Minggu, 28 Agustus 2011

cerpen

www.imay manis saja.com



Cerber : ¨Inang Simatuangku ( Bagian 5)¨

Solo-solo :
Prana masih tertidur pulas mungkin masih kecapekan bermain kodeng-kodengan seharian dengan neneknya. Ini kesempatan buat kami bermesraan tidak ada yang menggangu. Kemesraan yang telah lama tidak kami nikmati. Kurebahkan tubuhku diatas dadanya yang bidang dan kekar. Kugenggam lengannya yang berotot baja. Bau tubuhnya yang khas merangsang gairahku. Aku menarik nafas sangat dalam lalu menghembuskannya dengan desahan yang menghangatkan sekujur tubuhku. Tiba-tiba suara reporter TVRI menghentikan kemesraan kami dengan membacakan jatuhnya sebuah pesawat terbang.




“Tolong buatkan kopi ma…!. Rasanya tubuhku lelah sekali padahal tidak ada yang dikerjakan”
“Naik taksi seharian khan capek juga Pa, kopi kental ?, pahit apa manis Pa ?”
“Terserah mama deh, yang penting enak”.
Dengan riang aku menyiapkan kopi buat suamiku. Matahari sore membiaskan cahaya merah jingga melalui celah-celah kaca jendela. Tampaknya alam juga turut merasakan kebahagianku di rumah ini yang telah lama sirna.

Kuletakkan baki di atas meja dihadapan suamiku berisi segelas kopi dan segelas teh buatku. Anakku masih tertidur pulas menyambung tidurnya diatas taksi, tampaknya masih kelelahan bermain kodeng-kodengan sepanjang hari dengan mertuaku. Kesempatan bagiku untuk duduk bermesraan dengan suamiku tanpa ada yang menggangu yang selama ini sudah jarang kami lakukan. Aku bermanja ria menyandarkan tubuhku diatas dadanya yang bidang dan kekar. Kuraba lengannya yang berotot baja, maklum suamiku ini pernah menjadi calon tentara, namun nasib menentukan lain. Barangkali karena gagal jadi tentaralah maka kami ketemu. Bau keringatnya yang khas merangsang gairahku. Aku menarik nafas sangat dalam lalu menghembuskannya disertai desahan yang menghangatkan tubuhku. Inikah kebahagiaan itu ?. Kuraba kumis tipisnya dan memelintirnya lalu kukecup pipinya, “Pa…maafin mama ya?, selama ini selalu berburuk sangka dan berpikiran negatife ama namberru”.
“Ya sayang, manusia itu besifat khilaf, yang berlalu biarlah berlalu. Mama juga kelak akan punya menantu dari anak kita Prana, gimana kalau menantumu nanti selalu memusuhimu ?”
“Jangan sampe deh pa, mama janji deh akan berobah sikap. Nanti setelah pesta pernikahan kalak anggi, namberru kita aja ke Jakarta ya Pa?. Tinggal di rumah kita selamanya. Toh rumah itu khan rumahnya juga, beliau yang beliin kok, walau sertifikat atas nama saya”, Pak Prana tidak ada respons dengan ucapanku, hanya dia mengecup bibirku. Aduh terasa melayang seluruh jiwaku, kecupan yang sudah lama tidak kurasakan sejak pernikahan mengakhiri masa berpacaran.
Tak puas-puasnya kami membicarakan rumah baru itu dan rencana-rencana yang bakal kami kerjakan setelah menempatinya. Bahkan perabotan usang yang tidak sebanding dengan rumah barupun tidak luput dari pembicaraan kami.
“Mestinya papa bilang namberru tinggal di rumah kita aja Pa. Toh di kampung dia tinggal sendiri”. Aku mencoba lagi menarik perhatian suamiku. Biasanya kalau sudah berbicara tentang ibunya dia akan sangat bersemangat dan penuh gairah hidup. Sebenarnya aku tahu kesukaan suamiku dan tahu betul apa yang membuat dia marah. Tetapi aku tidak melakukannya, padahal apalah ruginya memuji kalau suami sipanggaren, senang dipuji atau selalu membicarakan perihal ibunya dengan simpatik, penuh perhatian karena dia amat sangat menyanyangi ibunya, inangen dan peroka ina. Tapi begitulah……..hati nurani ini sulit diajak kompromi hanya dengan masalah sepele, malah rasa curiga yang muncul walau kesempatan terbuka lebar untuk menyenangkan hati namberrungku, ibu kandung suamiku. Kalau seandainya aku mampu berkorban perasaan selalu bermulut manis untuk membahagiakan mertuaku, suamiku itu kusuruh bersujud dibawah kakikupun kurasa mau dia.
“Oh …ya !? Kok tumben?”, suamiku meledek.
“Mama sungguh-sungguh kok, sure”, kataku mengangkat tanganku dengan membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan jari tengahku. “Nanti marah-marah, merepet-repet, anak nggak salah apa-apa dipukuli”
“Jangan ngeledek ya….”, aku menggelitik perutnya. Suamiku ngakak menahan geli. Dia memang pergamang, tukang geli. Kata orang sih kalau suami pergamang sayang istri. Auk…ah gellap.
“Mama serius, kulihat Prana lengket buanget ama neneknya. Khan lumayan ada yang jagain”, kataku akhirnya
“Maksud lu?, mama gue jadi pembantu gitu atau jadi baby sister, begitu ?”
“Ah bukan begitu Pa, toh Prana khan cucunya ?, malah kata orang nenek lebih sayang ama cucunya ketimbang orang tuanya sendiri ama anak kandungnya”
“Baiklah…, papa menghargai itikad baik mama. Akan kita coba, tapi papa yakin inang nggak bakalan mau”
“Lho emang kenapa Pa?, apa namberru masih dendam ama saya?”
“Orang tua itu secara psikologis menganggap rumahnya tempat tinggal yang sesungguhnya. Dia tidak akan betah tinggal di rumah orang lain, walaupun itu rumah anak kandungnya sendiri”
“Masya..sih Pa ?”
“Iya, bahkan ada orang yang nggak bisa tidur sama sekali kalau tidak di rumahnya sendiri. Tipe inang seperti itu”.
“Sayang sekali ya Pa?. Padahal mama pengen sekali beliau tinggal bersama kita selamanya”.
“Sebenarnya lebih baik berjauhan. Biar ada rasa rindu. Tinggal dengan anak sendiripun banyak persoalannya. Cucunya dimarahin salah dikirain tidak suka sama dia, tidak dimarahin anak jadi manja, tidak terdidik. Piring jatuhpun dia pikir karena kita nggak suka sama dia. Membantuin pekerjaan rumah dia sudah tidak kuat, tidak ikut membantuin perasaannya tidak enak. Telor dalam satu sangkar yang bisa bergesekan, kalau lain sangkar nggak bakal bergesekan. Sudahlah, hidupkan TV aja papa mau menonton Dunia dalam berita. Tolong ambilkan remotenya”.
Aku tetap bersandar di dada suamiku dengan manja, tangan kanannya membelai rambut keritingku, sementara tangan kirinya memilih-milih channel pada remote control TV hingga menemukan siaran Dunia dalam berita TVRI. Dan pada saat itulah kami terhenyak kaget, terbelalak tak percaya dengan pemandangan di layar kaca TV. Kepala berdenyut seperti disambar petir. Pesawat Leang Leang Airlines dengan nomor penerbangan LLA-013 menabrak Gunung Sibayak sesaat hendak landing di bandara Polonia Medan, dipastikan tidak ada korban selamat.

Aku menjerit membaca nama-nama penumpang yang ditayangkan di layar kaca. Tubuhku menggigil, terguncang hebat, aku meraung-raung sejadi-jadinya. Pesawat yang jatuh berkeping-keping itu membuat hati dan jantungku lebih berkeping-keping lagi. Kuratapi mertuaku yang mungkin sudah gosong menghitam. Aku menyesali diri, rasanya baru tadi mertuaku duduk terkantuk-kantuk beralaskan keset kaki. Ampuni aku Tuhan, aku sengaja tidak membukakan pintu buat mertuaku. Aku sengaja berlama-lama di rumah tetangga, karena kesombongan dan keangkuhanku ditambah kebencianku yang keterlaluan membuatku selalu mencurigai kehadirannya. Aku belum sempat minta maaf, Engkau sudah memanggilnya.

Dengan menjerit-jerit kupaksa suamiku mengurus tiket, kuambil buku tabunganku dari bawah lemari dapur yang selama ini kusimpan diam-diam tanpa sepengetahuan suamiku. Aku sudah tidak sabar hendak melihat jenazah mertuaku. Tetapi justru suamiku meminta untuk tidak panik, malah dia tersenyum diantara derai air matanya mengatakan ibunya sudah tenang masuk surga. Hanya melalui kematianlah kita dapat kembali kepadaNya. Dan ternyata suamiku sudah punya firasat buruk sebelumnya, manakala mertuaku memberinya pesan panjang lebar ketika di Kantor Pemasaran Perumahan, juga ketika mertuaku menuntutnya tentang tanggung jawab sebagai anak sulung. Hanya saja suamiku tidak menduga waktunya sedemikian cepat hanya dalam hitungan jam. (Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

iamy