajak jalan. ” Di sini ada namanya Puncak. Kita nongkrong di sana, Din,” kataku.
Tak seorang pun yang berani menawarkan diri menemani. Jadi aku benar-benar melenggang berduaan dengan Udin. Mobil melaju dari Barisan Nauli menuju simpang Salak, berbelok ke kanan menuju Sidiangkat, dan tak jauh kami tiba di Puncak. Sungguh mencengangkan. Puncak ini adalah hutan, tapi kemudian disulap menjadi tempat nongkrong. Ada beberapa warung-warung kecil. Kalau kita lagi bernasib baik, dari Puncak ini akan kelihatan birunya laut Singkil, Aceh Selatan.
Bayangkan, di antara hutan rimba raya, di ujung paling jauh, ada bentangan laut biru. Hutan yang berlapis-lapis itu, sebetulnya sudah agak mengenaskan, sebab sebenarnya pembantaian konon sudah berlangsung agak lama. Sudah bukan cerita baru kalau truk-truk pengangkut kayu bolak-balik di jalan raya sisi hutan ini membawa bongkah-bongkah kayu tebangan mereka. Entahlah, itu legal atau illegal.
Tak lama menikmati pemandangan alam yang luar biasa dan tiada duanya ini, pikiranku kembali ke persoalan yang tengah menggelayutiku. Siti Khadijah, ah! nama itu mulai menggangguku. Tapi yang lebih menggangguku sesungguhnya, kenapa persoalan menikah dan tidak menikahku menjadi masalah besar?
Bukan aku tak berusaha, tapi mungkin juga salahku yang terlalu memilih-milih. Beberapa kali ada nama yang mampir di hatiku, sama sekali tidak memenuhi syarat, dan aku sendiri tidak bisa menerjemahkan syarat itu secara konkret.
Aku sendiri tidak punya bayangan konkret dengan Siti Khadijah. Aku meninggalkannya ketika masih berusia 5 tahun. Masih bocah. Beda usia kami lebih 10 tahun. Ah ! Lagi-lagi aku menarik nafas. Puncak mulai agak ramai. Apalagi ini hari Sabtu, akhir pekan. Orang-orang berpasang-pasangan berdatangan. Rupanya tempat ini lebih banyak digunakan orang untuk santai berdua-duaan dengan pacar, atau sebagian rombongan anak-anak muda mengendarai sepeda motor.
”Bang”seseorang menyapaku. Sopan sekali. Sampai-sampai aku takut gede rasa, jangan-jangan bukan aku yang disapa, makanya aku menoleh kiri-kanan. ”Bang Marke, kan?”
Begitu dia menyebut namaku, baru yakin, akulah yang disapa orang ini. Ah! Ada bidadari yang muncul di tengah hutan seperti ini?
”Nggak ingat aku ya?”
Aku mengernyitkan dahi. Sumpah, aku tak ingat. Sama sekali. Tapi aku harus pura-pura mencoba mengingat. Setidaknya sikap itu bisa membuat bidadari ini tersenyum.
”Aku Rosa, Bang,”dia menyebut namanya.
”Bertepatan lagi main-main ke sini.”
” Ooo! sama. Kamu sendirian?”
”Ya. Naik kereta sendirian. Kan dekat,” dia menjelaskan. Entahlah dekat dari mana. Aku nggak sempat lagi menanyakan itu.
Kami langsung akrab. Duduk berduaan. Apalagi Udin yang sedari tadi di sebelahku sepertinya pengertian betul, langsung bergeser agak menjauh.
Banyak cerita Rosa ini, tapi sumpah, aku hanya menikmati kecantikan dan sopan santun yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Matanya, rambutnya, bibirnya, betisnya, ah!, Kok ada wanita seperti ini di kampung halamanku? pikirku terus-menerus.
Entah kenapa, aku jadi sangat terbuka kepadanya. Lebih dari sejam kami ngobrol ngalor ngidul, aku akhirnya harus keceplosan tentang pribadiku. ”Ya. Aku baru pulang. Semalam sudah ditodong keluarga, karena aku belum menikah sampai sekarang,”tuturku.
”O ya? Lalu?”
”Aku memang belum punya calon, dan akhirnya keluarga bersepakat menjodohkanku dengan impalku.”
”Abang mau?”
”Inilah yang aku pikirkan sekarang. Bukan soal mau tidak mau. Tapi aku sendiri belum pernah ketemu lagi dengan impalku itu. Entah seperti apa dia sekarang. Ini kan masalah besar. Bayangkan, kalau bertemu terus kemudian kita berdua merasa nggak cocok.”
Rosa tersenyum.
”Sebagai perempuan, apa yang kau bayangkan atas peristiwa yang menimpaku ini?” pancingku.
”Aku nggak bisa komentar. Tapi setidaknya, dari omongan abang sebetulnya abang ini begitu menghargai perasaan impal abang. Itu sudah luar biasa.”
”Maksudmu?”
”Abang tidak mau dia terluka, kalau pas ketemu tiba-tiba abang berubah pikiran.”
Aku menghela nafas lagi. Banyak hal yang menguntungkan sebetulnya, apabila aku memenuhi permintaan keluarga ini. Setidaknya almarhumah ibuku merasa bahagia di surga karena melihat aku memenuhi keinginannya yang sesungguhnya terpendam. Sejak kecil dulu, ibuku juga sering mengatakan, nanti kalau kamu sudah harus menikah, baiknya menikahlah dengan impalmu.
”Memangnya abang nggak punya pacar di Jakarta sana? Kan banyak yang cantik-cantik, Bang?”
”Entahlah. Selalu saja gagal kalau aku sudah mulai,” aku jujur. Dalam hati, kalau ketemu seperti Rosa ini, mungkin sudah lama aku punya pendamping.
Entah bagaimana awalnya, aku tiba-tiba berani menanyakan kepada Rosa, ”Kamu punya pacar?”
Dia menggeleng.
”Seandainya aku berani-beranian melamarmu?” entahlah, aku serius apa becanda. Rosa ketawa. Tapi ketika kudesak, dia hanya menunduk, dan di bibirnya masih tersisa senyuman.
Siang sudah berlalu. Puncak makin ramai. Aku seperti menemukan jawaban, dan akhirnya aku pamit pulang.
”O ya. Aku boleh minta nomor handphone?”
Rosa menggeleng lagi.
”Atau alamat rumahmu? Nanti malam aku boleh berkunjung?” aku menyerang.
Rosa mengangguk. Dia menuliskannya di balik kartu nama yang kusodorkan.
Kami berpisah.

Di rumah, semakin ramai keluargaku. Maklum, ayah begitu bangga mengumumkan, bahwa aku pulang. Yang mengagetkanku, ada puhun di sana. Ah, jangan-jangan Siti Khadijah juga ada. Mataku jelalatan ke sana-ke mari. Tidak ada.
Aku menyapa puhun dan mencium tangannya. Kami kemudian duduk sambil siap-siap makan pelleng (nasi kuning agak lembek, makanan khas orang Pakpak yang lauknya ayam berkuah kuning, ditimpali cabe merah yang pedas).
Aku begitu melahap makanan itu. Terakhir aku memakannya ketika berangkat ke Jakarta. Itu khas orang Pakpak, di setiap ada acara memberangkatkan anak ke rantau misalnya, selalu disuguhi makanan khas ini.
”Bapakmu sudah cerita kepada saya. Sekarang tergantung kamu, apakah setuju mempersunting Siti Khadijah?”puhun langsung ke pokok masalah.
Aku terdiam. Kubakar kretek untuk menghilangkan rasa galauku. Terus terang, wajah Rosa mulai menghantui pikiranku.
”Maaf puhun, dan semua,” akhirnya aku berani bicara. ” Kalau ada calon kira-kira jadi masalah tidak?”
Semua terbelalak. ”Tadi saya ketemu orang, dan langsung membuat saya gemetar. Saya sudah tanya, orang itu belum punya pasangan, bahkan mengakunya tidak punya pacar. Saya mau jajaki dulu,”aku lebih berani lagi.
Tak ada jawaban.
”Ini hanya saran saja,” kataku lagi.
Puhun menarik nafas. Sepertinya semua yang ada di ruangan saling menjaga perasaan. Aku mengerti itu, tapi kukira, mending di depan kita bicara pahit.
”Beginilah. Saya sudah bicara tadi pagi sama Siti Khadijah. Dia juga berpendapat sama dengan kamu. Dia tidak mau kamu kecewa, dan sebaliknya.
Jadi, bagusnya, kamu ketemu dulu sore ini. Kalian bicaralah. Kalau ternyata tidak cocok, itu masalah lain.”
Bijaksana sekali puhunku ini, dan aku langsung menyetujuinya. Toh, Siti Khadijah itu adalah anggota keluargaku, dan layak pulalah dia bertemu denganku.
”Lako mo, Murni, alengngi si Siti i asramana (bhs Pakpak, artinya, Pergi sana Murni, jemput Siti di asramanya).”
O ya, aku lupa memberitahukan, Siti Khadijah sekolah perawat dan tinggalnya di asrama.
Murni, adik di bawahku persis langsung bergegas. Kami kemudian ngobrol lagi tentang apa saja. Dan, hanya selang sepuluh menit, Murni sudah datang berdua naik motor.
Astaga! Siti Khadijah ini apanya Rosa? Aku terdiam. Sungguh, yang datang bersama Murni adalah Rosa yang tadi bertemu aku di Puncak. Astaga lagi, dia biasa-biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa.
”Hallo, Bang!” sapanya. Aku menyambut tangannya yang tadi sudah kusalami. Aku tidak bersuara. ”Kami akhirnya duduk bersebelahan. Kulirik ke luar pintu, Udin pun seperti orang bingung melihat adegan ini.
”Kalian sudah ketemu. Dua-duanya sudah tahu ceritanya. Lalu bagaimana?”tanya ayahku.
” Boleh kami jalan berdua sebentar saja?” tawarku.
Semua setuju. Saya menggamit tangan Siti Khadijah dan mengajaknya ke mobil.
” Mau ke mana, Bang?” tanyanya pelan.
Aku diam saja. Di mobil aku meledak tertawa. ”Ini ada apa?” tanyaku.
Sikap persis seperti Rosa yang kutemui di Puncak tadi. ”Maaf , Bang. Tadi aku sengaja seperti itu untuk tahu juga bagaimana sebenarnya abang. Begitu dikasih tahu ayah, aku tanya, abang di mana? Mereka kasih tahu lagi pergi, kayaknya ke Puncak. Makanya kususuli.”
” Ah! Jadi sekarang aku panggil Siti apa Rosa?”
Dia sudah berani mencubit tangannku.
” Belok kiri, Din! ”seruku, ketika di Batangberruh ada jalan kecil di depan surau tua.
”Ngapain ke sini?” tanya Siti.
Aku tidak menjawab.
Barisan batu nisan mulai bermunculan, berjejer di pemakanan umum ujung surau itu. ”Aku belum ziarah ke makan ibu.” kataku.
Aku tidak tahu persis posisi makam ibuku, tapi Siti tahu.
Di depan pusara itu, ingin rasanya menahan tangis, tapi aku tidak mampu. Aku menundukkan kepala. Agak lama, dan tak ada suara yang keluar dari mulutku.
Ketika Siti mendekat dan memeluk pundakku, aku merasa seperti mimpi. Aku memandang wajahnya. Matanya juga berkaca-kaca.
”Boleh aku bicara jujur di depan pusara ibuku?” desisku. Siti mengangguk dan semakin mempererat dekapannya.
” Ibu, maafkan anakmu. Hari ini aku datang bersimpuh di pusaramu, mudah-mudahan kau melihatnya, ibu. Aku tidak datang sendirian, tapi ditemani calon menantumu.”
Setelah itu aku diam termangu.
Siti makin erat mendekapku.