www.imay manis saja.com
Jumat, 28/12/2007
Cerber : ¨Inang Simatuangku ( Bagian 1)¨
Solo-solo :
Cerita ini adalah fiksi, khayalan semata. Bila ada persamaan nama dan tempat hanya kebetulan belaka. Disajikan sebagai cerita bersambung dalam 6 bagian. Judul Asli “IBU MERTUA” karya Drs. Viktor H Sinamo, Kepala SMA Negeri Salak, Pakpak Bharat pernah dimuat di Majalah Mingguan Kompak Medan Edisi Februari-Maret 2006. Ditulis kembali buat pembaca pakpakonline .com oleh Ir. Paian TH Sinamo (paian_sinamo@yahoo.com)
“Tadi
namberru nelpon”
“Hmh…siapa ?” suamiku bergumam nyaris tak perduli. Dilahapnya pote lauk makan siangnya tanpa mengangkat kepala.
“Mpung Prana”
“Ha….!?”
Aku benci melihat rona wajah itu yang berobah cerah tiba-tiba, rasa capek dan lapar diwajahnya tiba-tiba sirna sedenikian rupa. Asal mendengar nama inangnya disebut serasa langit dan bumi miliknya semata. Betul-betul
inangen dianya, sayang buanget ama ibunya. Siapapun tak berharga dimatanya selain ibu kandungnya itu,
simatuangku, ibu mertuaku yang selalu membuat hatiku pedih dan tak mampu kusaingi merebut perhatian suamiku.
“Apa katanya ?”
“Dia mau datang besok, jemput dia di Bandara Soekarno-Hatta jam dua siang:”
“Ho..ho udah berduit inangku rupanya. Keren buanget tuh mama gue naik pesawat segala !”
“Naik pesawat, kapal laut atau bus khan nggak jauh beda sekarang”, kataku cuek. Aku tak bahagia melihat kebanggaannya itu. Dalam hati aku curiga jangan-jangan kamu telah kirimin dia ongkos tanpa setahuku. Biasa emang suamiku sering mertangan podi kalau sama keluarganya.
“Tapi mama yang jemput ya…, besok kami ada rapat sampai sore. Papa pula pimpinan rapatnya, soalnya ini membahas tentang kinerja department papa”
“Mama nggak bisa……!”
“Haaaa ! apa katamu ?”
“Bagaimana dengan Prana ?”
“Titip ama tetangga”, suaranya meninggi
“Cucianku bagaimana ?”
“Hey…., mana lebih penting cucianmu apa ibu mertuamu heh?!”, bentaknya tiba-tiba. Matanya melotot bagai mata burung hantu mau menyambar mangsa. Aku makin benci. Aku bisa bayangkan derita bathinku selama janda tua yang kusebut nenek lampir itu berada di rumahku. Jiwa dan ragaku bakal tersiksa lahir bathin. Maka aku berteriak sekuat-kuatnya.
“Malas…, pokoknya aku malas !!”, aku berlari, kubanting pintu kamar sekuat-kuatnya dan menangis sesunggukan. Aku sakit hati, selalu saja ibunya yang kampungan itu lebih berharga dari padaku. Benci, sebel…..!!!
Tak lama seperti biasanya dia datang membujukku. Dengan berbagai alasan dia akan merayuku sampai tujuannya tercapai. Itu kelebihannya, menundukkan hatiku, meruntuhkan keangkuhanku.
“Mama dengar dulu. Kalau besok aku tidak masuk kantor maka tamatlah riwayatku. Lain halnya kalau ini tidak menyangkut department yang aku pimpin, aku bisa izin keluar”
“Kan bisa digantikan orang lain”, kataku sesenggukan.
“Kepala departmentnya khan aku ?, mama mau aku digantikan orang lain ?. Terus aku ditendang nggak ada jabatan lagi ?, jadi kambing congek di kantor ?, mama tau sendiri posisi papa itu banyak yang ngincer di kantor. Lagian ini khan rapat penting membahas tentang kinerja department papa yang papa pimpin setahun ini, mama ngerti dikit dong. Cari kerja sekarang sulit, jangan gara-gara dikit papa dipecat pula, mau makan apa si Prana ?”
Aku terisak-isak telungkup memeluk bantal. Kubiarkan dia ngoceh sendiri. Aku tahu bagaimanapun dia pasti berada dipihak yang menang dan aku selalu mengalah.
“Kau, asal mendengar tentang ibuku langsung aja rasa bencimu menutupi akal sehatmu!” bentaknya bengis.
Itu betul, aku memang membenci mertuaku, yang melahirkan suamiku kedunia ini. Tapi aku juga takut amarah suamiku. Manakala dia sudah ber-aku dan ber-kamu, tidak memanggil aku dengan mama lagi, itu pertanda amarahnya sudah serius. Aku takut kata-kata senjata pamungkasnya muncul lagi
“Ibu kandung tidak bisa diganti, tetapi istri besok bisa kuperoleh lebih baik lagi. Tidak ada kuburan bekas ibu, tetapi kuburan bekas istri ada”. Itu kata-kata yang paling menyakitkan dan aku tidak mau mendengarnya dua kali. Cukuplah kata itu terpendam lima tahun merasuk jiwaku selama aku belum bisa memberikan anak buat suamiku. Sekarang aku sudah punya Prana, anak semata wayangku, tumpuan hatiku, aku sudah punya senjata meluluhkan hati suamiku. Maka demi Prana dan kelangsungan hidup rumah tanggaku aku mengalah lagi.
“Mama tidak berani naik Damri, banyak copet. Mana bawaan
namberru selalu banyak pasti bawa pote dan kopi kesukaanmu, orangnya kelimpungan lagi”
“Iya…udah naik taksi aja”
“Ongkosnya….?”
“Paling juga Rp. 400.000 PP pakai uang belanja aja dulu, dua-tiga hari lagi uang lemburan papa cair nanti papa ganti”, dia udah panggil papa-mama lagi, tidak ber-kau dan ber-aku lagi, berarti emosinya sudah turun.
“Janji ya….!” sahutku sambil tersenyum dibuat-buat.
Seharusnya tak perlu aku mengatakan ini, suamiku tidak pernah berbohong masalah keuangan. Dia seorang pekerja keras, ulet, pantang menyerah dan jujur. Yang tak kusuka hanyalah sikapnya yang selalu
inangen dan mengutamakan keluarganya. Terlebih-lebih selalu menghormati ibunya seakan-akan lebih memuliakannya dari pada Tuhan. Orang tua adalah Tuhan yang kelihatan, begitu semboyannya. Justru aku sendiri yang berjanji dalam hati, jika mertuaku datang hanya untuk minta duit dengan beribu macam alasan. Kali ini aku harus tegas dan keras. Akan kuusir nenek lampir itu atau aku harus pergi selamanya dengan Prana, biar dia tinggal ama ibunya aja, menyusu ama ibunya kembali kayak
anak mbara.
Aku tak bergeming manakala suamiku wanti-wanti mengingatkan agar aku menjemputnya di Bandara ketika mau berangkat ke kantor, lambaian tangannya dari sadel Sepeda Motor tidak kubalas sama sekali. Tapi masih kudengar dia akan menelpon dari kantor menceking apakah ibunya sudah sampai di rumah atau belum. Aku masih kesal, semalaman tidak nyenyak tidur memikirkan strategy menghadapi mertua, orang satu-saunya yang paling kubenci di dunia ini. Kalau sudah masalah dengan mertua aku mengalah, mengalah dan mengalah terus membuatku senewen tidak karuan.
Aku terduduk lemas tak berdaya bukan karena kurang energi tetapi karena tekanan psikologis yang membebani otak dan pikiranku. Jiwaku lelah ! Kupandangi asbes rumah kontrakan yang bolong-bolong. Andaikata ibu mertuaku tidak minta duit terus menerus, mungkin kami sudah punya rumah sendiri atau setidaknya dapat mengontrak rumah yang lebih layak huni. Kasihan Prana kalau hujan deras bocor, dia kedinginan malah setahun ini sudah dua kali kami kebanjiran.
“Adikmu lulus diterima di Fakultas Teknik USU, puji Tuhan walau baru ditinggal bapaknya dia tetap tekun belajar”, kata ibu mertuaku waktu itu. “Dia memerlukan biaya besar. Uang kuliah sekarang nggak kayak dulu lagi. Apa namanya USU sudah jadi Badan Hukum Milik Negara. Ditambah lagi kontrak kamar kost, Uang makan, Buku-buku, Ongkos-ongkos dan uang Paraktikum, maklum Teknik….calon insiyur dia”
“Lantas maksud
namberru apa ?”, tanyaku tidak senang sebelum suamiku bertanya berapa jumlah uang yang diperlukannya. “Aku sanggup meminjam uang Koperasi Pensiunan hanya untuk uang kuliahnya saja, selebihnya aku minta tolong bantuan kalian”.
“Kami juga belum berkecukupan, kok bisa-bisanya menolong orang lain”, sahutku sebel.
“Orang lain ?. Itu satu-satunya adik iparmu yang belum bekerja. Kalian belum punya anak, apa salahnya berhemat sedikit demi adik ipar. Dia tidak kematian ayah. Yang kematian ayah itu Bapak Prana, suamimu. Kalau adik iparmu masih punya ayah…Bapak Prana sebagai anak
situaan”
Puih…! Ceramahnya itu kalau sudah tentang adatnya, adat Pakpak menyebalkan hatiku, aku menyesal menikah dengan
kalak Pakpak. Kalau sudah begini timbul penyesalan dihatiku kenapa menikah dengan Bapak Prana yang lain suku sama aku. Mending aku menikah dengan pacarku dulu yang calon dokter, satu suku lagi ama aku. Apalagi kalau sudah menyinggung anak, aku tersinggung berat gara-gara kami belum dikaruniai anak dijadikannya alasan untuk memaksakan kehendaknya membiayai
anak hasiannya, siampunennya. Hatiku pedih bercampur cemas. Khabarnya orang Pakpak itu, orang kampung itu biasa menyuruh anaknya kawin lagi kalau sudah menikah dua-tiga tahun tetapi belum mempunyai anak juga. Malah katanya kalaupun sudah punya anak banyak tetapi tidak mempunyai anak laki-laki tetap disuruh kawin agar dapat anak lelaki penerus marganya. Ini menjadi titik kelemahan bagiku sehingga terpaksa aku mengalah lagi dan mengalah terus.
“Mestinya
namberru tidak perlu datang kesini hanya karena biaya
kalak anggi, ongkos namberru aja sudah cukup bayar kamar kostnya”, nada suaraku menurun drastis.
“Aku indu ama kalian………..”, mertuaku merayu, “Lagipula ini khan masalah masa depan adik iparmu. Bisa lima atau enam tahun baru tamat”.
Aku terpukul telak. Berarti maksud mertuaku lima atau enam tahun kami harus menolongnya. Pikiranku kalut, sementara suamiku tenang-tenang aja menikmati kopi Sidikalangnya, oleh-oleh inang kesayangannya. Dasar anak mami…
“Sudahlah…, aku pusing, terserah
anak namberru aja…!”, kataku putus asa.
“Itu saja pusing….”, kata suamiku kalem. Aku semakin panik mendengar jawaban itu. Enteng aja dia berkata begitu, yang mengetahui biaya hidup sehari-hari khan aku ?!.
“Pokoknya aku tidak ada menyimpan uang..”
“Nggak masalah”.
“Apa sih maksud papa ?”
“Besok papa pinjam uang Koperasi Karyawan. Potong gaji setiap bulan”
“Jadi kita makan apa setiap bulan ?”
“Nggak usah risau. Tuhan Maha Kaya, burung-burung di udarapun dikasih makan walau tidak pernah menanam dan menuai”
“Kita khan bukan burung ?”
“Tenang aja. Pulang ngantor aku bisa cari sampingan, ngajar kek, ngompreng kek”
Jadilah suamiku meminjam uang Koperasi Karyawan dengan cicilan selama tiga tahun. Aku sesungguhnya tidak rela namun apa mau dikata. Terpaksa aku tanda tangani formulir yang disodorkannya sebagai istri karyawan. Setuju atau tidak setuju kalaupun tidak kutanda tangani dia akan cari lain, jadi apa artinya melawan atau unjuk rasa ?. Rela tidak rela kami harus siap menderita selama tiga tahun ke depan. Namun ternyata persoalan tidak sampai disini. Penderitaan demi penderitaan silih berganti demi si bungsu adik suamiku itu.
Ada saja alasannya untuk minta duit sama suamiku, padahal setiap bulan kami sudah mensubsidi biayanya via wessel Pos. Sakitnya lagi aku yang selalu disuruh suamiku ke kantor Pos mengirimkannya. Setiap bulan kami mengirimkan seratus ribu rupiah ke Medan menambah biaya kuliahnya. Mungkin kalau semua biaya yang kami kirim ke Medan itu ditabung sudah bisa kali kami beli mobil Kijang bekas, atau kami sudah punya rumah sendiri kali ya ?....nasib….nasib punya suami kalak Pakpak. Orang bilang saya bahagia istri insiyur tapi akulah yang tahu bagaimana tersiksanya mempunyai suami anak dari nenek lampir.
Tiga tahun terakhir ini kami harus pula membayar uang kuliahnya, alasannya karena pensiun janda mertuaku sudah digunakan membayar cicilan Sepeda motor buat anak buntutnya itu. “Gila itu anak, enak-enak aja membeli Sepeda Motor, sementara orang harus mengirit irit biaya hidup. Katanya sih kalau praktek lapangan suka jauh-jauh dan menjumpai dosen pembimbingnya suka malam hari, susah menjumpainya”. Alasan aja kalau ada niat naik Sudaco khan bisa ? dasar anak
siampunen, manjanya setengah hidup mentang-mentang punya abang berhati malaikat ama adiknya. Itu juga gara-gara mertuaku nenek lampir itu yang manjain, apapun diturutinya asalkan anak kesayangannya itu kuliah. Duh gila…….orang tua gila….., orang sukses itu harus mandiri dong, jangan menggerogoti abang sendiri ….…….. capek deh.
Mau dibilangin sama suami ? Lebih parah dari ibunya. Malah dia lebih suka berhenti merokok, berhenti minum kopi dan nggak usah serapan pagi, asal adiknya bisa sekolah. “Kasihan dia, nggak sempat merasakan kasih sayang ayah, akulah ayahnya”, katanya. Maka bathinku makin tersiksa. Aku sadar belum dapat memberinya anak, maka adiknya sendirilah yang dianggapnya anak……..Huh sebel…..sebellllllllll.
Setengah hati aku berangkat pergi, menyusuri lorong dan gang kumuh di daerah kontrakan kami. Sekali naik ojek terus dua kali naik Metro Mini baru dapat lin Damri Bandara. Pekerjaan yang amat melelahkan, apalagi pekerjaan yang tak kusuka sama sekali. Sebenarnya suamiku telah menyetujui untuk naik taksi PP pakai uang belanja, tapi aku mending naik angkot aja sambung menyambung ntar laporan naik taksi uangnya aku simpan saja. Rasain……..lu
Kupikir dahulu setelah dapat momongan persoalan akan selesai, namun ternyata setelah Prana Maholi Mendena lahir kami malah menanggung biaya yang lebih besar. Entah apa saja alasan keperluannya, bagiku hanya satu kata : Uang keluar ! titik. Sakit hatiku makin parah lagi manakala
siampunen itu mau wisuda, ibu mertuaku datang lagi. Suamiku sudah tidak bisa lagi minjam ke Koperasi Karyawan karena cicilan utangnya belum selesai. Kartu kreditnya juga sudah over limit. Suamiku dengan bangganya menjual Sepeda motor satu-satunya milik kami yang paling berharga. Dahulu waktu membelinya kurelakan semua perhiasanku pemberiaan ibuku waktu pesta pernikahan dulu dijual menambah uangnya yang nggak cukup. Sebagian hasil penjualan Sepeda motor itu diberikan sama ibu mertua dan sisanya untuk uang muka kredit Sepeda motor baru. Sakit sekali hatiku, tanpa izin lebih dahulu padaku, dia jual sewenang-wenang. Menyesal aku kenapa dahulu STNK nya atas nama dia ? dulu aku merasa miliknya adalah milikku maka kurelakan atas nama dia. Kalau tau begini mending atas namaku aja dulu beli Motor itu. Beban semakin bertambah aja karena harus bayar cicilan Sepeda motor, jadilah setiap bulan anakku minum susu Dancow yang tadinya minum Enfapro atau Enfagrow. Duh pedihnya hatiku, anakku turut menderita menanggung beban penderitaan gara-gara ibunya………dasar nenek lampir.
Sekarang aku pula yang harus menjemput orang yang paling kubenci. Orang yang bicaranya manis sekali, tetapi hatinya iblis berkepala tujuh. Baginya aku tidak lebih hanya seorang pembantu mengurusi anak, mengurusi sumur, dapur dan melayani anaknya di kasur. Apa yang kuperoleh selama ini ? hanya duka lara, bathin tersiksa. Inikah namanya rumah tangga ? Dimanakah kebahagiaan itu berada ? atau inikah namanya nasib, takdir atau jodoh ????
Di terminal kedatangan kulihat mertuaku berjalan celingak celinguk mencari-cari seseorang. Mungkin dia mengharap menemukan anak kesayangannya. Biarin aja! Aku tidak melambaikan tangan memberi tanda. Ech…tunggu kok aneh, dia berpakaian bagus tidak memakai kain seperti biasanya dan hanya menjinjing tas tangan; Mana kopernya? Apa dia hanya sehari aja di rumah ?. Ditarok dimana pote dan kopi oleh-olehnya ?. Biasanya setiap datang ke Jakarta selalu banyak membawa oleh-oleh, selain pote dan kopi juga ada
rimbang, beras pulut merah, gadong jolor, tobis dan itu tenggolon buah kesukaan suami saya yang mirip apple tapi rasanya asam manis. Konon itu buah kesukaan suami saya kala menggembala kerbau di kampung atau sedang
muro perrik usai sekolah. Dan oleh-oleh ini akan mendatangkan persoalan tersendiri.
“Suamimu itu seleranya tidak pedas pedas dan nggak manis-manis. Ini sambalmu dikasih gula lagi, mana suka dia”
“Tapi dia lahap kok namberru”
“Sekarang.., selagi dia masih suka sama kamu, lama-lama dia kangen akan selera asalnya”
Itu yang membuat aku benci, selagi dia masih suka. Emangnya ada rencananya untuk tidak menyukaiku lagi ? Atau adakah batas waktu untuk berumah tangga ?., bukankah berumah tangga itu untuk selamanya ?. Kalau tidak punya anak lantas pisah begitu ? Huh dasar nenek lampir tua bangka tidak tau diri……..
“Suamimu itu lahir di kampung. Kalau tidak selera makan, kasih aja sepapan petai, langsung enzim air liurnya bereaksi. Itu kebiasannya…!!”
He..eh, tahu apa nih orang tua tentang enzim, bathinku mengejek. Orang kampung buta huruf sok menggurui.
“Hey…. mak Prana!”, tiba-tiba mertuaku sudah berada dihadapanku membuyarkan semua lamunanku. Entah kapan dan bagaimana dia dapat menemukanku.
Mertuaku memeluk dan mencium pipi kiri dan pipi kananku berulang kali. Aku tidak menanggapinya ini hanya ciuman sandiwara yang tidak pernah aku rasakan setulus hati.
“Bagaimana suamimu ? sehat ?, anakmu Prana sudah besar ?”
“Sehat namberru”, jawabku pendek tak bergairah. Hatiku teriris sembilu, yang ditanyakan keadaan anak dan cucunya. Aku sendiri berdiri tegak dihadapannya tidak ditanya sama sekali. Dasar perempuan egois, sok angkuh dan mata duitan.
Sangat malas aku melangkah ke trotoar di tepi jalan tanpa menggandeng mertuaku. Tampaknya dia terburu-buru mengikuti langkahku dari belakang. Taksi kupanggil dan sengaja duduk di disamping supir agar dia duduk dibelakang sendirian. Duduk bareng ama dia menjadikanku mual mendengar semua ocehannya yang tidak berhenti. Berbagai pertanyaan yang tak kusuka perlu dihindari sejak dini, maka lebih baik duduk terpisah. (Bersambung)