Minggu, 28 Agustus 2011

cerpen

www.imay manis saja.com

 

Cerber : ¨Inang Simatuangku ( Bagian 2)¨

Solo-solo: Rasa cemburu dihati Mak Prana terhadap mertuanya karena merasakan perhatian dan kasih sayang suaminya lebih besar terhadap dia ketimbang dirinya sebagai istri, membuat kebencian yang mendalam terhadap mertuanya tersebut. Sikap benci, sebel dan rasa curiga membuat akal sehat Mak Prana hilang dan mengacuhkan kedatangan mertuanya yang selalu dianggap beban.

Turun dari taksi, mertuaku buru-buru mengeluarkan 2 lembar uang ratusan ribu, lembaran plastik berwarna merah berkilau yang jarak kupegang sejak adik iparku diwisuda. Aku membiarkannya, itu berarti uang belanja mingguan kami tidak berkurang dan lembur suami dapat kusimpan diam-diam. Gerbang pagar rumah yang berdenyit-denyit kudorong kuat-kuat biar mertuaku tahu kami membutuhkan uang untuk perbaikan. Tanpa membuka pintu rumah aku pergi menjemput anakku Prana di rumah tetangga. Kubiarkan dia berdiri termangu di depan pintu dan pura-pura lupa pamit menjemput anakku. Dengan sengaja aku berlama-lama ngobrol dengan tetangga. Aku mau menunjukkan bahwa kehadirannya tidak kusukai. Biar tahu rasa dia !

Dari jauh kulihat mertuaku terduduk di depan pintu bersandar kelelahan diatas lantai semen beralaskan keset kaki. Kedua kakinya diselonjorkan ke depan, tas tangannya dipeluk di dadanya. Dia tersentak kaget dari kantuknya mendengar pintu gerbang berderit ketika kami masuk. Mertuaku segera berdiri menyongsong kami dan mengulurkan kedua tangannya menyambut anakku. Aku kesal melihat Prana dengan senangnya membuka kedua tangannya untuk dipangku. Anakku tertawa kegirangan dipangkuan neneknya. Ciuman itu….., aku tak suka melihatnya. Nanti anakku terinfeksi gigi serinya yang kuning bergoyang-goyang yang cuma tinggal dua buah itu. Pastilah sangat bau. Tapi aku tak punya cara menghindarinya. Mertuaku mondar mandir ke ruang tamu dan ke dapur. Aku pura-pura sibuk melipat kain di kamar. Aku tahu pastilah dia sudah lapar wong di pesawat sekarang nggak dikasih makan lagi kok paling cuma segelas aqua, tapi aku sengaja tidak menanak nasi, dan tidak pula berniat memasak.
“Suamimu jam berapa pulang ?”
“Mungkin sebentar lagi”
“Lho…, jadi kamu belum memasak nasi ?”
“Di kantornya ada rapat. Tentu sudah makan siang di sana. Nanti sore aja masak untuk makan malam”, kataku pelan tanpa menoleh. Tahu rasa kau sekarang, tahankan laparmu sampai anakmu pulang, kata hatiku puas.
“Setiap hari kita itu harus siap. Mana tau dia belum makan, atau ada hal lain yang tidak terduga. Tiba-tiba pulang, makanan sudah tersedia”
“Itu khan tergantung uang. Kalau uangnya tidak ada, apa yang mau dimasak ?’, kataku ketus.
“Lho…, kamu ini bagaimana ? Orang tidak akan mati kalau ikan atau sayur tidak ada. Tapi kalau beras tidak ada apa jadinya. Makanya dahulukan membeli yang paling penting. Buat dong skala prioritas !” “Nggak usah diajarinpun aku tahu…….!” , kataku semakin ketus….sebel..
Coba kalau anakmu tidak menjadi tanggungan kami, jenis masakan apapun bisa kuberikan buat suami dan anakku, kataku dalam hati. “Mak Prana…, ibu senang kalau kalian bahagia. Apapun yang kita suguhkan buat suami bila wajah kita cemberut, itu hambar semua. Tapi kalau kita tersenyum, sayur tak bergarampun enak terasa” “Omong kosong. Enak ya enak, hambar ya tetap aja hambar” “Maksud ibu, suasana yang menyenangkan membuat suami betah di rumah. Dia akan selalu merindukan suasana itu sehingga tidak suka mencari suasana lain di luar “.
“Namberru…, ini Jakarta ! mau sarapan banyak yang lewat, mau makan banyak restoran. Apa saja yang kita mau tinggal bilang asalkan uangnya ada. “Semuanya tinggal ini….!” kataku mengacungkan tangan menggesek jari telunjuk dengan ibu jari. Hatiku mulai panas, aku akan bilang kalau ibu datang hanya untuk meminta uang lebih baik pulang sekarang. Tapi mertuaku nampaknya mengerti sehingga dia mengalihkan pembicaraan.
“Berapa bulan lagi kontrak rumah kalian ini ?”
“Kenapa ?. Emang namberru mau membayarnya ?”, aku balik bertanya. Ini kesempatan yang tepat untuk menjebaknya.
“Ibu lebih senang kalau kalian mempunyai rumah sendiri. Ibu sudah rela meninggalkan dunia ini kalau semua anak-anak ibu sudah mempunyai rumah sendiri”.
“Namberru…….., mimpi jangan disiang bolong……….”
Aku belum selesai berbicara ketika terdengar klakson Sepeda motor di depan pintu gerbang, suamiku sudah pulang, aku buru-buru membuka pintu menyambut suamiku sebelum ibu mertuaku mendahuluinya.
“Inang sudah nyampai ?”
Uh..inang lagi, inang lagi…! Kenapa sih inangmu itu yang lebih penting dari aku ?. Tanya keadaanku lebih dahulu baru inangmu itu, khan hatiku puas ?.
“Hey……..mama dengar nggak ?”
“Apaan sih ?, ini pintunya berat buanget didorong. Belum sempat bernafas udah ditanya macam-macam”.
“Nggak jadi mama jemput inang di Bandara ?”, katanya cemas, wajahnya sudah panik diliputi kegusaran luar biasa. Disaat seperti ini sebenarnya enak untuk dikerjain. Tapi aku tidak punya nyali.
“Ada tuh…., lagi maen sama Prana”, jawabku akhirnya.

Buru-buru suamiku memarkirkan Sepeda motornya dan berlari kerumah mencari ibunya. Tubuhku terasa melayang, rasa cemburu membuatku kalah telak. Entah kapan diriku bisa lebih berharga dari mertuaku atau setidaknya setara dengan dia. Entahlah….!. Tanpa daya aku menyusul suamiku ke rumah.
Mertuaku memeluk anaknya begitu lama, mulutnya tertawa bahagia tetapi berurai air mata. Suamiku juga matanya memerah berkaca-kaca. Belum pernah kulihat suamiku meneteskan air mata, apa dan bagaimanapun persoalan yang dihadapinya. Tetapi kali ini, hatiku diliputi perasaan sepi sekali. Ada butiran air mata suamiku jatuh meleleh ke relung hatiku yang paling dalam. Ah, aku buang jauh-jauh perasaan itu. Cengeng buanget tuh anak mami, aku juga punya ibu kok. (Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

iamy