Minggu, 28 Agustus 2011

cepen

www.imay manis saja.com


Cerber : ¨Inang Simatuangku ( Bagian 4)¨

Solo-solo : Nafasku sesak tiba-tiba, debaran jantungku berpacu dengan keterkejutanku. Pipiku memerah dan kupingku berdengung terasa hangat. Kucubit tanganku, masih terasa sakit berarti ini kenyataan, bukan mimpi di siang bolong. Sekujur tubuhku kaku tidak mampu kugerakkan sama sekali dan rasanya melayang diatas bumi ketika mertuaku berkata, “Mak Prana, rumah ini harus atas namamu jangan atas nama Pak Prana. Nanti kalau Pak Prana macam-macam bisa kau tendang dia dari rumah milikmu sendiri”, kata mertuaku berkelakar.


Andaikan bukan karena rasa ingin tahu, aku pasti tidak bersedia diajak jalan-jalan. Buat apa nyepek-nyapekin badan toh hasilnya nanti persoalan. Lebih baik menyelesaikan pekerjaan yang bertumpuk di dapur dan di sumur. Tapi yang satu ini perlu dicermati. Pemasaran perumahan, aneh khan ?

Kami mengelilingi perumahan Citra Garden dari satu cluster ke cluster lain. Keren buanget rumahnya satu cluster satu pagar tembok dan dijaga Satpam 24 Jam dilengkapi dengan taman bermain anak-anak di setiap cluster. Terus ada Supermarket, Mall, Sekolah dan Kolam renang. Melihat anak-anak sebaya Prana sedang naik sepeda timbul juga keinginanku untuk tinggal disini, ah mimpi …….!!!. Aku merasakan ini pekerjaan sia-sia sama sekali, hanya buang waktu dan ongkos saja. Percuma buang waktu dan tenaga toh hasilnya nanti mertuaku cuma bilang harganya terlalu mahal tidak terjangkau. Dia pikir macam di kampung beli pertapakan, kavling rumah cuma dengan seekor ayam plus kembal selampis berisi beras seliter ?. Di Jakarta ini tanah semeter buat rumah jutaan. Makanya janganlah mati disini namberu buat pendebaan, makam aja tidak cukup sejuta dua juta, gumamku dalam hati. Dasar orang kampung !!

“Yang ini bagus ya mak Prana ?”,
“Semuanya bagus namberru ?”, jawabku enteng, sekenanya.
“Kayak itu tadi type berapa ?”
“Itu Nge sudah type Enam puluh. Tanah seratus delapan puluh. Kamar tidur 3 dan kamar mandinya 2 ada lagi kamar pembantu dan gudang. Lantainya juga sudah keramik, atapnya genteng dan sudah punya garasi lengkap dengan teralis besi”
“Sudah berapaan tuh cicilannya ?”
“Tergantung lamanya dan besarnya uang muka”
“Kalau kontrakan kalian sudah berapaan sebulan ?”
“Itu tahunan Nge, Kalau dibagi 12 rata-rata tujuh ratus ribuan lah sebulan”
“Sudah kuduga kamu pasti bisa”
“Maksudmu Nge ?”
“Ah…, nggak. Nanti aja kita lihat”. Sebenarnya suamiku penasaran dengan jawaban mertuaku tetapi seperti kataku tadi pengabdiannya terhadap ibunya terlalu membabi buta. Jadi dia diam aja walau kulihat wajahnya kecewa.

Di kantor pemasaran mau tak mau aku disibukkan dengan pemandangan foto-foto dan maket berbagai model rumah tinggal dari berbagai type. Alangkah bahagianya aku apabila dapat memiliki salah satu rumah di komplek ini walau type yang paling kecil sekalipun. Lingkungannya mak jauh dari kesan kumuh kayak kontrakan kami. Sementara mertuaku didampingi suamiku sibuk mengamati harga jual, besar uang muka dan besarnya cicilan perbulannya. Bolak balik mereka membanding-bandingkan uang muka dengan type rumah rumahnya dan kemampuan membayar cicilannya perbulan, aku sesekali mencuri pandang ke tabel tersbut dan menguping pembicaraan mereka. Bukankah tujuanku ikut serta hanya kepengen tahu saja?.

“Kalau type 36 terlalu kecil ya ?. Kamar tidurnya Cuma 2 lagi”
“Untuk keluarga kecil sudah cukup Nge, apalagi pengantin baru, belum juga punya anak”
“Kalau sudah punya anak kan perlu paling sedikit 3 kamar tidur. Apalagi kelak sudah simerbaju dan anak prana perlu kamar sendiri-sendiri. Pantasnya memang type 60 itu”
“Idealnya sih begitu Nge”
“Sekiranya kamu, bisa nggak bayar satu jutaan perbulan selam 15 tahun ?”
“Kalau nggak ngontrak rumah lagi. Ya pasti bisalah Nge, apalagi kami nggak perlu lagi ngirim ke Medan setiap bulan. Cuma uang mukanya dari mana Nge?”
“Begitu ?” wajah mertuaku berbinar bangga, “Mak Prana kesini sebentar”, katanya memanggilku.
“Iya namberru ?”, sahutku tak bersemangat. Keasikanku memandangi interior sebuah rumah terhenti tiba-tiba. Setengah hati aku melangkah mendekati mertuaku.
“Type enam puluh sudah pas ya buat kalian ?. Bagaimana pendapatmu ?”
Nafasku sesak tiba-tiba, debaran jantungku berpacu dengan keterkejutanku. Buat kalian, katanya, apa nggak salah ?, aku tidak percaya, apa aku sedang bermimpi ya ?. Kucoba mencubit lenganku. Aduh sakit….. berarti ini kenyataan, bukan mimpi di siang bolong. Lalu uangnya dari mana ?. Pipiku memerah, telingaku mendengung dan terasa hangat. Sekujur tubuhku terasa kaku tidak mampu kugerakkan sama sekali dan rasanya melayang di atas bumi. Tapi secara refleks aku mengangguk tanpa senyum.

Ibu mertuaku mengeluarkan tiga ikat uang merah pecahan ratusan ribu rupiah dan menyerahkan Rp. 150 juta sebagai DP. Mataku terbelalak, mungkin harus sepuluh tahun kami menabung untuk memperoleh uang sebanyak itu atau malahan lebih dari sepuluh tahun kali.
“Mak Prana…, sini KTP mu, rumah ini harus atas namamu jangan atas nama Pak Prana. Kalau Pak Prana macam-macam bisa kamu tendang dia dari rumah milikmu sendiri”, kata mertuaku berkelakar. Entah kenapa kali ini tawanya kulihat manis sekali. Gigi seri atasnya yang berwarna kuning bergoyang-goyang tidak lagi membuatku jijik dan benci.
“Nge…, darimana dapat uang sebanyak ini ?”, kata suamiku keheranan selagi menunggu surat-surat transaksi selesai. Suamiku juga masih surprise, sementara aku sibuk memilih lokasi di cluster mana paling cocok buat kami terutama yang dekat dengan sekolahan agar Prana tidak terlalu jauh dari rumah ke sekolah nantinya. “Ada investor dari Jepang membeli kebun kopi kita yang di uruk Cipako, khabarnya mau menanam Murbei. Emang luar biasa pembangunan di daerah kita setelah kita orang Pakpak menjadi satu kabupaten tersendiri, kabupaten Pakpak Bharat. Terus sebagian aku pinjam lagi dari Bank Perkreditan Pensiun, khan Sepeda motor adikmu sudah lunas kreditnya”.
“Lho….., kok ?”
“Ibu sudah tidak memerlukannya lagi. Tanggunganku sudah selesai. Adikmu sudah tamat dan sebenarnya dia sudah bekerja, tetapi karena masih training, masih masa percobaan kemarin kubilang belum bekerja dan sudah mau kawin pula. Jadi apalagi ?. Sekarang giliran kalian menikmati jerih payah bapakmu dulu, bukankah semuanya juga milikmu ?. Ibu sudah bau tanah, sudah pukul enam, sebentar lagi juga menyusul bapakmu. Tinggal kamu yang mengatur semua adik-adikmu”.
“Nge…..?! jangan ngomong begitu merinding bulu kudukku”.
“Kamu pikir harta itu kubawa mati?. Untuk apa itu ada kalau nggak bisa dinikmati ?. Semua tanggung jawabmu, artinya semua juga milikmu. Terserah kamu kelak bagaimana pengaturanmu terhadap adik-adikmu dan turang-turangmu. Tapi dari kecil aku yakin dan percaya sama kamu, sifat kebapakanmu sudah nampak dari kecil”.
“Nge….nange…, huk…huk..huk..”, suamiku menangis tersedu-sedu memeluk ibunya dan mencium pipi keriput itu berkali-kali. Beberapa karyawan Pemasaran terdiam sejenak berhenti bekerja dan termangu menyaksikan tangis suamiku dipelukan ibunya. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan suamiku, tetapi tangisan itu membuat hatiku tidak menentu. Kuberanikan menghampiri mereka dan mengatakan urusan sudah selesai sambil menunjukkan map berisi berkas-berkas rumah yang telah kutanda tangani. Lalu kamipun beranjak dari kantor Pemasaran tersebut dengan hening, hanyut dibawa perasaan masing-masing.

Didalam taksi yang meluncur dari kantor Pemasaran menuju Bandara Soekarno Hatta, perasaan bahagia justru terpancar dari wajah mertuaku ketimbang suamiku yang sedari naik taksi terdiam seribu bahasa. Ibu mertuaku seraya memangku Prana cucunya menyanyi dengan gembira “…kodeng nanggi…kodeng…kodeng..kodeng nanggi kodeng..ndepur angin ni delleng, kettang rame-ramen, kettang rame-ramen. Ndepur dagingmu mbellen kessa ulang kadeen, kessa ulang kadeen”. Prana ketawa gembira duduk menghadap mertuaku dipangkuannya sambil tangannya berjoget ria mengikuti irama lagu empungnya, walau Prana tidak mengerti apa isi syairnya tetapi pastilah ada kontak bathin diantara mereka. Aku ? perasaanku malah sangat galau, apalagi ibu mertuaku minta diantar langsung ke bandara tanpa singgah lagi ke rumah kontrakan kami alasannya takut terlambat check in. Melihat suamiku terus menerus termenung sepanjang jalan membuat perasaanku tidak tenang, tampaknya dia masih memikirkan kata-kata ibunya sedemikian dalam. Aku sendiri menyesali diri sepanjang perjalanan. Selama ini mertuaku kuanggap benalu, tetapi sekarang dia membelikan rumah buat kami atas namaku pula. Betapa besar dosaku selama ini. Kalau dihitung-hitung pengeluaran kami keseluruhan membantu adik iparku itu jauh lebih sedikit nilainya dari harga rumah yang dibelikan mertuaku, berarti selama ini kami hanya menabung saja dengan bunga yang berlipat ganda. Ya….Tuhan ampuni aku telah menjadi menantu yang durhaka terhadap mertuaku, berikan aku kesempatan menebus dosa-dosaku kepadanya dengan membuatnya bahagia selagi dia masih hidup. Tolong Tuhan berikan mertuaku kesehatan dan umur yang panjang, doaku dalam hati.

Di terminal keberangkatan aku peluk mertuaku seerat-eratnya. Kali ini aku yang mencium pipi mertuaku sepenuh hati segenap jiwa. Air mataku berurai membasahi pundaknya, membasahi sekujur tubuhnya dan membasahi segenap hatinya. Sungguh aku menyesal menaruh benci dan dendam selama ini, malah berniat mengusirnya. Ternyata kasih sayangnya dan tanggung jawabnya merata kepada anak-anaknya dan menantunya. Betul-betul ibu berhati mulia, berru ni raja rupanya mertuaku ini.

Kupandangi pesawat terbang itu seolah-olah memandangi wajah mertuaku hingga hilang dibalik awan. Rasanya aku malas beranjak pulang. Kutatap wajah anakku pulas tertidur dipelukan suamiku barangkali dia kecapekan main kodeng-kodengan dengan mertuaku. Suamiku sendiri memangkunya dengan tersenyum tetapi matanya masih berkaca-kaca. Kuambil sapu tanganku dan menghapus air matanya dan tanpa merasa jijik aku juga menyeka ingusnya yang telah membentuk angka sebelas diatas kumis tipisnya. Belum pernah kurasakan perpisahan sedemikian dalam dengan mertuaku malah rasanya lebih sedih kali ini ketimbang berpisah dulu dengan kedua orangtuaku saat mengikuti Pak Prana usai pesta pernikahan. Rasanya aku rela mertuaku tinggal di rumah kami selama-lamanya karena toh semua anaknya sudah menikah dan dia tidak ada tanggungan lagi, Biarlah kami yang menanggungnya selama hidupnya. (Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

iamy