Cerber : ¨Inang Simatuangku ( Selesai )¨
Solo-solo :Aku tidak membutuhkan semua harta warisan ini, aku mau mertuaku kembali. Semua harta warisan yang dihibahkan mertuaku atas namaku kubagikan buat adik iparku dan eda-edaku mengusahainya. Sedangkan uang asuransinya kuputuskan membangun simin tempat peristirahatannya yang memadai seraya memestakannya disertai penobatan saya sebagai berru Bancin. Aku mau dikasih marga sama dengan marga mertuaku. Aku mau jadi berru Pakpak seutuhnya. Aku adalah istri orang Pakpak yang kucintai jadi aku harus ikut menjadi kalak Pakpak”
Kedatangan kami di rumah duka disambut histeris ketiga edaku dan adik iparku satu-satunya. Eda itu panggilan kita kepada saudara perempuan suami kita. Mereka memeluk Pak Prana bergantian. Aku dapat memaklumi sambutan mereka terhadapku tidak terlalu hangat akibat sikapku selama ini kurang bersahabat sama mereka. Terus mereka berlima mengelilingi jenazah ibu mertuaku dan meratapinya dengan bahasa Pakpak tangis milangi. Aku berdiri terpaku memandang jenazah gosong mertuaku, tetapi wajahnya utuh tidak terbakar sedikitpun. Kulihat wajah itu bersih dan senyum manis tersungging di bibirnya seolah-olah tidur nyenyak. Dadaku sesak mau pecah penuh penyesalan, tetapi aku nggak mengerti mengutarakannya dalam bahasa Pakpak. Satu-satunya kata yang masih segar diingatanku hanya kata kodeng nanggi, judul lagu terakhir yang dinyanyikan mertuaku di taksi. Maka kukumpulkan seluruh kekuatanku dan menghambur menghampiri jenazah mertuaku
“Kodeng kempumu namberru……uu uuu, bakune nola mo ningku mengaloi kuso-kuso kempumen…idike ngo duana empungku daholi….nina. Oda pernah kuidah giamken sekali…enpe laus nola begendari kono namberu oda ne lot empung Prana sada poda giamken…ikutaen….uuuuuuu hk le inang ni namberruna”. Tiba-tiba entah darimana bibirku seolah-olah ada yang menggetarkan aku jadi mahir berbahasa Pakpak yang selama ini memang aku telah mengerti tapi aku ogah memakainya dalam percakapan sehari-hari. “Barinang roh deng kono menengngen kempumu mi Jakarta oda kuberre mangan kono isidi. …Keppe bagendari laus nola ko menadingken kami…karina ...Pangan giamken sekalinai tinasak purmaenmu siso kasea enda da namberru.uuuuuu uuuuuuu.”. Kuseka ingusku yang keluar bersama air mataku dengan oles yang telah kupakai sejak di pesawat. “Ajari aku merkata Pakpak dekket adat Pakpak namberruuuuuuuuuu, kuselseli karina pekkilakongku mendahi kono siso ture pesangapken kono namberru…hk le inang namberruna”. Tiba-tiba tanpa dikomando ketiga edaku berhamburan memeluk aku “Enggo, enggomi eda sudah senang dia jangan ditangisi lagi”. “Biarkan dia menumpahkan tangisnya sampai puas, jangan dihalangi”, kata suamiku Pak Prana ama turangnya. “Tuhunna ngo keppe kono berru ni raja namberru, aku ngo siso kasea idi mbarjang mersimatua, mike nola maku laus merembah ukur ceda menelseli pemaingku siso patohen idi namberu uuuu…..uuuuu”.
Kudengar bisik-bisik pertua ibages kaum ibu, “Dia itu khan orang Jakarta, inang dukak Pak Prana berru sideban, kok mahir ya tangis milangi ?” Samar-samar kudengar pula kaum pertua ibale, kaum bapak berbisik “Pandai kali Pak Prana makpaki berru sideban itu. Pakpak pun kita pakpaken deng dia dahko”. Tangisku semakin menjadi-jadi menumpahkan segala penyesalanku di hadapan tubuh kaku mertuaku. Tidak dapat dihentikan oleh siapapun sampai pengula kuria memimpin kebaktian dan menyanyikan lagu “Krina jelma kennah mate, kennah mbalang sukai……..dstnya”.
Usai pemakaman mertuaku, penyesalanku semakin menjadi-jadi. Si Bungsu yang sekarang sudah kupanggil adik ipar mengeluarkan semua surat berharga milik mertuaku dan meletakkannya ke pangkuanku beserta selembar surat wasiat. “Inang telah mempersiapkan ini semua sebelum ke Jakarta menemui kakak”, sahutnya dengan tulus. Kutatap matanya begitu bening, tenang dan polos tidak berdosa, yang selama ini kubenci luar biasa.
Air mataku yang sudah kering berurai kembali membaca surat wasiat itu. Rumahnya, sawahnya, ladangnya, kebunnya bahkan asuransinyapun diserahkan semua atas namaku. Aku meraung-raung sejadi-jadinya aku tak mau harta peninggalannya, aku mau mertuaku………!. Tuhan kembalikan mertuaku.
“Sebelum ke Jakarta ke rumah abang dan kakak, inang berpesan semua harta peninggalannya harus kakak Mak Prana yang mengatur. Ntah… itu, sepertinya inang sudah tau akan pergi selamanya”. Adik iparku terbata-bata. Orang yang paling kehilangan tentulah dia. “Dia tinggalkan dua puluh juta untukku, katanya untuk biaya pesta pernikahanku. Inang bilang, aku nggak boleh lagi menambah beban kakak dan abang …..!”, adik iparku menangis tersedu-sedu sampai ingusnya keluar dari hidung.
Untuk pertama kalinya kupeluk adik iparku, tanpa jijik sedikitpun kuseka ingusnya. Kubenamkan kepalanya dalam-dalam ke dadaku, ke jantung hatiku. “Tidak adikku…, kakakmu siap membantu apa saja kebutuhanmu…”, kataku disela-sela tangisku. Sungguh sejujurnya kukatakan, aku mengasihi adik iparku setulus hatiku, setidaknya mulai hari ini.
Para penetua adat sibuk bermusyawarah satu sama lain, dan pada akhirnya mereka menunggu keputusanku. Aku tidak paham ritual adat yang mereka lakukan, kata-kata yang yang sahut menyahut seperti berpantun. Semua orang yang duduk berkeliling di atas tikar menempati tempat duduk masing-masing sesuai status dan kedudukannya dalam adat.
“Ini sungguhan mak Prana, kamu harus putuskan sekarang dihadapan raja-raja adat. Segala keputusanmu harus disaksikan raja-raja adat dan semua yang hadir disini”, kata Pak Prana begitu mulutku terkunci tidak kuasa berkata sepatahpun.
“Sungguh kene karina partua nami, bapa-bapa semuanya yang saya hormati. Saya ikhlas tidak membutuhkan semuanya harta benda ini. Biarlah adik iparku yang menanganinya…!”
“Bukan begitu anakku, edamu khan ada tiga orang dan kalian laki-laki ada dua orang. Tidak boleh ada putusanmu atau musyawarah kalian yang tidak diketahui penetua adat. Nanti dikemudian hari kalau ada masalah diantara kalian atau diantara anak cucu kalian tentang pembagian harta warisan itu biar penetua adat bisa menyelesaikannya sesuai hasil musyawarah hari ini”, kata penetua adat yang semarga dengan ibu mertuaku.
“Bagaimana kalau semuanya dijual terus hasilnya dibagi rata. Dibagi lima ?”, usul mertua edaku yang paling bontot, eda nai Willy.
Aku ternganga, terperanjat tidak menyangka mendengar usul seperti itu. Entah dari mana datangnya kekuatan padaku. Aku berdiri tiba-tiba dan memandang sekeliling, semua orang kutatap satu-persatu. Sunyi senyap tiba-tiba, semua mata tertuju padaku.
“Semua peninggalan mertuaku tidak boleh dijual……..satupun !”, seruku tegas. “Ini keputusanku, rumah ini boleh ditempati siapa saja yang tinggal di kampung ini asalkan diurus sebaik-baiknya. Kebun kopi dan pote di lae Bigo diusahai sendiri oleh adik iparku. Sawah di lae Sigarap diusahai oleh eda nai Willy sesuai dengan tempat tinggalnya, Ladang gambir dan cabe di lae Reppung diusahai oleh eda nai Nita yang juga dekat dengan rumahnya dan kebun karet beserta durian di uruk Cipako oleh eda nai Benget dimana kalak bayo itu mantri di sana”.
“Dengan catatan kalian hanya mengusahai, bukan memiliki. Hasilnya 1 : 4. Jadi eda nai Willy, nai Nita dan eda nai Benget harus mengirimkan seperempat dari hasil usaha tersebut ke rekening suamiku setiap panen. Adik iparku tentunya memerlukan banyak biaya sebagai pengantin baru dan tentunya perlu membeli rumah di tempat kerjanya yang baru. Jadi tidak usah mengirim dahulu sampai dapat membeli rumah. Kalau sudah memiliki rumah sendiri harus mengirim juga sama seperti lainnya seperempat bagian”, kataku tegas dan berwibawa. Tidak ada yang protes maupun menyela kata-kataku. Semua orang terpana membisu menatap tak berkedip ke wajahku. Pipiku hangat di daerah dingin membeku ini, entah karena semua pandangan tertuju padaku, entah karena suasana perasaanku saat ini, entahlah… !
Tatapan takjub para ibu-ibu serta bisik-bisik satu sama lainnya tidak mempengaruhi keputusanku. Aku sudah diberitahu raja-raja adat bahwa semua peninggalan mertuaku adalah hak milikku sepenuhnya. Jadi sah-sah saja bila saudaraku hanya kuberi semacam pertanda saja. Namun tidak sedikitpun keinginanku untuk memiliki itu secara serakah, malah untuk diriku sendiri tidak ada sama sekali.
“Dan satu lagi, uang asuransi kalau sudah cair. Semuanya untuk membangun simin kedua mertuaku namberru dan mamberrungku, empung Prana. Kita bangun tempat peristirahatan yang pantas bagi mereka dengan tempat permanent. Lalu kita adakan pesta simin itu disertai dengan penobatan saya sebagai berru Bancin, saya mau dikasih marga sama dengan marga namberru saya. Saya mau jadi berru Pakpak seutuhnya. Saya adalah istri orang Pakpak yang kucintai jadi saya harus ikut menjadi kalak Pakpak”. Kulihat kaum pertua ibages, kaum ibu bengong ternganga dan penetua adat serta kaum pertua ibale, kaum bapak lainnya menganguk-angguk. Lalu aku lanjutkan lagi “Saya juga memutuskan, setelah uang yang dikirimkan eda-edaku kepada Pak Prana cukup…..”, aku menangis tersedu-sedu. Terbayang wajah mertuaku yang terburu-buru mengejarku agar bisa berjalan beriringan di trotoar bandara Soekarno-Hatta. Kulihat wajah mertuaku dari kaca spion taksi tertunduk lesu termangu-mangu, aku membiarkannya duduk sendirian di belakang. Kulihat gigi seri atasnya bergoyang-goyang saat tertawa minta KTPku. Kuingat mertuaku tak kutawarkan makan siang sebelum suamiku pulang kantor.
Tangannya yang mengembang menyambut anakku dari dari kantuknya di depan pintu yang tertutup membuat dadaku semakin meledak mau pecah. Aku tak kuasa membendung air mataku. “Iya…, ugh…huk…huk…jika uangnya te…lah cukup, aku mau mendirikan Tugu Peringatan buat mertuaku…..! Aku lalu meraung-raung histeris.
Suamiku berdiri dan melompat tiba-tiba memeluk tubuhku lalu akupun ambruk dipelukan lelaki pahlawanku itu. Diciumnya pipiku berulang-ulang dihadapan semua penetua dan raja-raja adat.
Semua ibu-ibu yang hadir ikut menangis tersedu-sedu dan satu dua kaum bapak ikut meneteskan air mata. Aku belum pernah berbuat baik kepada mertuaku juga kepada keluarga ini.
Aku mulai menghitung satu persatu kebaikan mertuaku, nasehat-nasehatnya untuk menyenangkan suamiku juga bagaimana menciptakan suasana harmonis. Tapi sampai kapanpun aku tak akan pernah bisa membalasnya lagi. “Makanya mak Prana, orang tua itu dihormati pada saat hidupnya, bukan setelah meninggal…!”, aku mendengar bathinku sendiri berkata pada hatiku, pada jiwaku dan pada otakku. Adakah gunanya menyesal ???. (Tamat)
Cerita diatas adalah fiksi, hanya khayalan semata. Bila ada persamaan nama, marga dan tempat hanyalah kebetulan belaka. Karya Drs. Viktor H Sinamo, Kepala SMA negeri Salak dengan judul asli “Ibu Mertua” pernah terbit di majalah Kompak Medan, edisi Februari-Maret 2006. Ditulis kembali dengan beberapa tambahan variasi alur cerita oleh Ir. Paian TH Sinamo.
Nantikan tulisan Ibu Mertua Seri 2 tulisan Drs. Viktor H Sinamo ditulis di Klinik Patah Tulang desa Sukajulu Kec. Barwo Jahe, Tanah Karo. Selama 5 bulan beliau dirawat disana, ada 10 lagu tercipta dan 3 novel selama derita menyiksa jiwanya. Adakah produser yang mau mengorbitkannya ?.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
iamy