Selasa, 09 Juli 2013

BUAT ISLAM

Facebook merupakan media yang memberi peluang bagi orang-orang untuk menunjukkan kemampuannya, baik kemampuan berpose dengan memajang foto-fotonya atau pun kemampuannya mengolah kata-kata yang membuat orang lain tertarik, termotivasi, dan kagum, dengan status-status dan komentarrnya.
 Namun tidak semua status dan komentar mereka membuat yang membaca tertarik, termotivasi, dan kagum, justru sebaliknya, diantara status dan komentar yang terpampang di facebook ada sebagian yang mencaci, menghujat, melecehkan, menghina, bahkan mengancam. Status dan kemontar tersebuat ada yang ditujukan kepada temannya sendiri, orang lain, atau rivalnya. Bahkan, agama (Islam) pun menjadi obyek status-status dan komentar yang tidak pantas itu.
 Beberapa hari yang lalu, penulis mendapatkan akun facebook dari teman. Yang memiliki akun facebook itu membuat status yang isinya melecehkan Islam. Mulai melecehkan umat Islam, ajaran Islam, bahkan membinatangkan the chosen person shallallahu alaihi wasallam. Yang memiliki akun facebook itu besar kemungkinan bukan orang muslim. Seorang muslin tidak akan pernah membuat kata-kata yang isi melecehkan agamanya sendiri.
 Tentu, umat Islam yang membaca status itu, wajahnya panas luar biasa, hatinya serasa dibakar, kepalanya seakan dipukul dengan palu godam-sakit, sakit sekali. Sehingga, komentar-kemontar yang mengiringi di bawah status itu, 99% membalas dengan kata-kata yang juga menghina, mengecam, bahkan mengancam. Mungkin komentar-kementar tersebut sebagai bukti rasa sakit hati dan tidak terima agama dan Nabi Muhammad dilecehkan. Sesakit apapun hati kita, harus kah kita membalas dengan kata-kata yang tidak pantas? Seharusnya tidak perlu, kawan.
 Sekali lagi tidak kawan!!!
Bukan ini yang diinginkan Rosul terhadap umatnya, bukan saling mencaci maki, mencemooh, dan membalas hinaan dengan yang lebih parah. Rosul memberikan contoh bentuk tarbiyah dan ta’lim yang paling jitu dan indah yaitu berlaku lemah lembut dalam segala perkara, dalam mengenal maslahat dan menolak mafsadat.
Sepintas ada kenikmatan yang kita dapat ketika membalas hujatan dengan hal yg sama.
Bangga karena memiliki pembendaharaan kata yang lebih “jahat” untuk menghujat balik.
Puas karena emosi yang berkumpul pada satu titik telah  tersalurkan dengan hinaan yang lebih binatang.
Menang karena kuantitas komentor melebihi  harga permen tamarine yang hanya 100,-
Tapi, ada hal yang tidak kita sadari
Tidakkah kita berfikir, kepuasan mereka adalah luapan  emosi dari pihak muslim?
Tidakkah kita berfikir, hujatan dari muslim yang tertera jelas di kolom komentar memberikan bukti bahwa Islam agama yang tak bermoral.. bukan agama rahmatan lil alamin,, seperti yang dituduhkan mereka???
Tidakkah kita berfikir,  merespon dengan hujatan yang serupa bukan malah membungkam mulut  mereka?
Tidakkah kita berfikir, hujatan balik dari kita adalah kayu bakar yang memantik semangat mereka untuk tetap eksis mencemooh Islam?
Tidakkah kita berfikir, hujatan balik ini adalah pameran dari tubuh2 muslim yang  bertelanjang bulat, memamerkan aib-aib   secara gratis kepada musuh Islam ?
Hal-hal ini yang tak boleh kita lupakan,
Mereka  ingin dilihat dan diperhatikan, serta ingin mendapat respon yang “nakal” dari kaum muslim. Dengan membalas mereka, apa bedanya kita dengan mereka yang tidak punya etika dalam bertutur sapa?
Wahai sobat,
Perlulah kita menoleh kembali  ke era Rasulullah SAW, untuk mengikuti  figur yang layak dijadikan cerminan dalam bertingkah.
Suatu riwayat : ‘Aisyahradhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Apakah ada hari yang engkau rasakan lebih berat daripada hari peperangan Uhud?” Beliau menjawab: “Aku telah mengalami berbagai peristiwa dari kaummu, yang paling berat kurasakan adalah pada hari ‘Aqabah, ketika aku menawarkan dakwah ini kepada Abdu Yalail bin Abdi Kalaal namun dia tidak merespon keinginanku. Akupun kembali dengan wajah kecewa. Aku terus berjalan dan baru tersadar ketika telah sampai di Qornuts Tsa’alib (sebuah gunung di kota Makkah). Aku tengadahkan wajahku, kulihat segumpal awan tengah memayungiku. Aku perhatikan dengan saksama, ternyata Malaikat Jibril ada di sana. Lalu ia menyeruku: “Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaum-mu dan bantahan mereka terhadapmu. Dan aku telah mengutus malaikat pengawal gunung kepadamu supaya kamu perintahkan ia sesuai kehendakmu. Kemudian malaikat pengawal gunung itu memberi salam kepadaku lalu berkata: “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu dan bantahan mereka terhadapmu, dan aku adalah malaikat pengawal gunung, Allah telah mengutusku kepadamu untuk melaksanakan apa yang kamu perintahkan kepadaku. Sekarang, apakah yang kamu kehendaki jika kamu menghendaki agar aku menimpakan kedua gunung ini atas mereka, niscaya aku lakukan!” Beliau menjawab: “Tidak, justru aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya.” (Muttafaq ‘alaih).
Bukan hanya sekali saja Nabi dihina. Bahkan ada seorang wanita tua yang berani mencerca Nabi. Setiap kali Nabi melintas muka rumahnya, kala itu pula si wanita meludahkan air liurnya, “cuh,cuh,cuh.” Peristiwa itu berulangkali terjadi, bahkan hampir setiap hari.
Suatu kali, ketika Nabi lewat di depan rumahnya, si wanita tadi tak lagi meludahinya. Bahkan, batang hidungnya saja tak kelihatan pula. Nabi pun menjadi “kangen” akan air ludah si wanita tadi. Karena penasaran, Nabi lantas bertanya kepada seseorang, “Wahai Fulan, tahukah engkau, dimanakah wanita pemilik rumah ini, yang setiap kali aku lewat selalu meludahiku?”
Orang yang ditanya menjadi heran, kenapa Nabi justru menanyakan, penasaran, dan tak sebaliknya merasa kegirangan. Namun, si Fulan tak ambil peduli, oleh karenanya ia segera menjawab pertanyaan Nabi, “Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa si wanita yang biasa melidahimu sudah beberapa hari terbaring sakit?” Mendengar jawaban itu Nabi mengangguk-angguk, lantas melanjutkan perjalanan untuk ibadah di depan Ka’bah, bermunajat kepada Allah Pemberi Rahmah.
Sekembalinya dari ibadah, Nabi mampir menjenguk wanita peludah. Ketika tahu, bahwa Nabi, orang yang tiap hari dia ludahi, justru menjenguknya, si wanita menangis dalam hati. “Duhai betapa luhur budi manusia ini. Kendati tiap hari aku ludahi, justru dialah orang pertama yang menjenguk kemari.” Dengan menitikan air mata haru bahagia, si wanita bertanya, “Wahai Muhammad, kenapa engkau menjengukku, padahal tiap hari aku meludahimu?”
NABI MENJAWAB, “AKU YAKIN, ENGKAU MELUDAHIKU KARENA ENGKAU BELUM TAHU TENTANG KEBENARANKU. JIKA ENGKAU MENGETAHUINYA, AKU YAKIN ENGKAU TAK AKAN LAGI MELAKUKANNYA.”
Mendengar ucapan bijak dari manusia utusan Allah swt ini, si wanita menangis dalam hati. Dadanya sesak, tenggorokannya serasa tersekat. Lantas, setelah mengatur nafas akhirnya ia dapat bicara lepas, “Wahai Muhammad mulai saat ini aku bersaksi untuk mengikuti agamamu.” Lantas si wanita mengikrarkan dua kalimat syahadat.
Subhanallahh
Allahumma shalli ‘ala Muhammad…

Senin, 08 Juli 2013

MANUSIA GOBLOK

Yahudi Bugil Massal di Laut

oleh : Berita Unik Hari Ini
Lebih dari 1.000 warga Israel berpartisipasi dalam hajatan foto bugil bersama di sebuah lokasi rahasia di Laut Mati, Israel, Sabtu (17/11/2011) pagi. Kegiatan ini bertujuan mempromosikan laut, yang memiliki kadar garam sangat tinggi itu, masuk dalam daftar tujuh keajaiban alam dunia, November nanti.

Spencer Tunick, fotografer berdarah Yahudi yang terkenal dengan foto-foto bugil massal

Proyek pemotretan tersebut dikerjakan oleh fotografer AS berdarah Yahudi, Spencer Tunick, yang telah mengerjakan berbagai proyek foto manusia telanjang dengan berbagai latar belakang, mulai dari gletser di Swiss sampai Sydney Opera House di Australia. Menurut Tunick, kesediaan seseorang dari negara tertentu berfoto bugil menandakan tingkat keterbukaan negara tersebut.

"Di beberapa tempat, pekerjaan ini menjadi lebih kontroversial, sementara di beberapa tempat lain proyek ini dianggap sebagai tes tentang kebebasan, keterbukaan, dan penghargaan terhadap hak di negara tersebut," tutur Tunick dalam jumpa pers sebelum pemotretan.

Foto bugil massal inipun diprotes para rabbi dan kaum Yahudi Orthodox

Di Israel, proyek foto 1.000 orang bugil di Laut Mati ini diprotes oleh para politisi Yahudi Ortodoks dan para rabbi, karena dianggap sebagai perilaku "Sodom dan Gomorrah". Mereka mengancam akan mengambil langkah hukum untuk menghentikan niat Tunick. Tokoh masyarakat setempat bahkan mengancam akan menelepon polisi untuk membubarkan para partisipan acara ini karena dianggap melecehkan masyarakat setempat.

Itu sebabnya, Tunick dan penyelenggara acara ini sengaja merahasiakan lokasi pemotretan itu sampai saat-saat terakhir. Tunick juga sengaja memilih hari Sabtu sebagai pemotretan, karena hari Sabtu adalah hari libur umat Yahudi.

"Itu alasan saya memutuskan mengerjakan proyek ini hari Sabtu (hari Sabbath Yahudi), sehingga tak seorang pun akan berada di dekat lokasi dan melihat orang bugil dari jarak setengah mil dan merasa dilecehkan," ujar Tunick.

Acara pemotretan selama dua jam itu akhirnya berlangsung tanpa gangguan apa pun. Para partisipan pun bebas mengapung di Laut Mati untuk dipotret Tunick. Entah disengaja atau tidak, acara ini digelar di kompleks Mineral Beach, yang terletak tak jauh dari lokasi kota Sodom dan Gomorrah menurut tradisi dan kepercayaan orang Yahudi.

Menurut para pakar lingkungan, Laut Mati terancam kering pada tahun 2050, kecuali ada gerakan besar-besaran untuk menyelamatkan lingkungan di sekitarnya. Permukaan laut tersebut turun sedalam satu meter setiap tahun dan di beberapa titik, garis pantainya telah menyusut hingga satu kilometer ke tengah laut. Ari Frucht, aktivis yang memprakarsai kampanye Laut Mati sebagai salah satu dari tujuh keajaiban alam dunia, mengatakan proyek pemotretan Tunick ini diharapkan bisa memunculkan kesadaran masyarakat tentang kondisi lingkungan di Laut Mati dan mendorong pemerintah Israel berbuat sesuatu.