Minggu, 28 Agustus 2011

cerpen

www.imay manis saja.com


Cerber : ¨Inang Simatuangku ( Selesai )¨

Solo-solo :
Aku tidak membutuhkan semua harta warisan ini, aku mau mertuaku kembali. Semua harta warisan yang dihibahkan mertuaku atas namaku kubagikan buat adik iparku dan eda-edaku mengusahainya. Sedangkan uang asuransinya kuputuskan
membangun simin tempat peristirahatannya yang memadai seraya memestakannya disertai penobatan saya sebagai berru Bancin. Aku mau dikasih marga sama dengan marga mertuaku. Aku mau jadi berru Pakpak seutuhnya. Aku adalah istri orang Pakpak yang kucintai jadi aku harus ikut menjadi kalak Pakpak”


Kedatangan kami di rumah duka disambut histeris ketiga edaku dan adik iparku satu-satunya. Eda itu panggilan kita kepada saudara perempuan suami kita. Mereka memeluk Pak Prana bergantian. Aku dapat memaklumi sambutan mereka terhadapku tidak terlalu hangat akibat sikapku selama ini kurang bersahabat sama mereka. Terus mereka berlima mengelilingi jenazah ibu mertuaku dan meratapinya dengan bahasa Pakpak tangis milangi. Aku berdiri terpaku memandang jenazah gosong mertuaku, tetapi wajahnya utuh tidak terbakar sedikitpun. Kulihat wajah itu bersih dan senyum manis tersungging di bibirnya seolah-olah tidur nyenyak. Dadaku sesak mau pecah penuh penyesalan, tetapi aku nggak mengerti mengutarakannya dalam bahasa Pakpak. Satu-satunya kata yang masih segar diingatanku hanya kata kodeng nanggi, judul lagu terakhir yang dinyanyikan mertuaku di taksi. Maka kukumpulkan seluruh kekuatanku dan menghambur menghampiri jenazah mertuaku

“Kodeng kempumu namberru……uu uuu, bakune nola mo ningku mengaloi kuso-kuso kempumen…idike ngo duana empungku daholi….nina. Oda pernah kuidah giamken sekali…enpe laus nola begendari kono namberu oda ne lot empung Prana sada poda giamken…ikutaen….uuuuuuu hk le inang ni namberruna”. Tiba-tiba entah darimana bibirku seolah-olah ada yang menggetarkan aku jadi mahir berbahasa Pakpak yang selama ini memang aku telah mengerti tapi aku ogah memakainya dalam percakapan sehari-hari. “Barinang roh deng kono menengngen kempumu mi Jakarta oda kuberre mangan kono isidi. …Keppe bagendari laus nola ko menadingken kami…karina ...Pangan giamken sekalinai tinasak purmaenmu siso kasea enda da namberru.uuuuuu uuuuuuu.”. Kuseka ingusku yang keluar bersama air mataku dengan oles yang telah kupakai sejak di pesawat. “Ajari aku merkata Pakpak dekket adat Pakpak namberruuuuuuuuuu, kuselseli karina pekkilakongku mendahi kono siso ture pesangapken kono namberru…hk le inang namberruna”. Tiba-tiba tanpa dikomando ketiga edaku berhamburan memeluk aku “Enggo, enggomi eda sudah senang dia jangan ditangisi lagi”. “Biarkan dia menumpahkan tangisnya sampai puas, jangan dihalangi”, kata suamiku Pak Prana ama turangnya. “Tuhunna ngo keppe kono berru ni raja namberru, aku ngo siso kasea idi mbarjang mersimatua, mike nola maku laus merembah ukur ceda menelseli pemaingku siso patohen idi namberu uuuu…..uuuuu”.

Kudengar bisik-bisik pertua ibages kaum ibu, “Dia itu khan orang Jakarta, inang dukak Pak Prana berru sideban, kok mahir ya tangis milangi ?” Samar-samar kudengar pula kaum pertua ibale, kaum bapak berbisik “Pandai kali Pak Prana makpaki berru sideban itu. Pakpak pun kita pakpaken deng dia dahko”. Tangisku semakin menjadi-jadi menumpahkan segala penyesalanku di hadapan tubuh kaku mertuaku. Tidak dapat dihentikan oleh siapapun sampai pengula kuria memimpin kebaktian dan menyanyikan lagu “Krina jelma kennah mate, kennah mbalang sukai……..dstnya”.

Usai pemakaman mertuaku, penyesalanku semakin menjadi-jadi. Si Bungsu yang sekarang sudah kupanggil adik ipar mengeluarkan semua surat berharga milik mertuaku dan meletakkannya ke pangkuanku beserta selembar surat wasiat. “Inang telah mempersiapkan ini semua sebelum ke Jakarta menemui kakak”, sahutnya dengan tulus. Kutatap matanya begitu bening, tenang dan polos tidak berdosa, yang selama ini kubenci luar biasa.
Air mataku yang sudah kering berurai kembali membaca surat wasiat itu. Rumahnya, sawahnya, ladangnya, kebunnya bahkan asuransinyapun diserahkan semua atas namaku. Aku meraung-raung sejadi-jadinya aku tak mau harta peninggalannya, aku mau mertuaku………!. Tuhan kembalikan mertuaku.
“Sebelum ke Jakarta ke rumah abang dan kakak, inang berpesan semua harta peninggalannya harus kakak Mak Prana yang mengatur. Ntah… itu, sepertinya inang sudah tau akan pergi selamanya”. Adik iparku terbata-bata. Orang yang paling kehilangan tentulah dia. “Dia tinggalkan dua puluh juta untukku, katanya untuk biaya pesta pernikahanku. Inang bilang, aku nggak boleh lagi menambah beban kakak dan abang …..!”, adik iparku menangis tersedu-sedu sampai ingusnya keluar dari hidung.
Untuk pertama kalinya kupeluk adik iparku, tanpa jijik sedikitpun kuseka ingusnya. Kubenamkan kepalanya dalam-dalam ke dadaku, ke jantung hatiku. “Tidak adikku…, kakakmu siap membantu apa saja kebutuhanmu…”, kataku disela-sela tangisku. Sungguh sejujurnya kukatakan, aku mengasihi adik iparku setulus hatiku, setidaknya mulai hari ini.
Para penetua adat sibuk bermusyawarah satu sama lain, dan pada akhirnya mereka menunggu keputusanku. Aku tidak paham ritual adat yang mereka lakukan, kata-kata yang yang sahut menyahut seperti berpantun. Semua orang yang duduk berkeliling di atas tikar menempati tempat duduk masing-masing sesuai status dan kedudukannya dalam adat.
“Ini sungguhan mak Prana, kamu harus putuskan sekarang dihadapan raja-raja adat. Segala keputusanmu harus disaksikan raja-raja adat dan semua yang hadir disini”, kata Pak Prana begitu mulutku terkunci tidak kuasa berkata sepatahpun.
“Sungguh kene karina partua nami, bapa-bapa semuanya yang saya hormati. Saya ikhlas tidak membutuhkan semuanya harta benda ini. Biarlah adik iparku yang menanganinya…!”
“Bukan begitu anakku, edamu khan ada tiga orang dan kalian laki-laki ada dua orang. Tidak boleh ada putusanmu atau musyawarah kalian yang tidak diketahui penetua adat. Nanti dikemudian hari kalau ada masalah diantara kalian atau diantara anak cucu kalian tentang pembagian harta warisan itu biar penetua adat bisa menyelesaikannya sesuai hasil musyawarah hari ini”, kata penetua adat yang semarga dengan ibu mertuaku.
“Bagaimana kalau semuanya dijual terus hasilnya dibagi rata. Dibagi lima ?”, usul mertua edaku yang paling bontot, eda nai Willy.
Aku ternganga, terperanjat tidak menyangka mendengar usul seperti itu. Entah dari mana datangnya kekuatan padaku. Aku berdiri tiba-tiba dan memandang sekeliling, semua orang kutatap satu-persatu. Sunyi senyap tiba-tiba, semua mata tertuju padaku.
“Semua peninggalan mertuaku tidak boleh dijual……..satupun !”, seruku tegas. “Ini keputusanku, rumah ini boleh ditempati siapa saja yang tinggal di kampung ini asalkan diurus sebaik-baiknya. Kebun kopi dan pote di lae Bigo diusahai sendiri oleh adik iparku. Sawah di lae Sigarap diusahai oleh eda nai Willy sesuai dengan tempat tinggalnya, Ladang gambir dan cabe di lae Reppung diusahai oleh eda nai Nita yang juga dekat dengan rumahnya dan kebun karet beserta durian di uruk Cipako oleh eda nai Benget dimana kalak bayo itu mantri di sana”.
“Dengan catatan kalian hanya mengusahai, bukan memiliki. Hasilnya 1 : 4. Jadi eda nai Willy, nai Nita dan eda nai Benget harus mengirimkan seperempat dari hasil usaha tersebut ke rekening suamiku setiap panen. Adik iparku tentunya memerlukan banyak biaya sebagai pengantin baru dan tentunya perlu membeli rumah di tempat kerjanya yang baru. Jadi tidak usah mengirim dahulu sampai dapat membeli rumah. Kalau sudah memiliki rumah sendiri harus mengirim juga sama seperti lainnya seperempat bagian”, kataku tegas dan berwibawa. Tidak ada yang protes maupun menyela kata-kataku. Semua orang terpana membisu menatap tak berkedip ke wajahku. Pipiku hangat di daerah dingin membeku ini, entah karena semua pandangan tertuju padaku, entah karena suasana perasaanku saat ini, entahlah… !

Tatapan takjub para ibu-ibu serta bisik-bisik satu sama lainnya tidak mempengaruhi keputusanku. Aku sudah diberitahu raja-raja adat bahwa semua peninggalan mertuaku adalah hak milikku sepenuhnya. Jadi sah-sah saja bila saudaraku hanya kuberi semacam pertanda saja. Namun tidak sedikitpun keinginanku untuk memiliki itu secara serakah, malah untuk diriku sendiri tidak ada sama sekali.
“Dan satu lagi, uang asuransi kalau sudah cair. Semuanya untuk membangun simin kedua mertuaku namberru dan mamberrungku, empung Prana. Kita bangun tempat peristirahatan yang pantas bagi mereka dengan tempat permanent. Lalu kita adakan pesta simin itu disertai dengan penobatan saya sebagai berru Bancin, saya mau dikasih marga sama dengan marga namberru saya. Saya mau jadi berru Pakpak seutuhnya. Saya adalah istri orang Pakpak yang kucintai jadi saya harus ikut menjadi kalak Pakpak”. Kulihat kaum pertua ibages, kaum ibu bengong ternganga dan penetua adat serta kaum pertua ibale, kaum bapak lainnya menganguk-angguk. Lalu aku lanjutkan lagi “Saya juga memutuskan, setelah uang yang dikirimkan eda-edaku kepada Pak Prana cukup…..”, aku menangis tersedu-sedu. Terbayang wajah mertuaku yang terburu-buru mengejarku agar bisa berjalan beriringan di trotoar bandara Soekarno-Hatta. Kulihat wajah mertuaku dari kaca spion taksi tertunduk lesu termangu-mangu, aku membiarkannya duduk sendirian di belakang. Kulihat gigi seri atasnya bergoyang-goyang saat tertawa minta KTPku. Kuingat mertuaku tak kutawarkan makan siang sebelum suamiku pulang kantor.

Tangannya yang mengembang menyambut anakku dari dari kantuknya di depan pintu yang tertutup membuat dadaku semakin meledak mau pecah. Aku tak kuasa membendung air mataku. “Iya…, ugh…huk…huk…jika uangnya te…lah cukup, aku mau mendirikan Tugu Peringatan buat mertuaku…..! Aku lalu meraung-raung histeris.
Suamiku berdiri dan melompat tiba-tiba memeluk tubuhku lalu akupun ambruk dipelukan lelaki pahlawanku itu. Diciumnya pipiku berulang-ulang dihadapan semua penetua dan raja-raja adat.
Semua ibu-ibu yang hadir ikut menangis tersedu-sedu dan satu dua kaum bapak ikut meneteskan air mata. Aku belum pernah berbuat baik kepada mertuaku juga kepada keluarga ini.

Aku mulai menghitung satu persatu kebaikan mertuaku, nasehat-nasehatnya untuk menyenangkan suamiku juga bagaimana menciptakan suasana harmonis. Tapi sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa membalasnya lagi. “Makanya mak Prana, orang tua itu dihormati pada saat hidupnya, bukan setelah meninggal…!”, aku mendengar bathinku sendiri berkata pada hatiku, pada jiwaku dan pada otakku. Adakah gunanya menyesal ???. (Tamat)

Cerita diatas adalah fiksi, hanya khayalan semata. Bila ada persamaan nama, marga dan tempat hanyalah kebetulan belaka. Karya Drs. Viktor H Sinamo, Kepala SMA negeri Salak dengan judul asli “Ibu Mertua” pernah terbit di majalah Kompak Medan, edisi Februari-Maret 2006. Ditulis kembali dengan beberapa tambahan variasi alur cerita oleh Ir. Paian TH Sinamo.

Nantikan tulisan Ibu Mertua Seri 2 tulisan Drs. Viktor H Sinamo ditulis di Klinik Patah Tulang desa Sukajulu Kec. Barwo Jahe, Tanah Karo. Selama 5 bulan beliau dirawat disana, ada 10 lagu tercipta dan 3 novel selama derita menyiksa jiwanya. Adakah produser yang mau mengorbitkannya ?.

cerpen

www.imay manis saja.com



Cerber : ¨Inang Simatuangku ( Bagian 5)¨

Solo-solo :
Prana masih tertidur pulas mungkin masih kecapekan bermain kodeng-kodengan seharian dengan neneknya. Ini kesempatan buat kami bermesraan tidak ada yang menggangu. Kemesraan yang telah lama tidak kami nikmati. Kurebahkan tubuhku diatas dadanya yang bidang dan kekar. Kugenggam lengannya yang berotot baja. Bau tubuhnya yang khas merangsang gairahku. Aku menarik nafas sangat dalam lalu menghembuskannya dengan desahan yang menghangatkan sekujur tubuhku. Tiba-tiba suara reporter TVRI menghentikan kemesraan kami dengan membacakan jatuhnya sebuah pesawat terbang.




“Tolong buatkan kopi ma…!. Rasanya tubuhku lelah sekali padahal tidak ada yang dikerjakan”
“Naik taksi seharian khan capek juga Pa, kopi kental ?, pahit apa manis Pa ?”
“Terserah mama deh, yang penting enak”.
Dengan riang aku menyiapkan kopi buat suamiku. Matahari sore membiaskan cahaya merah jingga melalui celah-celah kaca jendela. Tampaknya alam juga turut merasakan kebahagianku di rumah ini yang telah lama sirna.

Kuletakkan baki di atas meja dihadapan suamiku berisi segelas kopi dan segelas teh buatku. Anakku masih tertidur pulas menyambung tidurnya diatas taksi, tampaknya masih kelelahan bermain kodeng-kodengan sepanjang hari dengan mertuaku. Kesempatan bagiku untuk duduk bermesraan dengan suamiku tanpa ada yang menggangu yang selama ini sudah jarang kami lakukan. Aku bermanja ria menyandarkan tubuhku diatas dadanya yang bidang dan kekar. Kuraba lengannya yang berotot baja, maklum suamiku ini pernah menjadi calon tentara, namun nasib menentukan lain. Barangkali karena gagal jadi tentaralah maka kami ketemu. Bau keringatnya yang khas merangsang gairahku. Aku menarik nafas sangat dalam lalu menghembuskannya disertai desahan yang menghangatkan tubuhku. Inikah kebahagiaan itu ?. Kuraba kumis tipisnya dan memelintirnya lalu kukecup pipinya, “Pa…maafin mama ya?, selama ini selalu berburuk sangka dan berpikiran negatife ama namberru”.
“Ya sayang, manusia itu besifat khilaf, yang berlalu biarlah berlalu. Mama juga kelak akan punya menantu dari anak kita Prana, gimana kalau menantumu nanti selalu memusuhimu ?”
“Jangan sampe deh pa, mama janji deh akan berobah sikap. Nanti setelah pesta pernikahan kalak anggi, namberru kita aja ke Jakarta ya Pa?. Tinggal di rumah kita selamanya. Toh rumah itu khan rumahnya juga, beliau yang beliin kok, walau sertifikat atas nama saya”, Pak Prana tidak ada respons dengan ucapanku, hanya dia mengecup bibirku. Aduh terasa melayang seluruh jiwaku, kecupan yang sudah lama tidak kurasakan sejak pernikahan mengakhiri masa berpacaran.
Tak puas-puasnya kami membicarakan rumah baru itu dan rencana-rencana yang bakal kami kerjakan setelah menempatinya. Bahkan perabotan usang yang tidak sebanding dengan rumah barupun tidak luput dari pembicaraan kami.
“Mestinya papa bilang namberru tinggal di rumah kita aja Pa. Toh di kampung dia tinggal sendiri”. Aku mencoba lagi menarik perhatian suamiku. Biasanya kalau sudah berbicara tentang ibunya dia akan sangat bersemangat dan penuh gairah hidup. Sebenarnya aku tahu kesukaan suamiku dan tahu betul apa yang membuat dia marah. Tetapi aku tidak melakukannya, padahal apalah ruginya memuji kalau suami sipanggaren, senang dipuji atau selalu membicarakan perihal ibunya dengan simpatik, penuh perhatian karena dia amat sangat menyanyangi ibunya, inangen dan peroka ina. Tapi begitulah……..hati nurani ini sulit diajak kompromi hanya dengan masalah sepele, malah rasa curiga yang muncul walau kesempatan terbuka lebar untuk menyenangkan hati namberrungku, ibu kandung suamiku. Kalau seandainya aku mampu berkorban perasaan selalu bermulut manis untuk membahagiakan mertuaku, suamiku itu kusuruh bersujud dibawah kakikupun kurasa mau dia.
“Oh …ya !? Kok tumben?”, suamiku meledek.
“Mama sungguh-sungguh kok, sure”, kataku mengangkat tanganku dengan membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan jari tengahku. “Nanti marah-marah, merepet-repet, anak nggak salah apa-apa dipukuli”
“Jangan ngeledek ya….”, aku menggelitik perutnya. Suamiku ngakak menahan geli. Dia memang pergamang, tukang geli. Kata orang sih kalau suami pergamang sayang istri. Auk…ah gellap.
“Mama serius, kulihat Prana lengket buanget ama neneknya. Khan lumayan ada yang jagain”, kataku akhirnya
“Maksud lu?, mama gue jadi pembantu gitu atau jadi baby sister, begitu ?”
“Ah bukan begitu Pa, toh Prana khan cucunya ?, malah kata orang nenek lebih sayang ama cucunya ketimbang orang tuanya sendiri ama anak kandungnya”
“Baiklah…, papa menghargai itikad baik mama. Akan kita coba, tapi papa yakin inang nggak bakalan mau”
“Lho emang kenapa Pa?, apa namberru masih dendam ama saya?”
“Orang tua itu secara psikologis menganggap rumahnya tempat tinggal yang sesungguhnya. Dia tidak akan betah tinggal di rumah orang lain, walaupun itu rumah anak kandungnya sendiri”
“Masya..sih Pa ?”
“Iya, bahkan ada orang yang nggak bisa tidur sama sekali kalau tidak di rumahnya sendiri. Tipe inang seperti itu”.
“Sayang sekali ya Pa?. Padahal mama pengen sekali beliau tinggal bersama kita selamanya”.
“Sebenarnya lebih baik berjauhan. Biar ada rasa rindu. Tinggal dengan anak sendiripun banyak persoalannya. Cucunya dimarahin salah dikirain tidak suka sama dia, tidak dimarahin anak jadi manja, tidak terdidik. Piring jatuhpun dia pikir karena kita nggak suka sama dia. Membantuin pekerjaan rumah dia sudah tidak kuat, tidak ikut membantuin perasaannya tidak enak. Telor dalam satu sangkar yang bisa bergesekan, kalau lain sangkar nggak bakal bergesekan. Sudahlah, hidupkan TV aja papa mau menonton Dunia dalam berita. Tolong ambilkan remotenya”.
Aku tetap bersandar di dada suamiku dengan manja, tangan kanannya membelai rambut keritingku, sementara tangan kirinya memilih-milih channel pada remote control TV hingga menemukan siaran Dunia dalam berita TVRI. Dan pada saat itulah kami terhenyak kaget, terbelalak tak percaya dengan pemandangan di layar kaca TV. Kepala berdenyut seperti disambar petir. Pesawat Leang Leang Airlines dengan nomor penerbangan LLA-013 menabrak Gunung Sibayak sesaat hendak landing di bandara Polonia Medan, dipastikan tidak ada korban selamat.

Aku menjerit membaca nama-nama penumpang yang ditayangkan di layar kaca. Tubuhku menggigil, terguncang hebat, aku meraung-raung sejadi-jadinya. Pesawat yang jatuh berkeping-keping itu membuat hati dan jantungku lebih berkeping-keping lagi. Kuratapi mertuaku yang mungkin sudah gosong menghitam. Aku menyesali diri, rasanya baru tadi mertuaku duduk terkantuk-kantuk beralaskan keset kaki. Ampuni aku Tuhan, aku sengaja tidak membukakan pintu buat mertuaku. Aku sengaja berlama-lama di rumah tetangga, karena kesombongan dan keangkuhanku ditambah kebencianku yang keterlaluan membuatku selalu mencurigai kehadirannya. Aku belum sempat minta maaf, Engkau sudah memanggilnya.

Dengan menjerit-jerit kupaksa suamiku mengurus tiket, kuambil buku tabunganku dari bawah lemari dapur yang selama ini kusimpan diam-diam tanpa sepengetahuan suamiku. Aku sudah tidak sabar hendak melihat jenazah mertuaku. Tetapi justru suamiku meminta untuk tidak panik, malah dia tersenyum diantara derai air matanya mengatakan ibunya sudah tenang masuk surga. Hanya melalui kematianlah kita dapat kembali kepadaNya. Dan ternyata suamiku sudah punya firasat buruk sebelumnya, manakala mertuaku memberinya pesan panjang lebar ketika di Kantor Pemasaran Perumahan, juga ketika mertuaku menuntutnya tentang tanggung jawab sebagai anak sulung. Hanya saja suamiku tidak menduga waktunya sedemikian cepat hanya dalam hitungan jam. (Bersambung)

cepen

www.imay manis saja.com


Cerber : ¨Inang Simatuangku ( Bagian 4)¨

Solo-solo : Nafasku sesak tiba-tiba, debaran jantungku berpacu dengan keterkejutanku. Pipiku memerah dan kupingku berdengung terasa hangat. Kucubit tanganku, masih terasa sakit berarti ini kenyataan, bukan mimpi di siang bolong. Sekujur tubuhku kaku tidak mampu kugerakkan sama sekali dan rasanya melayang diatas bumi ketika mertuaku berkata, “Mak Prana, rumah ini harus atas namamu jangan atas nama Pak Prana. Nanti kalau Pak Prana macam-macam bisa kau tendang dia dari rumah milikmu sendiri”, kata mertuaku berkelakar.


Andaikan bukan karena rasa ingin tahu, aku pasti tidak bersedia diajak jalan-jalan. Buat apa nyepek-nyapekin badan toh hasilnya nanti persoalan. Lebih baik menyelesaikan pekerjaan yang bertumpuk di dapur dan di sumur. Tapi yang satu ini perlu dicermati. Pemasaran perumahan, aneh khan ?

Kami mengelilingi perumahan Citra Garden dari satu cluster ke cluster lain. Keren buanget rumahnya satu cluster satu pagar tembok dan dijaga Satpam 24 Jam dilengkapi dengan taman bermain anak-anak di setiap cluster. Terus ada Supermarket, Mall, Sekolah dan Kolam renang. Melihat anak-anak sebaya Prana sedang naik sepeda timbul juga keinginanku untuk tinggal disini, ah mimpi …….!!!. Aku merasakan ini pekerjaan sia-sia sama sekali, hanya buang waktu dan ongkos saja. Percuma buang waktu dan tenaga toh hasilnya nanti mertuaku cuma bilang harganya terlalu mahal tidak terjangkau. Dia pikir macam di kampung beli pertapakan, kavling rumah cuma dengan seekor ayam plus kembal selampis berisi beras seliter ?. Di Jakarta ini tanah semeter buat rumah jutaan. Makanya janganlah mati disini namberu buat pendebaan, makam aja tidak cukup sejuta dua juta, gumamku dalam hati. Dasar orang kampung !!

“Yang ini bagus ya mak Prana ?”,
“Semuanya bagus namberru ?”, jawabku enteng, sekenanya.
“Kayak itu tadi type berapa ?”
“Itu Nge sudah type Enam puluh. Tanah seratus delapan puluh. Kamar tidur 3 dan kamar mandinya 2 ada lagi kamar pembantu dan gudang. Lantainya juga sudah keramik, atapnya genteng dan sudah punya garasi lengkap dengan teralis besi”
“Sudah berapaan tuh cicilannya ?”
“Tergantung lamanya dan besarnya uang muka”
“Kalau kontrakan kalian sudah berapaan sebulan ?”
“Itu tahunan Nge, Kalau dibagi 12 rata-rata tujuh ratus ribuan lah sebulan”
“Sudah kuduga kamu pasti bisa”
“Maksudmu Nge ?”
“Ah…, nggak. Nanti aja kita lihat”. Sebenarnya suamiku penasaran dengan jawaban mertuaku tetapi seperti kataku tadi pengabdiannya terhadap ibunya terlalu membabi buta. Jadi dia diam aja walau kulihat wajahnya kecewa.

Di kantor pemasaran mau tak mau aku disibukkan dengan pemandangan foto-foto dan maket berbagai model rumah tinggal dari berbagai type. Alangkah bahagianya aku apabila dapat memiliki salah satu rumah di komplek ini walau type yang paling kecil sekalipun. Lingkungannya mak jauh dari kesan kumuh kayak kontrakan kami. Sementara mertuaku didampingi suamiku sibuk mengamati harga jual, besar uang muka dan besarnya cicilan perbulannya. Bolak balik mereka membanding-bandingkan uang muka dengan type rumah rumahnya dan kemampuan membayar cicilannya perbulan, aku sesekali mencuri pandang ke tabel tersbut dan menguping pembicaraan mereka. Bukankah tujuanku ikut serta hanya kepengen tahu saja?.

“Kalau type 36 terlalu kecil ya ?. Kamar tidurnya Cuma 2 lagi”
“Untuk keluarga kecil sudah cukup Nge, apalagi pengantin baru, belum juga punya anak”
“Kalau sudah punya anak kan perlu paling sedikit 3 kamar tidur. Apalagi kelak sudah simerbaju dan anak prana perlu kamar sendiri-sendiri. Pantasnya memang type 60 itu”
“Idealnya sih begitu Nge”
“Sekiranya kamu, bisa nggak bayar satu jutaan perbulan selam 15 tahun ?”
“Kalau nggak ngontrak rumah lagi. Ya pasti bisalah Nge, apalagi kami nggak perlu lagi ngirim ke Medan setiap bulan. Cuma uang mukanya dari mana Nge?”
“Begitu ?” wajah mertuaku berbinar bangga, “Mak Prana kesini sebentar”, katanya memanggilku.
“Iya namberru ?”, sahutku tak bersemangat. Keasikanku memandangi interior sebuah rumah terhenti tiba-tiba. Setengah hati aku melangkah mendekati mertuaku.
“Type enam puluh sudah pas ya buat kalian ?. Bagaimana pendapatmu ?”
Nafasku sesak tiba-tiba, debaran jantungku berpacu dengan keterkejutanku. Buat kalian, katanya, apa nggak salah ?, aku tidak percaya, apa aku sedang bermimpi ya ?. Kucoba mencubit lenganku. Aduh sakit….. berarti ini kenyataan, bukan mimpi di siang bolong. Lalu uangnya dari mana ?. Pipiku memerah, telingaku mendengung dan terasa hangat. Sekujur tubuhku terasa kaku tidak mampu kugerakkan sama sekali dan rasanya melayang di atas bumi. Tapi secara refleks aku mengangguk tanpa senyum.

Ibu mertuaku mengeluarkan tiga ikat uang merah pecahan ratusan ribu rupiah dan menyerahkan Rp. 150 juta sebagai DP. Mataku terbelalak, mungkin harus sepuluh tahun kami menabung untuk memperoleh uang sebanyak itu atau malahan lebih dari sepuluh tahun kali.
“Mak Prana…, sini KTP mu, rumah ini harus atas namamu jangan atas nama Pak Prana. Kalau Pak Prana macam-macam bisa kamu tendang dia dari rumah milikmu sendiri”, kata mertuaku berkelakar. Entah kenapa kali ini tawanya kulihat manis sekali. Gigi seri atasnya yang berwarna kuning bergoyang-goyang tidak lagi membuatku jijik dan benci.
“Nge…, darimana dapat uang sebanyak ini ?”, kata suamiku keheranan selagi menunggu surat-surat transaksi selesai. Suamiku juga masih surprise, sementara aku sibuk memilih lokasi di cluster mana paling cocok buat kami terutama yang dekat dengan sekolahan agar Prana tidak terlalu jauh dari rumah ke sekolah nantinya. “Ada investor dari Jepang membeli kebun kopi kita yang di uruk Cipako, khabarnya mau menanam Murbei. Emang luar biasa pembangunan di daerah kita setelah kita orang Pakpak menjadi satu kabupaten tersendiri, kabupaten Pakpak Bharat. Terus sebagian aku pinjam lagi dari Bank Perkreditan Pensiun, khan Sepeda motor adikmu sudah lunas kreditnya”.
“Lho….., kok ?”
“Ibu sudah tidak memerlukannya lagi. Tanggunganku sudah selesai. Adikmu sudah tamat dan sebenarnya dia sudah bekerja, tetapi karena masih training, masih masa percobaan kemarin kubilang belum bekerja dan sudah mau kawin pula. Jadi apalagi ?. Sekarang giliran kalian menikmati jerih payah bapakmu dulu, bukankah semuanya juga milikmu ?. Ibu sudah bau tanah, sudah pukul enam, sebentar lagi juga menyusul bapakmu. Tinggal kamu yang mengatur semua adik-adikmu”.
“Nge…..?! jangan ngomong begitu merinding bulu kudukku”.
“Kamu pikir harta itu kubawa mati?. Untuk apa itu ada kalau nggak bisa dinikmati ?. Semua tanggung jawabmu, artinya semua juga milikmu. Terserah kamu kelak bagaimana pengaturanmu terhadap adik-adikmu dan turang-turangmu. Tapi dari kecil aku yakin dan percaya sama kamu, sifat kebapakanmu sudah nampak dari kecil”.
“Nge….nange…, huk…huk..huk..”, suamiku menangis tersedu-sedu memeluk ibunya dan mencium pipi keriput itu berkali-kali. Beberapa karyawan Pemasaran terdiam sejenak berhenti bekerja dan termangu menyaksikan tangis suamiku dipelukan ibunya. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan suamiku, tetapi tangisan itu membuat hatiku tidak menentu. Kuberanikan menghampiri mereka dan mengatakan urusan sudah selesai sambil menunjukkan map berisi berkas-berkas rumah yang telah kutanda tangani. Lalu kamipun beranjak dari kantor Pemasaran tersebut dengan hening, hanyut dibawa perasaan masing-masing.

Didalam taksi yang meluncur dari kantor Pemasaran menuju Bandara Soekarno Hatta, perasaan bahagia justru terpancar dari wajah mertuaku ketimbang suamiku yang sedari naik taksi terdiam seribu bahasa. Ibu mertuaku seraya memangku Prana cucunya menyanyi dengan gembira “…kodeng nanggi…kodeng…kodeng..kodeng nanggi kodeng..ndepur angin ni delleng, kettang rame-ramen, kettang rame-ramen. Ndepur dagingmu mbellen kessa ulang kadeen, kessa ulang kadeen”. Prana ketawa gembira duduk menghadap mertuaku dipangkuannya sambil tangannya berjoget ria mengikuti irama lagu empungnya, walau Prana tidak mengerti apa isi syairnya tetapi pastilah ada kontak bathin diantara mereka. Aku ? perasaanku malah sangat galau, apalagi ibu mertuaku minta diantar langsung ke bandara tanpa singgah lagi ke rumah kontrakan kami alasannya takut terlambat check in. Melihat suamiku terus menerus termenung sepanjang jalan membuat perasaanku tidak tenang, tampaknya dia masih memikirkan kata-kata ibunya sedemikian dalam. Aku sendiri menyesali diri sepanjang perjalanan. Selama ini mertuaku kuanggap benalu, tetapi sekarang dia membelikan rumah buat kami atas namaku pula. Betapa besar dosaku selama ini. Kalau dihitung-hitung pengeluaran kami keseluruhan membantu adik iparku itu jauh lebih sedikit nilainya dari harga rumah yang dibelikan mertuaku, berarti selama ini kami hanya menabung saja dengan bunga yang berlipat ganda. Ya….Tuhan ampuni aku telah menjadi menantu yang durhaka terhadap mertuaku, berikan aku kesempatan menebus dosa-dosaku kepadanya dengan membuatnya bahagia selagi dia masih hidup. Tolong Tuhan berikan mertuaku kesehatan dan umur yang panjang, doaku dalam hati.

Di terminal keberangkatan aku peluk mertuaku seerat-eratnya. Kali ini aku yang mencium pipi mertuaku sepenuh hati segenap jiwa. Air mataku berurai membasahi pundaknya, membasahi sekujur tubuhnya dan membasahi segenap hatinya. Sungguh aku menyesal menaruh benci dan dendam selama ini, malah berniat mengusirnya. Ternyata kasih sayangnya dan tanggung jawabnya merata kepada anak-anaknya dan menantunya. Betul-betul ibu berhati mulia, berru ni raja rupanya mertuaku ini.

Kupandangi pesawat terbang itu seolah-olah memandangi wajah mertuaku hingga hilang dibalik awan. Rasanya aku malas beranjak pulang. Kutatap wajah anakku pulas tertidur dipelukan suamiku barangkali dia kecapekan main kodeng-kodengan dengan mertuaku. Suamiku sendiri memangkunya dengan tersenyum tetapi matanya masih berkaca-kaca. Kuambil sapu tanganku dan menghapus air matanya dan tanpa merasa jijik aku juga menyeka ingusnya yang telah membentuk angka sebelas diatas kumis tipisnya. Belum pernah kurasakan perpisahan sedemikian dalam dengan mertuaku malah rasanya lebih sedih kali ini ketimbang berpisah dulu dengan kedua orangtuaku saat mengikuti Pak Prana usai pesta pernikahan. Rasanya aku rela mertuaku tinggal di rumah kami selama-lamanya karena toh semua anaknya sudah menikah dan dia tidak ada tanggungan lagi, Biarlah kami yang menanggungnya selama hidupnya. (Bersambung)

cerpen

www.imay manis saja.com


Cerber : ¨Inang Simatuangku ( Bagian 3)¨

Solo-solo :
Sejujurnya kukatakan walau aku benci ama mertuaku itu, tetapi kalau dia ada aku tidak pernah dimarahi apalagi ditampar suamiku. Pertama kali aku ditampar ketika adatnya adat Pakpak kuhina “Adat apaan tuh?... dasar adat Pakpak taunya cuma menggerogoti orang lain”. Sejak suamiku kukenal dia memang tidak mampu menahan emosinya kalau merasa harga dirinya diinjak-injak apalagi sukunya suku Pakpak yang diagung-agungkan itu dihina, matipun jadi begitu semboyannya.


Sudah kubilang perhatian suamiku terhadap inangnya sangat berlebihan. Lihatlah dia membuka tutup saji yang kosong lalu memeriksa bekas piring kotor ke kamar mandi. Belum puas juga ia memeriksa dapur, kompor masak dan peruk-kuali pun diperiksanya, semuanya masih bersih licin tidak ada tanda-tanda habis dipergunakan. Aku sudah menduga suamiku akan berteriak sekuat-kuatnya.
“Mama…..!!”
“Ada apa sih teriak-teriak?”
“Mama enggak masak nasi ya….?!”
“Lho…, katanya papa ada rapat. Berarti sudah makan dong!” kataku kalem.
“Jadi inang belum mama kasih makan siang?”
“Sudah-sudah. Tadi di pesawat. Aku menyuruh dia agar masak nanti sore saja.” Ibu mertuaku datang ke dapur membelaku. Entah malaikat mana yang mendorong ibu mertuaku datang tiba-tiba membela diriku. Belum pernah terjadi sebelumnya dan aku menghargainya dengan senyum manis dibuat-buat pertanda terima kasihku.
“Ya sudah, persiapkan makan malam kita.” Suamiku segera pergi ke ruang tamu disusul mertuaku sambil menggendong anakku sehingga aku dapat bekerja tanpa diganggu.

Malam ini harus kudampingi mereka berbincang-bincang, takkan kubiarkan mereka membicarakan sesuatu tanpa sepengetahuanku. Selama mempersiapkan makan malam aku juga mempersiapkan strategi. Kesulitanku selama ini adalah bahasa daerah, setiap mertuaku datang mereka selalu menggunakan bahasa Pakpak bahasa daerahnya sehingga aku harus mengundurkan diri dan memilih tidur duluan. Kalau suamiku sudah ketemu ibunya, hingga larut malam tahan ngobrol terus kesana kemari. Nanti malam akan kupaksa mereka menggunakan bahasa Nasional biar aku bisa mengerti. Niatku sudah bulat, hingga subuhpun aku siap bergadang. Pokoknya aku tidak rela bila mertuaku membebani rumah tanggaku terus-menerus.

Kusiapkan semua hidangan makan malam di atas meja makan. Aku berupaya agar tidak ada yang kurang hingga sekecil-kecilnya termasuk pote dan rimbang kesukaan suamiku. Aku harus bersandiwara, demi tercapainya tujuanku.
“Enak masakanmu ya !”, kata mertuaku memuji. Aku rasakan itu pujian sandiwara, maka akupun tersenyum bersandiwara. Tapi hatiku berbunga-bunga juga manakala suamiku mengangguk membenarkannya. Pujian dari suamiku yang selalu kurindukan, jarang kudengar. Baginya semua tindakanku selalu salah tidak pernah benar. “Besok aku harus pulang pak Prana. Tiketku sudah kubooking pulang pergi”.
“Lho kok secepat itu Nge?, palum deng poda teddoh diri”, suamiku ternganga tak percaya. Aku mulai gusar, entah keperluan apalagi yang membuat mertuaku datang tiba-tiba dan pulang tiba-tiba juga. Pasti suamiku kalang kabut lagi mencari pinjaman memenuhi permintaan ibunya. Mau menjual Sepeda motor ?. Mana mungkin laku dalam satu malam walaupun separuh harga. Lagian BPKB nya nggak ada khan belum lunas kreditnya ?.
“Adikmu mau menikah”, katanya lirih.
Nah betul khan ?. Aku seperti disambar petir. Apa lagi yang diperlukannya kalau bukan uang ?. Duh, puluhan jutalah kalau sudah urusan pernikahan, apalagi itu adatnya mereka adat Pakpak pakai tokor berru segala, mengadati lagi belum biaya pestanya.
“Dia pikir menikah itu gampang, kalau kawin mah apa susahnya. Kucing di belakang dapur kami juga kawin. Kencang lagi suaranya”, kataku menggerutu. Wajahku yang memerah membara tentu memancarkan ketidak senangan di mata mereka berdua. Kulihat gigi suamiku menggeretak menahan emosi mendengar ucapan rorangku. Dia selalu menahan emosinya semarah apapun dia tidak akan tumpah kalau ada mertuaku. Aku sih amat benci ama mertuaku tetapi sejujurnya kuakui bila dia ada suamiku akan selalu berlaku manis samaku dan nggak bakal mengomeliku apalagi memarahiku. Tapi kali ini emosiku sudah sampai diubun-ubun, aku sudah siap perang dengan suami atau mertuaku, makanya omonganku juga sudah tidak terkontrol. Tetapi ternyata mertuaku malah tersenyum lembut.
“Tidak gampang mak Prana, tetapi harus dilalui. Sekarang atau nanti tetap tidak gampang, yang penting kita siap menghadapi yang tidak gampang itu”, kata mertuaku tanpa nada emosi sedikitpun juga. Sedikitpun tidak ada aksen atau nada memaksakan kehendak seperti dugaanku. Kusimpan dalam-dalam rasa heranku, tetapi tekadku semakin kukuatkan untuk menampik semua permintaannya, apapun yang terjadi terjadilah, aku sudah siap. Siap dengan hal yang paling buruk sekalipun. Pergi meninggalkan keluarga Pakpak ini dengan Prana anak semata wayang kami !!!.
“Dengan siapa Nge ?”, kata suamiku antusias. Ibunya selalu dipanggil Nge singkatan dari Nange, artinya ibu yang melahirkan. “Ada bidan desa yang cocok dengan dia. Kulihat orangnya baik, ramah dapat pintar menganju hati adikmu yang kelewat manja itu. Berru Pakpak pula dan marganya sama dengan marga ibu. Merimpallah mereka, tentu akan cocok sekali merawat ibu yang sudah renta ini apalagi menghadapi kalau ada ulaen adat Pakpak”
Aku merasa tersindir, berarti aku bukan wanita yang baik, bukan wanita yang ramah dan tidak mampu menyenangkan hati suami. Apalagi aku berru sideban, bukan berru Pakpak tentunya tidak ada persamaan margaku dengan marga mertuaku. Sialan buanget nih orang tua. Hati siapa yang tidak sakit bila dibanding-bandingkan dengan orang lain, sakit nggak ?. Manusia itu khan punya eksistensi dan kepribadian masing-masing ?.
“Wah …hebat itu anak. Rejekinya selalu baik, bisa-bisanya dia dapat berru Pakpak ya ?. Saya dulu berapa berru Pakpak yang saya kejar, semuanya pergi meninggalkan saya”
Hatiku semakin panas mendengar respons suamiku, “Koreksi diri dong kenapa kamu selalu ditinggalkan berru Pakpak idamanmu, aku aja yang goblok mau sama kamu lelaki inangen, perroka ina lebih mementingkan ibunya dari istrinya sendiri”, bathinku dalam hati. Sudah mau kuucapkan sebenarnya tetapi tetap aku tidak punya nyali. Sejujurnya kuakui walau aku amat benci ama mertuaku tetapi aku tetap mengagumi suamiku seorang lelaki yang bertanggung jawab dan bersemangat tinggi. Andaikata dia tidak terlalu menyanyangi ibunya, maka bagiku dialah lelaki sempurna idaman hatiku.
“Puji Tuhan…Itu semua karunia Tuhan yang patut disyukuri”, kata ibuku sambil melipat kedua tangannya di dada.
“Iya….Puji Tuhan……!”, suamiku bergumam pada diri sendiri. Kulihat matanya melayang jauh, mungkin mengingat berru Pakpaknya yang telah pergi meninggalkannya.
“Ibu sudah tua Pak Prana, rasanya tugasku sudah selesai. Kuharap semua sudah berakhir. Semua sekarang tanggung jawabmu. Semua kalian anak-anakku sudah bekerja dan menikah semua. Walau adikmu itu belum bekerja, tetapi kuliahnya sudah selesai. Ibu percaya dia gampang cari kerja, khan dia insinyur Teknik. Lagian calon purmaen itu sudah bekerja, Pegawai Negeri lagi”
“Apa maksud namberru ?”, sergahku tiba-tiba. “Masakan menjadi tanggung jawab kami semua !!?“, nada suaraku sudah menjadi protes. Aku tidak suka tanggung jawab orang tua dibebankan kepada anaknya.
“Bapak Prana ini khan anak situaen, anak sulung. Ayahnya sudah tiada, jadi menurut adat dialah pengganti ayahnya. Hingga semua pelaksanaan pesta adat apa saja, menerima dan memberi adat dialah semua penanggung jawabnya mewakili namberru dan almarhum mamberrumu
“Adat….adat….! adat apaan tuh…dasar adat Pakpak, bikin orang susah aja”
“Mama…., ngomong itu kendalikan diri dikit dong. Mama belum ngerti adat, main protes segala”, kata suamiku datar tapi aku dapat merasakan getaran emosi didalamnya yang sedari tadi ditahannya karena ada inangnya. Hanya karena mertuaku ada maka dia tidak membentakku, malah mungkin sudah menamparku. Suamiku itu paling emosi kalau sudah merasa adatnya, adat Pakpak dihina. Pertama kali aku ditamparnya ketika keluar ucapanku, “Dasar orang Pakpak, adatnya hanya morotin orang lain”, Itu terjadi beberapa tahun lalu ketika ayahnya bapak Prana meninggal, malah puhunnya, saudara kandung ibu mertuaku itu malah minta emas, uang dan pohon durian. Katanya sih itu lemba nggelluh, sesuai adat Pakpak. Puih… adat apaan tuh orang sudah kematian orang tua dimintain duit lagi, malah dimintain emas segala nggak hanya itu pohon durian yang lagi berbuah disamping rumah juga dimintanya ? kok nggak minta rumah ini saja sekalian. Pokoknya kalau mertuaku minta duit lagi untuk biaya pernikahan adik iparku pilihannya cuma dua mengusir mertuaku atau aku pergi dari rumah ini membawa Prana. Tengoklah besok !!!!.
“Ibu mau menyampaikan terima kasih buat kalian berdua, kalianlah yang sudah berkorban enam tahun menyekolahkan dia. Ibu dapat merasakan penderitaan kalian selama ini demi adik kalian yang satu itu”
Heh…!? Berterima kasih terlebih dahulu. Nanti buntutnya tanggulangilah semua biaya ini pak Prana…..! Aku memonyongkan bibir tanpa suara mencibir. Enak buanget yang punya anak itu taunya cuma bikin doang giliran mau menikahkan dilemparkan kepada anak sulungnya……….dasar orang tua gila…!!
“Namberru…..kami sudah tidak punya uang lagi semua sudah ludes”, kataku sinis, “Sepeda motor itu….aku tidak setuju kalau dijual…!”, suaraku sudah bergetar dan mataku sudah mulai hangat. Aku bertahan untuk tidak menangis dengan menggigit bibir. Entah kenapa asal aku marah, air mataku yang duluan keluar. Dan itu pula sifat yang paling dibenci oleh suamiku.
“Ma…….., jaga bicaramu…!”, suara suamiku mulai meninggi, memperingatkanku dengan delik matanya yang sudah kukenal baik. Suasana bakal tidak terkendali dan perang bhratayudha akan pecah. Dan itu yang kuharapkan agar aku makin punya alasan untuk pergi dari rumah ini. Sekarang juga ……………!!
“Hey…….., mak Prana tenang dulu. Kehadiran ibu kesini bukan minta uang !”, mertuaku berkata lembut sambil tersenyum. “Tanggung jawab itu khan enggak mesti berarti minta uang. Tetapi tanpa kehadiran kalian sebagai sukut pesta nggak bakalan dilangsungkan. Kalaupun bisa, ya …sudah menyangkut harga diri. Kalian masih ada… masak diwakilkan ama Tonga atau Papun Pa Prana, apa kata dunia ?”
“Maksud namberru ?”, kataku menenangkan diri.
“Biaya untuk pesta sudah ada tersedia, kalian nggak usah kuatir. Yang penting kalian bisa hadir, itu sudah cukup”
Aku menjadi malu dengan diriku sendiri, tetapi aku masih belum percaya. Darimana pula mertuaku memperoleh uang untuk pesta?. Dapat durian runtuh? Mustahil, atau mungkin dari pihak calon pengantin perempuan? Karena dapat calon kela insinyur Teknik…ah ini malah lebih tidak mungkin lagi…adat mereka pasti minta tokor berru yang besar apalagi berru nya bidan dan Pegawai Negeri pula. Bisa aja namberru ngomong sudah ada padahal belum ada sama sekali biar kami tenang. Begitu dikampung dengan mengatas namakan adat kami yang menanggulanginya semua. Huh dasar akkal macik……..emang nenek lampir ini banyak kali politiknya.
“Nge.., nggak usah berterima kasih…! Itu memang tugasku, tanggung jawabku. Yang penting siampun-ampun inang itu sudah tamat”, kata suamiku beraku-aku. Kalau suamiku sudah beraku-aku bukan berkami kok debaran jantungku semakin kencang dan rasa takut mulai merasuk jiwaku. Suamiku itu kalau sudah beraku bakalan nggak terkendali emosinya. Apapun diterjangnya termasuk menampar aku, itu memang sifatnya sejak kukenal tidak mampu menahan emosinya kalau sudah harga dirinya diinjak-injak apalagi sukunya suku Pakpak yang diagung-agungkan itu dihina, matipun jadi itu semboyannya. Aku coba menepis rasa kuatir itu jauh-jauh. Kuteguk air putih segelas penuh kemudian kutuang lagi untuk menenangkan jiwaku.
Suamiku kemudian bangkit lalu ke kamar mandi. Itu juga kebiasaan suamiku, kalau emosinya nggak keluar kepalanya panas dan dia akan mendinginkannya dengan mandi berjam-jam dikamar mandi, malah dia kadang cukenng, berendam di bak mandi. Aku tetap diam terpaku di tempat duduk. Kubiarkan piring berserakan diatas meja makan. Walaupun dalam hati aku ingin merapikannya. Suasana hening ini kubiarkan tetap sepi tidak mengeluarkan sepatah katapun mengajak ibu mertuaku ngobrol sampai suamiku datang lagi dari kamar mandi. Kegundahan reda sementara.
“Besok kamu nggak usah kerja ya…?” mertuaku sudah berbicara sebelum suamiku menggeser kursi tempat duduknya.
“Jam berapa rupanya pulang Nge ?, Apa bukan sore tiketnya ?”
“Pulang sore. Cuman temanin dulu ibu besok ke Kantor Pemasaran Perumahan terdekat. Sekalian jalan-jalan sama Mak Prana dan cucuku”.
Aku terperanjat, namberru mau beli rumah ? Lalu untuk siapa ? Buat si bungsu yang mau menikah ? Gaya amat!. Sayangnya suamiku tidak bertanya untuk apa dan buat siapa, apalagi menanyakan uangnya dari mana. Itu sudah kebiasannya kalau ibunya yang menyuruh melakukan sesuatu tidak pernah bertanya untuk apa dan tidak pernah membantah apalagi bersungut-sungut. Dia terlalu percaya apa yang dikatakan ibunya selalu benar, jadi tidak perlu berkomentar. Suatu pengabdian yang terlalu membabi buta. Maka segera suamiku menelpon temannya untuk menggantikan posisinya esok hari. Bah ?! Kalau untuk aku tidak boleh permisi, macam-macam alasan rapat pentinglah, ketemu bos lah. Tetapi kalau buat ibunya apa saja dilakukannya. Sialan (Bersambung)

cerpen

www.imay manis saja.com

 

Cerber : ¨Inang Simatuangku ( Bagian 2)¨

Solo-solo: Rasa cemburu dihati Mak Prana terhadap mertuanya karena merasakan perhatian dan kasih sayang suaminya lebih besar terhadap dia ketimbang dirinya sebagai istri, membuat kebencian yang mendalam terhadap mertuanya tersebut. Sikap benci, sebel dan rasa curiga membuat akal sehat Mak Prana hilang dan mengacuhkan kedatangan mertuanya yang selalu dianggap beban.

Turun dari taksi, mertuaku buru-buru mengeluarkan 2 lembar uang ratusan ribu, lembaran plastik berwarna merah berkilau yang jarak kupegang sejak adik iparku diwisuda. Aku membiarkannya, itu berarti uang belanja mingguan kami tidak berkurang dan lembur suami dapat kusimpan diam-diam. Gerbang pagar rumah yang berdenyit-denyit kudorong kuat-kuat biar mertuaku tahu kami membutuhkan uang untuk perbaikan. Tanpa membuka pintu rumah aku pergi menjemput anakku Prana di rumah tetangga. Kubiarkan dia berdiri termangu di depan pintu dan pura-pura lupa pamit menjemput anakku. Dengan sengaja aku berlama-lama ngobrol dengan tetangga. Aku mau menunjukkan bahwa kehadirannya tidak kusukai. Biar tahu rasa dia !

Dari jauh kulihat mertuaku terduduk di depan pintu bersandar kelelahan diatas lantai semen beralaskan keset kaki. Kedua kakinya diselonjorkan ke depan, tas tangannya dipeluk di dadanya. Dia tersentak kaget dari kantuknya mendengar pintu gerbang berderit ketika kami masuk. Mertuaku segera berdiri menyongsong kami dan mengulurkan kedua tangannya menyambut anakku. Aku kesal melihat Prana dengan senangnya membuka kedua tangannya untuk dipangku. Anakku tertawa kegirangan dipangkuan neneknya. Ciuman itu….., aku tak suka melihatnya. Nanti anakku terinfeksi gigi serinya yang kuning bergoyang-goyang yang cuma tinggal dua buah itu. Pastilah sangat bau. Tapi aku tak punya cara menghindarinya. Mertuaku mondar mandir ke ruang tamu dan ke dapur. Aku pura-pura sibuk melipat kain di kamar. Aku tahu pastilah dia sudah lapar wong di pesawat sekarang nggak dikasih makan lagi kok paling cuma segelas aqua, tapi aku sengaja tidak menanak nasi, dan tidak pula berniat memasak.
“Suamimu jam berapa pulang ?”
“Mungkin sebentar lagi”
“Lho…, jadi kamu belum memasak nasi ?”
“Di kantornya ada rapat. Tentu sudah makan siang di sana. Nanti sore aja masak untuk makan malam”, kataku pelan tanpa menoleh. Tahu rasa kau sekarang, tahankan laparmu sampai anakmu pulang, kata hatiku puas.
“Setiap hari kita itu harus siap. Mana tau dia belum makan, atau ada hal lain yang tidak terduga. Tiba-tiba pulang, makanan sudah tersedia”
“Itu khan tergantung uang. Kalau uangnya tidak ada, apa yang mau dimasak ?’, kataku ketus.
“Lho…, kamu ini bagaimana ? Orang tidak akan mati kalau ikan atau sayur tidak ada. Tapi kalau beras tidak ada apa jadinya. Makanya dahulukan membeli yang paling penting. Buat dong skala prioritas !” “Nggak usah diajarinpun aku tahu…….!” , kataku semakin ketus….sebel..
Coba kalau anakmu tidak menjadi tanggungan kami, jenis masakan apapun bisa kuberikan buat suami dan anakku, kataku dalam hati. “Mak Prana…, ibu senang kalau kalian bahagia. Apapun yang kita suguhkan buat suami bila wajah kita cemberut, itu hambar semua. Tapi kalau kita tersenyum, sayur tak bergarampun enak terasa” “Omong kosong. Enak ya enak, hambar ya tetap aja hambar” “Maksud ibu, suasana yang menyenangkan membuat suami betah di rumah. Dia akan selalu merindukan suasana itu sehingga tidak suka mencari suasana lain di luar “.
“Namberru…, ini Jakarta ! mau sarapan banyak yang lewat, mau makan banyak restoran. Apa saja yang kita mau tinggal bilang asalkan uangnya ada. “Semuanya tinggal ini….!” kataku mengacungkan tangan menggesek jari telunjuk dengan ibu jari. Hatiku mulai panas, aku akan bilang kalau ibu datang hanya untuk meminta uang lebih baik pulang sekarang. Tapi mertuaku nampaknya mengerti sehingga dia mengalihkan pembicaraan.
“Berapa bulan lagi kontrak rumah kalian ini ?”
“Kenapa ?. Emang namberru mau membayarnya ?”, aku balik bertanya. Ini kesempatan yang tepat untuk menjebaknya.
“Ibu lebih senang kalau kalian mempunyai rumah sendiri. Ibu sudah rela meninggalkan dunia ini kalau semua anak-anak ibu sudah mempunyai rumah sendiri”.
“Namberru…….., mimpi jangan disiang bolong……….”
Aku belum selesai berbicara ketika terdengar klakson Sepeda motor di depan pintu gerbang, suamiku sudah pulang, aku buru-buru membuka pintu menyambut suamiku sebelum ibu mertuaku mendahuluinya.
“Inang sudah nyampai ?”
Uh..inang lagi, inang lagi…! Kenapa sih inangmu itu yang lebih penting dari aku ?. Tanya keadaanku lebih dahulu baru inangmu itu, khan hatiku puas ?.
“Hey……..mama dengar nggak ?”
“Apaan sih ?, ini pintunya berat buanget didorong. Belum sempat bernafas udah ditanya macam-macam”.
“Nggak jadi mama jemput inang di Bandara ?”, katanya cemas, wajahnya sudah panik diliputi kegusaran luar biasa. Disaat seperti ini sebenarnya enak untuk dikerjain. Tapi aku tidak punya nyali.
“Ada tuh…., lagi maen sama Prana”, jawabku akhirnya.

Buru-buru suamiku memarkirkan Sepeda motornya dan berlari kerumah mencari ibunya. Tubuhku terasa melayang, rasa cemburu membuatku kalah telak. Entah kapan diriku bisa lebih berharga dari mertuaku atau setidaknya setara dengan dia. Entahlah….!. Tanpa daya aku menyusul suamiku ke rumah.
Mertuaku memeluk anaknya begitu lama, mulutnya tertawa bahagia tetapi berurai air mata. Suamiku juga matanya memerah berkaca-kaca. Belum pernah kulihat suamiku meneteskan air mata, apa dan bagaimanapun persoalan yang dihadapinya. Tetapi kali ini, hatiku diliputi perasaan sepi sekali. Ada butiran air mata suamiku jatuh meleleh ke relung hatiku yang paling dalam. Ah, aku buang jauh-jauh perasaan itu. Cengeng buanget tuh anak mami, aku juga punya ibu kok. (Bersambung)

cerpen

www.imay manis saja.com


Jumat, 28/12/2007

Cerber : ¨Inang Simatuangku ( Bagian 1)¨

Solo-solo :
Cerita ini adalah fiksi, khayalan semata. Bila ada persamaan nama dan tempat hanya kebetulan belaka. Disajikan sebagai cerita bersambung dalam 6 bagian. Judul Asli “IBU MERTUA” karya Drs. Viktor H Sinamo, Kepala SMA Negeri Salak, Pakpak Bharat pernah dimuat di Majalah Mingguan Kompak Medan Edisi Februari-Maret 2006. Ditulis kembali buat pembaca pakpakonline .com oleh Ir. Paian TH Sinamo (paian_sinamo@yahoo.com)


“Tadi namberru nelpon”
“Hmh…siapa ?” suamiku bergumam nyaris tak perduli. Dilahapnya pote lauk makan siangnya tanpa mengangkat kepala.
“Mpung Prana”
“Ha….!?”
Aku benci melihat rona wajah itu yang berobah cerah tiba-tiba, rasa capek dan lapar diwajahnya tiba-tiba sirna sedenikian rupa. Asal mendengar nama inangnya disebut serasa langit dan bumi miliknya semata. Betul-betul inangen dianya, sayang buanget ama ibunya. Siapapun tak berharga dimatanya selain ibu kandungnya itu, simatuangku, ibu mertuaku yang selalu membuat hatiku pedih dan tak mampu kusaingi merebut perhatian suamiku.
“Apa katanya ?”
“Dia mau datang besok, jemput dia di Bandara Soekarno-Hatta jam dua siang:”
“Ho..ho udah berduit inangku rupanya. Keren buanget tuh mama gue naik pesawat segala !”
“Naik pesawat, kapal laut atau bus khan nggak jauh beda sekarang”, kataku cuek. Aku tak bahagia melihat kebanggaannya itu. Dalam hati aku curiga jangan-jangan kamu telah kirimin dia ongkos tanpa setahuku. Biasa emang suamiku sering mertangan podi kalau sama keluarganya.
“Tapi mama yang jemput ya…, besok kami ada rapat sampai sore. Papa pula pimpinan rapatnya, soalnya ini membahas tentang kinerja department papa”
“Mama nggak bisa……!”
“Haaaa ! apa katamu ?”
“Bagaimana dengan Prana ?”
“Titip ama tetangga”, suaranya meninggi
“Cucianku bagaimana ?”
“Hey…., mana lebih penting cucianmu apa ibu mertuamu heh?!”, bentaknya tiba-tiba. Matanya melotot bagai mata burung hantu mau menyambar mangsa. Aku makin benci. Aku bisa bayangkan derita bathinku selama janda tua yang kusebut nenek lampir itu berada di rumahku. Jiwa dan ragaku bakal tersiksa lahir bathin. Maka aku berteriak sekuat-kuatnya.
“Malas…, pokoknya aku malas !!”, aku berlari, kubanting pintu kamar sekuat-kuatnya dan menangis sesunggukan. Aku sakit hati, selalu saja ibunya yang kampungan itu lebih berharga dari padaku. Benci, sebel…..!!!
Tak lama seperti biasanya dia datang membujukku. Dengan berbagai alasan dia akan merayuku sampai tujuannya tercapai. Itu kelebihannya, menundukkan hatiku, meruntuhkan keangkuhanku.
“Mama dengar dulu. Kalau besok aku tidak masuk kantor maka tamatlah riwayatku. Lain halnya kalau ini tidak menyangkut department yang aku pimpin, aku bisa izin keluar”
“Kan bisa digantikan orang lain”, kataku sesenggukan.
“Kepala departmentnya khan aku ?, mama mau aku digantikan orang lain ?. Terus aku ditendang nggak ada jabatan lagi ?, jadi kambing congek di kantor ?, mama tau sendiri posisi papa itu banyak yang ngincer di kantor. Lagian ini khan rapat penting membahas tentang kinerja department papa yang papa pimpin setahun ini, mama ngerti dikit dong. Cari kerja sekarang sulit, jangan gara-gara dikit papa dipecat pula, mau makan apa si Prana ?”
Aku terisak-isak telungkup memeluk bantal. Kubiarkan dia ngoceh sendiri. Aku tahu bagaimanapun dia pasti berada dipihak yang menang dan aku selalu mengalah.
“Kau, asal mendengar tentang ibuku langsung aja rasa bencimu menutupi akal sehatmu!” bentaknya bengis.
Itu betul, aku memang membenci mertuaku, yang melahirkan suamiku kedunia ini. Tapi aku juga takut amarah suamiku. Manakala dia sudah ber-aku dan ber-kamu, tidak memanggil aku dengan mama lagi, itu pertanda amarahnya sudah serius. Aku takut kata-kata senjata pamungkasnya muncul lagi “Ibu kandung tidak bisa diganti, tetapi istri besok bisa kuperoleh lebih baik lagi. Tidak ada kuburan bekas ibu, tetapi kuburan bekas istri ada”. Itu kata-kata yang paling menyakitkan dan aku tidak mau mendengarnya dua kali. Cukuplah kata itu terpendam lima tahun merasuk jiwaku selama aku belum bisa memberikan anak buat suamiku. Sekarang aku sudah punya Prana, anak semata wayangku, tumpuan hatiku, aku sudah punya senjata meluluhkan hati suamiku. Maka demi Prana dan kelangsungan hidup rumah tanggaku aku mengalah lagi.
“Mama tidak berani naik Damri, banyak copet. Mana bawaan namberru selalu banyak pasti bawa pote dan kopi kesukaanmu, orangnya kelimpungan lagi”
“Iya…udah naik taksi aja”
“Ongkosnya….?”
“Paling juga Rp. 400.000 PP pakai uang belanja aja dulu, dua-tiga hari lagi uang lemburan papa cair nanti papa ganti”, dia udah panggil papa-mama lagi, tidak ber-kau dan ber-aku lagi, berarti emosinya sudah turun.
“Janji ya….!” sahutku sambil tersenyum dibuat-buat.
Seharusnya tak perlu aku mengatakan ini, suamiku tidak pernah berbohong masalah keuangan. Dia seorang pekerja keras, ulet, pantang menyerah dan jujur. Yang tak kusuka hanyalah sikapnya yang selalu inangen dan mengutamakan keluarganya. Terlebih-lebih selalu menghormati ibunya seakan-akan lebih memuliakannya dari pada Tuhan. Orang tua adalah Tuhan yang kelihatan, begitu semboyannya. Justru aku sendiri yang berjanji dalam hati, jika mertuaku datang hanya untuk minta duit dengan beribu macam alasan. Kali ini aku harus tegas dan keras. Akan kuusir nenek lampir itu atau aku harus pergi selamanya dengan Prana, biar dia tinggal ama ibunya aja, menyusu ama ibunya kembali kayak anak mbara.
Aku tak bergeming manakala suamiku wanti-wanti mengingatkan agar aku menjemputnya di Bandara ketika mau berangkat ke kantor, lambaian tangannya dari sadel Sepeda Motor tidak kubalas sama sekali. Tapi masih kudengar dia akan menelpon dari kantor menceking apakah ibunya sudah sampai di rumah atau belum. Aku masih kesal, semalaman tidak nyenyak tidur memikirkan strategy menghadapi mertua, orang satu-saunya yang paling kubenci di dunia ini. Kalau sudah masalah dengan mertua aku mengalah, mengalah dan mengalah terus membuatku senewen tidak karuan.
Aku terduduk lemas tak berdaya bukan karena kurang energi tetapi karena tekanan psikologis yang membebani otak dan pikiranku. Jiwaku lelah ! Kupandangi asbes rumah kontrakan yang bolong-bolong. Andaikata ibu mertuaku tidak minta duit terus menerus, mungkin kami sudah punya rumah sendiri atau setidaknya dapat mengontrak rumah yang lebih layak huni. Kasihan Prana kalau hujan deras bocor, dia kedinginan malah setahun ini sudah dua kali kami kebanjiran.
“Adikmu lulus diterima di Fakultas Teknik USU, puji Tuhan walau baru ditinggal bapaknya dia tetap tekun belajar”, kata ibu mertuaku waktu itu. “Dia memerlukan biaya besar. Uang kuliah sekarang nggak kayak dulu lagi. Apa namanya USU sudah jadi Badan Hukum Milik Negara. Ditambah lagi kontrak kamar kost, Uang makan, Buku-buku, Ongkos-ongkos dan uang Paraktikum, maklum Teknik….calon insiyur dia”
“Lantas maksud namberru apa ?”, tanyaku tidak senang sebelum suamiku bertanya berapa jumlah uang yang diperlukannya. “Aku sanggup meminjam uang Koperasi Pensiunan hanya untuk uang kuliahnya saja, selebihnya aku minta tolong bantuan kalian”.
“Kami juga belum berkecukupan, kok bisa-bisanya menolong orang lain”, sahutku sebel.
“Orang lain ?. Itu satu-satunya adik iparmu yang belum bekerja. Kalian belum punya anak, apa salahnya berhemat sedikit demi adik ipar. Dia tidak kematian ayah. Yang kematian ayah itu Bapak Prana, suamimu. Kalau adik iparmu masih punya ayah…Bapak Prana sebagai anak situaan
Puih…! Ceramahnya itu kalau sudah tentang adatnya, adat Pakpak menyebalkan hatiku, aku menyesal menikah dengan kalak Pakpak. Kalau sudah begini timbul penyesalan dihatiku kenapa menikah dengan Bapak Prana yang lain suku sama aku. Mending aku menikah dengan pacarku dulu yang calon dokter, satu suku lagi ama aku. Apalagi kalau sudah menyinggung anak, aku tersinggung berat gara-gara kami belum dikaruniai anak dijadikannya alasan untuk memaksakan kehendaknya membiayai anak hasiannya, siampunennya. Hatiku pedih bercampur cemas. Khabarnya orang Pakpak itu, orang kampung itu biasa menyuruh anaknya kawin lagi kalau sudah menikah dua-tiga tahun tetapi belum mempunyai anak juga. Malah katanya kalaupun sudah punya anak banyak tetapi tidak mempunyai anak laki-laki tetap disuruh kawin agar dapat anak lelaki penerus marganya. Ini menjadi titik kelemahan bagiku sehingga terpaksa aku mengalah lagi dan mengalah terus.
“Mestinya namberru tidak perlu datang kesini hanya karena biaya kalak anggi, ongkos namberru aja sudah cukup bayar kamar kostnya”, nada suaraku menurun drastis.
“Aku indu ama kalian………..”, mertuaku merayu, “Lagipula ini khan masalah masa depan adik iparmu. Bisa lima atau enam tahun baru tamat”.
Aku terpukul telak. Berarti maksud mertuaku lima atau enam tahun kami harus menolongnya. Pikiranku kalut, sementara suamiku tenang-tenang aja menikmati kopi Sidikalangnya, oleh-oleh inang kesayangannya. Dasar anak mami…
“Sudahlah…, aku pusing, terserah anak namberru aja…!”, kataku putus asa.
“Itu saja pusing….”, kata suamiku kalem. Aku semakin panik mendengar jawaban itu. Enteng aja dia berkata begitu, yang mengetahui biaya hidup sehari-hari khan aku ?!.
“Pokoknya aku tidak ada menyimpan uang..”
“Nggak masalah”.
“Apa sih maksud papa ?”
“Besok papa pinjam uang Koperasi Karyawan. Potong gaji setiap bulan”
“Jadi kita makan apa setiap bulan ?”
“Nggak usah risau. Tuhan Maha Kaya, burung-burung di udarapun dikasih makan walau tidak pernah menanam dan menuai”
“Kita khan bukan burung ?”
“Tenang aja. Pulang ngantor aku bisa cari sampingan, ngajar kek, ngompreng kek”
Jadilah suamiku meminjam uang Koperasi Karyawan dengan cicilan selama tiga tahun. Aku sesungguhnya tidak rela namun apa mau dikata. Terpaksa aku tanda tangani formulir yang disodorkannya sebagai istri karyawan. Setuju atau tidak setuju kalaupun tidak kutanda tangani dia akan cari lain, jadi apa artinya melawan atau unjuk rasa ?. Rela tidak rela kami harus siap menderita selama tiga tahun ke depan. Namun ternyata persoalan tidak sampai disini. Penderitaan demi penderitaan silih berganti demi si bungsu adik suamiku itu.
Ada saja alasannya untuk minta duit sama suamiku, padahal setiap bulan kami sudah mensubsidi biayanya via wessel Pos. Sakitnya lagi aku yang selalu disuruh suamiku ke kantor Pos mengirimkannya. Setiap bulan kami mengirimkan seratus ribu rupiah ke Medan menambah biaya kuliahnya. Mungkin kalau semua biaya yang kami kirim ke Medan itu ditabung sudah bisa kali kami beli mobil Kijang bekas, atau kami sudah punya rumah sendiri kali ya ?....nasib….nasib punya suami kalak Pakpak. Orang bilang saya bahagia istri insiyur tapi akulah yang tahu bagaimana tersiksanya mempunyai suami anak dari nenek lampir.
Tiga tahun terakhir ini kami harus pula membayar uang kuliahnya, alasannya karena pensiun janda mertuaku sudah digunakan membayar cicilan Sepeda motor buat anak buntutnya itu. “Gila itu anak, enak-enak aja membeli Sepeda Motor, sementara orang harus mengirit irit biaya hidup. Katanya sih kalau praktek lapangan suka jauh-jauh dan menjumpai dosen pembimbingnya suka malam hari, susah menjumpainya”. Alasan aja kalau ada niat naik Sudaco khan bisa ? dasar anak siampunen, manjanya setengah hidup mentang-mentang punya abang berhati malaikat ama adiknya. Itu juga gara-gara mertuaku nenek lampir itu yang manjain, apapun diturutinya asalkan anak kesayangannya itu kuliah. Duh gila…….orang tua gila….., orang sukses itu harus mandiri dong, jangan menggerogoti abang sendiri ….…….. capek deh.
Mau dibilangin sama suami ? Lebih parah dari ibunya. Malah dia lebih suka berhenti merokok, berhenti minum kopi dan nggak usah serapan pagi, asal adiknya bisa sekolah. “Kasihan dia, nggak sempat merasakan kasih sayang ayah, akulah ayahnya”, katanya. Maka bathinku makin tersiksa. Aku sadar belum dapat memberinya anak, maka adiknya sendirilah yang dianggapnya anak……..Huh sebel…..sebellllllllll.
Setengah hati aku berangkat pergi, menyusuri lorong dan gang kumuh di daerah kontrakan kami. Sekali naik ojek terus dua kali naik Metro Mini baru dapat lin Damri Bandara. Pekerjaan yang amat melelahkan, apalagi pekerjaan yang tak kusuka sama sekali. Sebenarnya suamiku telah menyetujui untuk naik taksi PP pakai uang belanja, tapi aku mending naik angkot aja sambung menyambung ntar laporan naik taksi uangnya aku simpan saja. Rasain……..lu
Kupikir dahulu setelah dapat momongan persoalan akan selesai, namun ternyata setelah Prana Maholi Mendena lahir kami malah menanggung biaya yang lebih besar. Entah apa saja alasan keperluannya, bagiku hanya satu kata : Uang keluar ! titik. Sakit hatiku makin parah lagi manakala siampunen itu mau wisuda, ibu mertuaku datang lagi. Suamiku sudah tidak bisa lagi minjam ke Koperasi Karyawan karena cicilan utangnya belum selesai. Kartu kreditnya juga sudah over limit. Suamiku dengan bangganya menjual Sepeda motor satu-satunya milik kami yang paling berharga. Dahulu waktu membelinya kurelakan semua perhiasanku pemberiaan ibuku waktu pesta pernikahan dulu dijual menambah uangnya yang nggak cukup. Sebagian hasil penjualan Sepeda motor itu diberikan sama ibu mertua dan sisanya untuk uang muka kredit Sepeda motor baru. Sakit sekali hatiku, tanpa izin lebih dahulu padaku, dia jual sewenang-wenang. Menyesal aku kenapa dahulu STNK nya atas nama dia ? dulu aku merasa miliknya adalah milikku maka kurelakan atas nama dia. Kalau tau begini mending atas namaku aja dulu beli Motor itu. Beban semakin bertambah aja karena harus bayar cicilan Sepeda motor, jadilah setiap bulan anakku minum susu Dancow yang tadinya minum Enfapro atau Enfagrow. Duh pedihnya hatiku, anakku turut menderita menanggung beban penderitaan gara-gara ibunya………dasar nenek lampir.
Sekarang aku pula yang harus menjemput orang yang paling kubenci. Orang yang bicaranya manis sekali, tetapi hatinya iblis berkepala tujuh. Baginya aku tidak lebih hanya seorang pembantu mengurusi anak, mengurusi sumur, dapur dan melayani anaknya di kasur. Apa yang kuperoleh selama ini ? hanya duka lara, bathin tersiksa. Inikah namanya rumah tangga ? Dimanakah kebahagiaan itu berada ? atau inikah namanya nasib, takdir atau jodoh ????
Di terminal kedatangan kulihat mertuaku berjalan celingak celinguk mencari-cari seseorang. Mungkin dia mengharap menemukan anak kesayangannya. Biarin aja! Aku tidak melambaikan tangan memberi tanda. Ech…tunggu kok aneh, dia berpakaian bagus tidak memakai kain seperti biasanya dan hanya menjinjing tas tangan; Mana kopernya? Apa dia hanya sehari aja di rumah ?. Ditarok dimana pote dan kopi oleh-olehnya ?. Biasanya setiap datang ke Jakarta selalu banyak membawa oleh-oleh, selain pote dan kopi juga adarimbang, beras pulut merah, gadong jolor, tobis dan itu tenggolon buah kesukaan suami saya yang mirip apple tapi rasanya asam manis. Konon itu buah kesukaan suami saya kala menggembala kerbau di kampung atau sedang muro perrik usai sekolah. Dan oleh-oleh ini akan mendatangkan persoalan tersendiri.
“Suamimu itu seleranya tidak pedas pedas dan nggak manis-manis. Ini sambalmu dikasih gula lagi, mana suka dia”
“Tapi dia lahap kok namberru”
“Sekarang.., selagi dia masih suka sama kamu, lama-lama dia kangen akan selera asalnya”
Itu yang membuat aku benci, selagi dia masih suka. Emangnya ada rencananya untuk tidak menyukaiku lagi ? Atau adakah batas waktu untuk berumah tangga ?., bukankah berumah tangga itu untuk selamanya ?. Kalau tidak punya anak lantas pisah begitu ? Huh dasar nenek lampir tua bangka tidak tau diri……..
“Suamimu itu lahir di kampung. Kalau tidak selera makan, kasih aja sepapan petai, langsung enzim air liurnya bereaksi. Itu kebiasannya…!!”
He..eh, tahu apa nih orang tua tentang enzim, bathinku mengejek. Orang kampung buta huruf sok menggurui.
“Hey…. mak Prana!”, tiba-tiba mertuaku sudah berada dihadapanku membuyarkan semua lamunanku. Entah kapan dan bagaimana dia dapat menemukanku.
Mertuaku memeluk dan mencium pipi kiri dan pipi kananku berulang kali. Aku tidak menanggapinya ini hanya ciuman sandiwara yang tidak pernah aku rasakan setulus hati.
“Bagaimana suamimu ? sehat ?, anakmu Prana sudah besar ?”
“Sehat namberru”, jawabku pendek tak bergairah. Hatiku teriris sembilu, yang ditanyakan keadaan anak dan cucunya. Aku sendiri berdiri tegak dihadapannya tidak ditanya sama sekali. Dasar perempuan egois, sok angkuh dan mata duitan.
Sangat malas aku melangkah ke trotoar di tepi jalan tanpa menggandeng mertuaku. Tampaknya dia terburu-buru mengikuti langkahku dari belakang. Taksi kupanggil dan sengaja duduk di disamping supir agar dia duduk dibelakang sendirian. Duduk bareng ama dia menjadikanku mual mendengar semua ocehannya yang tidak berhenti. Berbagai pertanyaan yang tak kusuka perlu dihindari sejak dini, maka lebih baik duduk terpisah. (Bersambung)

untaian kata2 bijak

www.imay manis saja.com


KEHIDUPAN
Sebab kehidupan tidak berjalan mundur, pun tidak tenggelam dimasa lampau.

KERJA
Kerja adalah wujud nyata cinta. Bila kita tidak dapat bekerja dengan
kecintaan, tapi hanya dengan kebencian, lebih baik tinggalkan pekerjaan
itu. Lalu, duduklah di gerbang rumah ibadat dan terimalah derma dari
mereka yang bekerja dengan penuh suka cita.

PENYAIR
Penyair adalah orang yang tidak bahagia, kerana betapa pun tinggi jiwa mereka, mereka tetap diselubungi airmata.
Penyair adalah adunan kegembiraan dan kepedihan dan ketakjuban, dengan sedikit kamus.
Penyair adalah raja yang tak bertakhta, yang duduk di dalam abu istananya dan cuba membangun khayalan daripada abu itu.
Penyair adalah burung yang membawa keajaiban. Dia lari dari kerajaan
syurga lalu tiba di dunia ini untuk berkicau semerdu-merdunya dengan
suara bergetar. Bila kita tidak memahaminya dengan cinta di hati, dia
akan kembali mengepakkan sayapnya lalu terbang kembali ke negeri
asalnya.

SUARA KEHIDUPANKU
Suara kehidupanku memang tak akan mampu menjangkau telinga kehidupanmu;
tapi marilah kita cuba saling bicara barangkali kita dapat mengusir
kesepian dan tidak merasa jemu.

KEINDAHAN KEHIDUPAN
Keindahan adalah kehidupan itu sendiri saat ia membuka tabir
penutup wajahnya. Dan kalian adalah kehidupannya itu, kalianlah
cadar itu. Keindahan adalah keabadian yag termangu di depan cermin. Dan
kalian; adalah keabadian itu, kalianlah cermin itu.

RUMAH
Rumahmu tak akan menjadi sebuah sangkar, melainkan tiang utama sebuah kapal layar.

PUISI
Puisi bukanlah pendapat yang dinyatakan. Ia adalah lagu yang muncul daripada luka yang berdarah atau mulut yang tersenyum.

NILAI
Nilai dari seseorang itu di tentukan dari keberaniannya memikul tanggungjawab, mencintai hidup dan pekerjaannya.

PENDERITAAN
Penderitaan yang menyakitkan adalah koyaknya kulit pembungkus
kesadaran- seperti pecahnya kulit buah supaya intinya terbuka merekah
bagi sinar matahari yang tercurah.
Kalian memiliki takdir kepastian untuk merasakan penderitaan dan
kepedihan. Jika hati kalian masih tergetar oleh rasa takjub menyaksikan
keajaiban yang terjadi dalam kehidupan, maka pedihnya penderitaan tidak
kalah menakjubkan daripada kesenangan.
Banyak di antara yang kalian menderita adalah pilihan kalian sendiri
- ubat pahit kehidupan agar manusia sembuh dari luka hati dan penyakit
jiwa. Percayalah tabib kehidupan dan teguk habis ramuan pahit itu
dengan cekal dan tanpa bicara.

SAHABAT
Sahabat adalah keperluan jiwa yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau subur dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu. Kerana kau menghampirinya
saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa memerlukan kedamaian.

SIKAP MANUSIA
Jauhkan aku dari manusia yang tidak mahu menyatakan kebenaran
kecuali jika ia berniat menyakiti hati, dan dari manusia yang bersikap
baik tapi berniat buruk, dan dari manusia yang mendapatkan penghargaan
dengan jalan memperlihatkan kesalahan orang lain.

DUA HATI
Orang yang berjiwa besar memiliki dua hati; satu hati menangis dan yang satu lagi bersabar.

HUTANG KEHIDUPAN
Periksalah buku kenanganmu semalam, dan engkau akan tahu bahwa engkau masih berhutang kepada manusia dan kehidupan.

INSPIRASI
Inspirasi akan selalu bernyanyi; kerana inspirasi tidak pernah menjelaskan.

POHON
Pohon adalah syair yang ditulis bumi pada langit. Kita tebang
pohon itu dan menjadikannya kertas, dan di atasnya kita tulis kehampaan
kita.

FALSAFAH HIDUP
Hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan
semua hasrat -keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan .
Dan pengetahuan adalah hampa jika tidak diikuti pelajaran. Dan setiap
pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai cinta

KERJA
Bekerja dengan rasa cinta, bererti menyatukan diri dengan diri kalian sendiri,dengan diri orang lain dan kepada Tuhan.
Tapi bagaimanakah bekerja dengan rasa cinta itu ? Bagaikan menenun
kain dengan benang yang ditarik dari jantungmu, seolah-olah kekasihmu
yang akan memakainya kelak.

LAGU GEMBIRA
Alangkah mulianya hati yang sedih tetapi dapat menyanyikan lagu kegembiraan bersama hati-hati yang gembira.

KEBEBASAN
Ada orang mengatakan padaku, “Jika engkau melihat ada hamba
tertidur, jangan dibangunkan, barangkali ia sedang bermimpi akan
kebebasan.”
Kujawab,”Jika engkau melihat ada hamba tertidur, bangunkan dia dan ajaklah berbicara tentang kebebasan.”

ORANG TERPUJI
Sungguh terpuji orang yang malu bila menerima pujian, dan tetap diam bila tertimpa fitnah.

BERJALAN SEIRINGAN
Aku akan berjalan bersama mereka yang berjalan. Kerana aku tidak akan
berdiri diam sebagai penonton yang menyaksikan perarakan berlalu.

DOA
Doa adalah lagu hati yang membimbing ke arah singgahsana Tuhan meskipun ditingkah oleh suara ribuan orang yang sedang meratap.

PENYIKSAAN
Penyiksaan tidak membuat manusia tak bersalah jadi menderita:
penindasan pun tak dapat menghancurkan manusia yang berada di pihak
Kebenaran: Socrates tersenyum ketika disuruh minum racun, dan Stephen
tersenyum ketika dihujani dengan lemparan batu. Yang benar-benar
menyakitkan hati ialah kesedaran kita yang menentang penyiksaan dan
penindasan itu, dan terasa pedih bila kita mengkhianatinya.

KATA-KATA
Kata-kata tidak mengenal waktu. Kamu harus mengucapkannya atau menuliskannya dengan menyedari akan keabadiannya.

BICARA WANITA
Bila dua orang wanita berbicara, mereka tidak mengatakan apa-apa;
tetapi jika seorang saja yang berbicara, dia akan membuka semua tabir
kehidupannya.

KESADARAN
Aku tidak mengetahui kebenaran mutlak. Tetapi aku menyedari kebodohanku itu, dan di situlah terletak kehormatan dan pahalaku.

ILMU DAN AGAMA
Ilmu dan agama itu selalu sepakat, tetapi ilmu dan iman selalu bertengkar.

NILAI BURUK
Alangkah buruknya nilai kasih sayang yang meletakkan batu di satu sisi bangunan dan menghancurkan dinding di sisi lainnya.

MENUAI CINTA
Manusia tidak dapat menuai cinta sampai dia merasakan
perpisahan yang menyedihkan, dan yang mampu membuka fikirannya,
merasakan kesabaran yang pahit dan kesulitan yang menyedihkan.

SELAMATKAN AKU
Selamatkan aku dari dia yang tidak mengatakan kebenaran
kecuali kalau kebenaran itu menyakiti; dan dari orang yang berperilaku
baik tetapi berniat buruk; dan dari dia yang memperoleh nilai dirinya
dengan mencela orang lain.

CINTA
Salahlah bagi orang yang mengira bahwa cinta itu datang kerana pergaulan yang lama dan rayuan yang terus menerus.
Cinta adalah tunas pesona jiwa, dan jika tunas ini tak tercipta
dalam sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun atau bahkan abad.

CINTA
Ketika cinta memanggilmu maka dekatilah dia walau jalannya
terjal berliku, jika cinta memelukmu maka dakaplah ia walau pedang di
sela-sela sayapnya melukaimu.

CINTA
Cinta tidak menyedari kedalamannya dan terasa pada saat
perpisahan pun tiba. Dan saat tangan laki-laki menyentuh tangan seorang
perempuan mereka berdua telah menyentuh hati keabadian.

CINTA
Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia kerana cinta itu
membangkitkan semangat- hukum-hukum kemanusiaan dan gejala alami pun
tak mampu mengubah perjalanannya.

CINTA
Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam
kehidupan ini, pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang
akan datang

ATAS NAMA CINTA
Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan
pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak
pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan
abad.

CINTA YANG BERLALU
Cinta berlalu di depan kita, terbalut dalam kerendahan hati; tetapi
kita lari daripadanya dalam ketakutan, atau bersembunyi di dalam
kegelapan; atau yang lain mengejarnya, untuk berbuat jahat atas namanya.

CINTA LELAKI
Setiap lelaki mencintai dua orang perempuan, yang pertama adalah imaginasinya dan yang kedua adalah yang belum dilahirkan.

TAKDIR CINTA
Aku mencintaimu kekasihku, sebelum kita berdekatan, sejak pertama kulihat engkau.
Aku tahu ini adalah takdir. Kita akan selalu bersama dan tidak akan ada yang memisahkan kita.

CINTA PERTAMA
Setiap orang muda pasti teringat cinta pertamanya dan mencuba menangkap
kembali hari-hari asing itu, yang kenangannya mengubah perasaan
direlung hatinya dan membuatnya begitu bahagia di sebalik, kepahitan
yang penuh misteri.

LAFAZ CINTA
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti kata yang tak
sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu… Aku ingin
mencintaimu dengan sederhana… seperti isyarat yang tak sempat
dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

LAFAZ CINTA
Jangan menangis, Kekasihku… Janganlah menangis dan berbahagialah,
kerana kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah…
kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan
duka perpisahan.

KALIMAH CINTA
Apa yang telah kucintai laksana seorang anak yang tak
henti-hentinya aku mencintai… Dan, apa yang kucintai kini… akan
kucintai sampai akhir hidupku, kerana cinta ialah semua yang dapat
kucapai… dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya

CINTA DAN AIRMATA
Cinta yang dibasuh oleh airmata akan tetap murni dan indah sentiasa.

WANITA
Seorang wanita telah dilengkapi oleh Tuhan dengan keindahan
jiwa dan raga adalah suatu kebenaran, yang sekaligus nyata dan maya,
yang hanya bisa kita fahami dengan cinta kasih, dan hanya bisa kita
sentuh dengan kebajikan.

BANGSA
Manusia terbahagi dalam bangsa, negara dan segala perbatasan.
Tanah airku adalah alam semesta. Aku warganegara dunia kemanusiaan.

KESENANGAN
Kesenangan adalah kesedihan yang terbuka bekasnya. Tawa dan airmata datang dari sumber yang sama.
Semakin dalam kesedihan menggoreskan luka ke dalam jiwa semakin mampu sang jiwa menampung kebahagiaan;

WARISAN
Manusia yang memperoleh kekayaannya oleh kerana warisan, membangun istananya dengan yang orang-orang miskin yang lemah.

RESAH HATI
Jika manusia kehilangan sahabatnya, dia akan melihat
sekitarnya dan akan melihat sahabat-sahabatnya datang dan
menghiburkannya. Akan tetapi apabila hati manusia kehilangan
kedamaiannya, dimanakah dia akan menemukannya, bagaimanakah dia akan
bisa
memperolehinya kembali?

JIWA
Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan
kerana alasan duniawi dan dipisahkan di hujung bumi. Namun jiwa tetap
ada di tangan cinta… terus hidup… sampai kematian datang dan menyeret
mereka kepada Tuhan.

LUAHAN
Setitiss airmata menyatukanku dengan mereka yang patah hati;
seulas senyum menjadi sebuah tanda kebahagiaanku dalam kewujudan… Aku
merasa lebih baik jika aku mati dalam hasrat dan kerinduan…dari aku
hidup menjemukan dan putus asa.

LAGU KEINDAHAN
Jika kamu menyanyikan lagu tentang keindahan, walau sendirian di puncak gurun, kamu akan didengari.

DIRI
Dirimu terdiri dari dua; satu membayangkan ia mengetahui
dirinya dan yang satu lagi membayangkan bahawa orang lain mengetahui ia.

TEMAN MENANGIS
Kamu mungkin akan melupakan orang yang tertawa denganmu, tetapi tidak mungkin melupakan orang yang pernah menangis denganmu.

PEMAHAMAN DIRI
Orang-orang berkata, jika ada yang dapat memahami dirinya
sendiri, ia akan dapat memahami semua orang. Tapi aku berkata, jika ada
yang mencintai orang lain, ia dapat mempelajari sesuatu tentang dirinya
sendiri.

HATI LELAKI
Ramai wanita yang meminjam hati laki-laki; tapi sangat sedikit yang mampu memilikinya.

PENULIS
Kebanyakan penulis menampal fikiran-fikiran mereka yang tidak karuan dengan bahan tampalan daripada kamus.

HARTA BENDA
Harta benda yang tak punya batas, membunuh manusia perlahan
dengan kepuasan yang berbisa. Kasih sayang membangunkannya dan pedih
peri nestapa membuka jiwanya.

OBOR HATI
Tuhan telah menyalakan obor dalam hatimu yang memancarkan cahaya
pengetahuan dan keindahan; sungguh berdosa jika kita memadamkannya dan
mencampakkannya dalam abu.

KESEPIAN
Kesepianku lahir ketika orang-orang memuji kelemahan-kelemahanku yang ramah dan menyalahkan kebajikan-kebajikanku yang pendiam.

KEABADIAN PANTAI
Aku berjalan selalu di pantai ini. Antara pasir dan buih, Air pasang
bakal menghapus jejakku. Dan angin kencang menyembur hilang buih putih.
Namun lautan dan pantai akan tinggal abadi

MEMAHAMI TEMAN
Jika kamu tidak memahami teman kamu dalam semua keadaan, maka kamu tidak akan pernah memahaminya sampai bila-bila.

MANUSIA SAMA
Jika di dunia ini ada dua orang yang sama, maka dunia tidak akan cukup besar untuk menampung mereka.

MENCINTAI
Kekuatan untuk mencintai adalah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan
kepada manusia, sebab kekuatan itu tidak akan pernah direnggut dari
manusia penuh berkat yang mencinta.

CERMIN DIRI
Ketika aku berdiri bagaikan sebuah cermin jernih di hadapanmu,
kamu memandang ke dalam diriku dan melihat bayanganmu. Kemudian kamu berkata,
Aku cinta kamu.
Tetapi sebenarnya, kamu mencintai dirimu dalam diriku

KEBIJAKSANAAN
Kebijaksanaan tidak lagi merupakan kebijaksanaan apabila ia menjadi
terlalu angkuh untuk menangis, terlalu serius untuk tertawa, dan
terlalu egois untuk melihat yang lain kecuali dirinya sendiri. (keinginan yang bijak)

KEBENARAN
Diperlukan dua orang untuk menemui kebenaran; satu untuk mengucapkannya dan satu lagi untuk memahaminya.

NYANYIAN PANTAI
Apakah nyanyian laut berakhir di pantai atau dalam hati-hati mereka yang mendengarnya?