Minggu, 28 Agustus 2011

cerpen

www.imay manis saja.com


Cerber : ¨Inang Simatuangku ( Bagian 3)¨

Solo-solo :
Sejujurnya kukatakan walau aku benci ama mertuaku itu, tetapi kalau dia ada aku tidak pernah dimarahi apalagi ditampar suamiku. Pertama kali aku ditampar ketika adatnya adat Pakpak kuhina “Adat apaan tuh?... dasar adat Pakpak taunya cuma menggerogoti orang lain”. Sejak suamiku kukenal dia memang tidak mampu menahan emosinya kalau merasa harga dirinya diinjak-injak apalagi sukunya suku Pakpak yang diagung-agungkan itu dihina, matipun jadi begitu semboyannya.


Sudah kubilang perhatian suamiku terhadap inangnya sangat berlebihan. Lihatlah dia membuka tutup saji yang kosong lalu memeriksa bekas piring kotor ke kamar mandi. Belum puas juga ia memeriksa dapur, kompor masak dan peruk-kuali pun diperiksanya, semuanya masih bersih licin tidak ada tanda-tanda habis dipergunakan. Aku sudah menduga suamiku akan berteriak sekuat-kuatnya.
“Mama…..!!”
“Ada apa sih teriak-teriak?”
“Mama enggak masak nasi ya….?!”
“Lho…, katanya papa ada rapat. Berarti sudah makan dong!” kataku kalem.
“Jadi inang belum mama kasih makan siang?”
“Sudah-sudah. Tadi di pesawat. Aku menyuruh dia agar masak nanti sore saja.” Ibu mertuaku datang ke dapur membelaku. Entah malaikat mana yang mendorong ibu mertuaku datang tiba-tiba membela diriku. Belum pernah terjadi sebelumnya dan aku menghargainya dengan senyum manis dibuat-buat pertanda terima kasihku.
“Ya sudah, persiapkan makan malam kita.” Suamiku segera pergi ke ruang tamu disusul mertuaku sambil menggendong anakku sehingga aku dapat bekerja tanpa diganggu.

Malam ini harus kudampingi mereka berbincang-bincang, takkan kubiarkan mereka membicarakan sesuatu tanpa sepengetahuanku. Selama mempersiapkan makan malam aku juga mempersiapkan strategi. Kesulitanku selama ini adalah bahasa daerah, setiap mertuaku datang mereka selalu menggunakan bahasa Pakpak bahasa daerahnya sehingga aku harus mengundurkan diri dan memilih tidur duluan. Kalau suamiku sudah ketemu ibunya, hingga larut malam tahan ngobrol terus kesana kemari. Nanti malam akan kupaksa mereka menggunakan bahasa Nasional biar aku bisa mengerti. Niatku sudah bulat, hingga subuhpun aku siap bergadang. Pokoknya aku tidak rela bila mertuaku membebani rumah tanggaku terus-menerus.

Kusiapkan semua hidangan makan malam di atas meja makan. Aku berupaya agar tidak ada yang kurang hingga sekecil-kecilnya termasuk pote dan rimbang kesukaan suamiku. Aku harus bersandiwara, demi tercapainya tujuanku.
“Enak masakanmu ya !”, kata mertuaku memuji. Aku rasakan itu pujian sandiwara, maka akupun tersenyum bersandiwara. Tapi hatiku berbunga-bunga juga manakala suamiku mengangguk membenarkannya. Pujian dari suamiku yang selalu kurindukan, jarang kudengar. Baginya semua tindakanku selalu salah tidak pernah benar. “Besok aku harus pulang pak Prana. Tiketku sudah kubooking pulang pergi”.
“Lho kok secepat itu Nge?, palum deng poda teddoh diri”, suamiku ternganga tak percaya. Aku mulai gusar, entah keperluan apalagi yang membuat mertuaku datang tiba-tiba dan pulang tiba-tiba juga. Pasti suamiku kalang kabut lagi mencari pinjaman memenuhi permintaan ibunya. Mau menjual Sepeda motor ?. Mana mungkin laku dalam satu malam walaupun separuh harga. Lagian BPKB nya nggak ada khan belum lunas kreditnya ?.
“Adikmu mau menikah”, katanya lirih.
Nah betul khan ?. Aku seperti disambar petir. Apa lagi yang diperlukannya kalau bukan uang ?. Duh, puluhan jutalah kalau sudah urusan pernikahan, apalagi itu adatnya mereka adat Pakpak pakai tokor berru segala, mengadati lagi belum biaya pestanya.
“Dia pikir menikah itu gampang, kalau kawin mah apa susahnya. Kucing di belakang dapur kami juga kawin. Kencang lagi suaranya”, kataku menggerutu. Wajahku yang memerah membara tentu memancarkan ketidak senangan di mata mereka berdua. Kulihat gigi suamiku menggeretak menahan emosi mendengar ucapan rorangku. Dia selalu menahan emosinya semarah apapun dia tidak akan tumpah kalau ada mertuaku. Aku sih amat benci ama mertuaku tetapi sejujurnya kuakui bila dia ada suamiku akan selalu berlaku manis samaku dan nggak bakal mengomeliku apalagi memarahiku. Tapi kali ini emosiku sudah sampai diubun-ubun, aku sudah siap perang dengan suami atau mertuaku, makanya omonganku juga sudah tidak terkontrol. Tetapi ternyata mertuaku malah tersenyum lembut.
“Tidak gampang mak Prana, tetapi harus dilalui. Sekarang atau nanti tetap tidak gampang, yang penting kita siap menghadapi yang tidak gampang itu”, kata mertuaku tanpa nada emosi sedikitpun juga. Sedikitpun tidak ada aksen atau nada memaksakan kehendak seperti dugaanku. Kusimpan dalam-dalam rasa heranku, tetapi tekadku semakin kukuatkan untuk menampik semua permintaannya, apapun yang terjadi terjadilah, aku sudah siap. Siap dengan hal yang paling buruk sekalipun. Pergi meninggalkan keluarga Pakpak ini dengan Prana anak semata wayang kami !!!.
“Dengan siapa Nge ?”, kata suamiku antusias. Ibunya selalu dipanggil Nge singkatan dari Nange, artinya ibu yang melahirkan. “Ada bidan desa yang cocok dengan dia. Kulihat orangnya baik, ramah dapat pintar menganju hati adikmu yang kelewat manja itu. Berru Pakpak pula dan marganya sama dengan marga ibu. Merimpallah mereka, tentu akan cocok sekali merawat ibu yang sudah renta ini apalagi menghadapi kalau ada ulaen adat Pakpak”
Aku merasa tersindir, berarti aku bukan wanita yang baik, bukan wanita yang ramah dan tidak mampu menyenangkan hati suami. Apalagi aku berru sideban, bukan berru Pakpak tentunya tidak ada persamaan margaku dengan marga mertuaku. Sialan buanget nih orang tua. Hati siapa yang tidak sakit bila dibanding-bandingkan dengan orang lain, sakit nggak ?. Manusia itu khan punya eksistensi dan kepribadian masing-masing ?.
“Wah …hebat itu anak. Rejekinya selalu baik, bisa-bisanya dia dapat berru Pakpak ya ?. Saya dulu berapa berru Pakpak yang saya kejar, semuanya pergi meninggalkan saya”
Hatiku semakin panas mendengar respons suamiku, “Koreksi diri dong kenapa kamu selalu ditinggalkan berru Pakpak idamanmu, aku aja yang goblok mau sama kamu lelaki inangen, perroka ina lebih mementingkan ibunya dari istrinya sendiri”, bathinku dalam hati. Sudah mau kuucapkan sebenarnya tetapi tetap aku tidak punya nyali. Sejujurnya kuakui walau aku amat benci ama mertuaku tetapi aku tetap mengagumi suamiku seorang lelaki yang bertanggung jawab dan bersemangat tinggi. Andaikata dia tidak terlalu menyanyangi ibunya, maka bagiku dialah lelaki sempurna idaman hatiku.
“Puji Tuhan…Itu semua karunia Tuhan yang patut disyukuri”, kata ibuku sambil melipat kedua tangannya di dada.
“Iya….Puji Tuhan……!”, suamiku bergumam pada diri sendiri. Kulihat matanya melayang jauh, mungkin mengingat berru Pakpaknya yang telah pergi meninggalkannya.
“Ibu sudah tua Pak Prana, rasanya tugasku sudah selesai. Kuharap semua sudah berakhir. Semua sekarang tanggung jawabmu. Semua kalian anak-anakku sudah bekerja dan menikah semua. Walau adikmu itu belum bekerja, tetapi kuliahnya sudah selesai. Ibu percaya dia gampang cari kerja, khan dia insinyur Teknik. Lagian calon purmaen itu sudah bekerja, Pegawai Negeri lagi”
“Apa maksud namberru ?”, sergahku tiba-tiba. “Masakan menjadi tanggung jawab kami semua !!?“, nada suaraku sudah menjadi protes. Aku tidak suka tanggung jawab orang tua dibebankan kepada anaknya.
“Bapak Prana ini khan anak situaen, anak sulung. Ayahnya sudah tiada, jadi menurut adat dialah pengganti ayahnya. Hingga semua pelaksanaan pesta adat apa saja, menerima dan memberi adat dialah semua penanggung jawabnya mewakili namberru dan almarhum mamberrumu
“Adat….adat….! adat apaan tuh…dasar adat Pakpak, bikin orang susah aja”
“Mama…., ngomong itu kendalikan diri dikit dong. Mama belum ngerti adat, main protes segala”, kata suamiku datar tapi aku dapat merasakan getaran emosi didalamnya yang sedari tadi ditahannya karena ada inangnya. Hanya karena mertuaku ada maka dia tidak membentakku, malah mungkin sudah menamparku. Suamiku itu paling emosi kalau sudah merasa adatnya, adat Pakpak dihina. Pertama kali aku ditamparnya ketika keluar ucapanku, “Dasar orang Pakpak, adatnya hanya morotin orang lain”, Itu terjadi beberapa tahun lalu ketika ayahnya bapak Prana meninggal, malah puhunnya, saudara kandung ibu mertuaku itu malah minta emas, uang dan pohon durian. Katanya sih itu lemba nggelluh, sesuai adat Pakpak. Puih… adat apaan tuh orang sudah kematian orang tua dimintain duit lagi, malah dimintain emas segala nggak hanya itu pohon durian yang lagi berbuah disamping rumah juga dimintanya ? kok nggak minta rumah ini saja sekalian. Pokoknya kalau mertuaku minta duit lagi untuk biaya pernikahan adik iparku pilihannya cuma dua mengusir mertuaku atau aku pergi dari rumah ini membawa Prana. Tengoklah besok !!!!.
“Ibu mau menyampaikan terima kasih buat kalian berdua, kalianlah yang sudah berkorban enam tahun menyekolahkan dia. Ibu dapat merasakan penderitaan kalian selama ini demi adik kalian yang satu itu”
Heh…!? Berterima kasih terlebih dahulu. Nanti buntutnya tanggulangilah semua biaya ini pak Prana…..! Aku memonyongkan bibir tanpa suara mencibir. Enak buanget yang punya anak itu taunya cuma bikin doang giliran mau menikahkan dilemparkan kepada anak sulungnya……….dasar orang tua gila…!!
“Namberru…..kami sudah tidak punya uang lagi semua sudah ludes”, kataku sinis, “Sepeda motor itu….aku tidak setuju kalau dijual…!”, suaraku sudah bergetar dan mataku sudah mulai hangat. Aku bertahan untuk tidak menangis dengan menggigit bibir. Entah kenapa asal aku marah, air mataku yang duluan keluar. Dan itu pula sifat yang paling dibenci oleh suamiku.
“Ma…….., jaga bicaramu…!”, suara suamiku mulai meninggi, memperingatkanku dengan delik matanya yang sudah kukenal baik. Suasana bakal tidak terkendali dan perang bhratayudha akan pecah. Dan itu yang kuharapkan agar aku makin punya alasan untuk pergi dari rumah ini. Sekarang juga ……………!!
“Hey…….., mak Prana tenang dulu. Kehadiran ibu kesini bukan minta uang !”, mertuaku berkata lembut sambil tersenyum. “Tanggung jawab itu khan enggak mesti berarti minta uang. Tetapi tanpa kehadiran kalian sebagai sukut pesta nggak bakalan dilangsungkan. Kalaupun bisa, ya …sudah menyangkut harga diri. Kalian masih ada… masak diwakilkan ama Tonga atau Papun Pa Prana, apa kata dunia ?”
“Maksud namberru ?”, kataku menenangkan diri.
“Biaya untuk pesta sudah ada tersedia, kalian nggak usah kuatir. Yang penting kalian bisa hadir, itu sudah cukup”
Aku menjadi malu dengan diriku sendiri, tetapi aku masih belum percaya. Darimana pula mertuaku memperoleh uang untuk pesta?. Dapat durian runtuh? Mustahil, atau mungkin dari pihak calon pengantin perempuan? Karena dapat calon kela insinyur Teknik…ah ini malah lebih tidak mungkin lagi…adat mereka pasti minta tokor berru yang besar apalagi berru nya bidan dan Pegawai Negeri pula. Bisa aja namberru ngomong sudah ada padahal belum ada sama sekali biar kami tenang. Begitu dikampung dengan mengatas namakan adat kami yang menanggulanginya semua. Huh dasar akkal macik……..emang nenek lampir ini banyak kali politiknya.
“Nge.., nggak usah berterima kasih…! Itu memang tugasku, tanggung jawabku. Yang penting siampun-ampun inang itu sudah tamat”, kata suamiku beraku-aku. Kalau suamiku sudah beraku-aku bukan berkami kok debaran jantungku semakin kencang dan rasa takut mulai merasuk jiwaku. Suamiku itu kalau sudah beraku bakalan nggak terkendali emosinya. Apapun diterjangnya termasuk menampar aku, itu memang sifatnya sejak kukenal tidak mampu menahan emosinya kalau sudah harga dirinya diinjak-injak apalagi sukunya suku Pakpak yang diagung-agungkan itu dihina, matipun jadi itu semboyannya. Aku coba menepis rasa kuatir itu jauh-jauh. Kuteguk air putih segelas penuh kemudian kutuang lagi untuk menenangkan jiwaku.
Suamiku kemudian bangkit lalu ke kamar mandi. Itu juga kebiasaan suamiku, kalau emosinya nggak keluar kepalanya panas dan dia akan mendinginkannya dengan mandi berjam-jam dikamar mandi, malah dia kadang cukenng, berendam di bak mandi. Aku tetap diam terpaku di tempat duduk. Kubiarkan piring berserakan diatas meja makan. Walaupun dalam hati aku ingin merapikannya. Suasana hening ini kubiarkan tetap sepi tidak mengeluarkan sepatah katapun mengajak ibu mertuaku ngobrol sampai suamiku datang lagi dari kamar mandi. Kegundahan reda sementara.
“Besok kamu nggak usah kerja ya…?” mertuaku sudah berbicara sebelum suamiku menggeser kursi tempat duduknya.
“Jam berapa rupanya pulang Nge ?, Apa bukan sore tiketnya ?”
“Pulang sore. Cuman temanin dulu ibu besok ke Kantor Pemasaran Perumahan terdekat. Sekalian jalan-jalan sama Mak Prana dan cucuku”.
Aku terperanjat, namberru mau beli rumah ? Lalu untuk siapa ? Buat si bungsu yang mau menikah ? Gaya amat!. Sayangnya suamiku tidak bertanya untuk apa dan buat siapa, apalagi menanyakan uangnya dari mana. Itu sudah kebiasannya kalau ibunya yang menyuruh melakukan sesuatu tidak pernah bertanya untuk apa dan tidak pernah membantah apalagi bersungut-sungut. Dia terlalu percaya apa yang dikatakan ibunya selalu benar, jadi tidak perlu berkomentar. Suatu pengabdian yang terlalu membabi buta. Maka segera suamiku menelpon temannya untuk menggantikan posisinya esok hari. Bah ?! Kalau untuk aku tidak boleh permisi, macam-macam alasan rapat pentinglah, ketemu bos lah. Tetapi kalau buat ibunya apa saja dilakukannya. Sialan (Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

iamy